Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

July 4, 2010

Jiwa yang Mati (brasa judul lagu)

Hati manusia itu bisa mati mendahuli tubuhnya (hmm...jadi inget zombie). Siapakah mereka yang mati hatinya? Dan bagaimana menghidupkan kembali jiwa yang mati?

Abis belajar mendengar, dan berbagi, baca selengkapnya

August 28, 2009

Bukan Musuh Kemanusiaan


Ramadhan tiba. Nggak kerasa udah hampir seminggu. Dan cepat atau lambat kita akan berpisah dengan Ramadhan. Sedih tentunya. Selamat berasik masyuk dengan Ramadhan kepada semuanya. Fokuskan lahir dan bathin untuk menjadi pribadi yang super, pribadi yang taqwa.
Postingan kali ini adalah rangkuman dari bahasan Ustad Muhammad Rusli Malik pada tanggal 27 May 2009 di pengajian LaTahzan.
Tak henti-hentinya memang, islam sebagai agama pembawa kedamaian dicoreng dengan tindakan pengrusakan, dan teror. Tak ayal, pandangan salah dunia luar tentang islam sebagai agama yang brutal pun seolah terbenarkan dengan adanya aksi bom bunuh diri yang mengatasnamakan islam. Sungguh kebetulan, Ustad Rusli telah membahas ayat-ayat dalam Al Quran yang ber -tema penting bahwa islam adalah agama kedamain (anti-terorisme) pada tanggal 27 May 2009, dimana selang beberapa minggu setelah itu (pertengahan Juli 2009), jakarta di teror dengan bom di dua hotel hampir bersamaan. Seolah, kebetulan ini membekali para kader LaTahzan, untuk tetap semangat memperjuangkan nilai-nilai luhur islam yang sebenarnya, yaitu kedamain, keadilan, dan menjunjung tinggi hakekat azasi kemanusiaan. Dengan adanya rangkuman ini, semoga para kader LaTahzan dapat kembali teringatkan. Atau pembaca secara umum, mungkin bisa mengambil sedikit pelajaran.


Di dalam agama islam, hukum-hukum yang berhubungan dengan perlindungan jiwa manusia dalam bermasyarakat ternyata diatur langsung dalam Al Quran. Sumber yang tidak ada keraguan di dalamnya. Sumber yang tidak ada pertentangan darinya, karena Allah SWT sendiri yang telah mengaturnya.
Maka ketika ada yang bertanya “Dasar apa yang bisa membuktikan bahwa tindakan terorisme itu bertentangan dengan islam?” maka sebagai muslim, yang tidak akan tinggal diam membiarkan citra islam dirusak, menjadi lebih dari keharusan untuk tahu, dan memberikan penerangan dengan bukti-bukti jelas, yaitu merujuk kepada Al Quran. Detail bisa di baca di blog LaTahzan atau lanjut di sini..klik

Jika anda tidak hapal ayatnya, setidaknya anda tau dimana mencarinya dalam Al Quran, yang insya Allah hampir semua muslim punya. Mari kita merujuk ke surah Al Maidah ayat 27 s.d 32. Akan lebih jelas, jika anda bisa membaca sendiri langsung dan mendalami ayat per ayat sampai dengan ayat 40 dari mushaf yang anda punya. Tapi untuk mempersingkat, maka saya akan coba rangkum.

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia (yang tidak diterima kurbannya) berkata, ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata (yang diterima kurbannya), ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau kamu menggerakan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam. Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuhku) dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka. Hal yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim. Hawa nafsu (yang tidak diterima kurbannya) menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah. Maka, jadilah ia sorang diantara orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (si pembunuh) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata (si pembuhuh), ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Karena itu, jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.” (Al Maa’idah:27-31)

Ini adalah ayat-ayat yang menceritakan tentang pembunuhan manusia yang pertama di muka bumi. Lebih dikenal dengan kisah “Qabil dan Habil”, anak-anak nabi Adam a.s. Dimana ini terjadi pada masa awal peradaban manusia, bahkan Allah mengajarkan langsung bagaimana menguburkan mayat dengan mengirimkan percontohan binatang (burung) yang menguburkan bangkai burung lainnya sesaat setelah burung itu mati.

Di sini jelas, ketakwaan Habil yang menjadikan kurbannya diterima Allah SWT, sementara kurban Qabil tidak diterima. Dan iri hati Qabil telah mengobarkan Hawa nafsu dia menjadi menang, bahkan menjadikannya mampu membunuh saudaranya sendiri. Jelas, betapa janganlah kita menganggap enteng tentang penyakit kecil iri hati, dan hawa nafsu kita sendiri. Hawa nafsu yang tidak terkontrol sangatlah berbahaya, bahkan bisa merenggut jiwa seorang yang taqwa sekalipun.
(Syukur Alhamdulillah, Allah SWT memberi kita petunjuk untuk bagaimana kita bisa berlatih mengontrol hawa nafsu kita, yaitu salah satunya dengan berpuasa, tentunya dengan tujuan akhir takwa).

Adalah Habil (yang terbunuh), pribadi yang takwa, sedemikian kurbannya juga diterima. Disini dikisahkan, ketika Qabil mengancam akan membunuhnya, Habil berkata “aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”
Di sini Habil, memilih untuk bersabar dan berserah diri kepada Allah SWT, zat yang menghidupkan dan mematikan, dia takut hanya kepada Allah SWT, dia tidak main hakim sendiri (padahal melakukan pembelaan diri itu boleh, tapi sabar tentu lebih baik, Habil tidak takut akan ancaman, dia malah menjawab dengan hati penuh kelembutan). Karena meski pada akhirnya Qabil berhasil merenggut jiwa Habil, tapi justru Qabil yang merugi, karena dia membiarkan hawa nafsu nya menguasai, dan berbuat zalim.

Dari ayat di atas, bisa dilihat bahwa Allah mengutuk pembunuhan, dan sebaliknya dilukiskan contoh indah pribadi yang penuh ketenangan, kecintaan akan kedamaian, dan ketakwaan bahkan pada saat-saat genting sekalipun. Itulah, pribadi takwa yang diharapkan dimiliki setiap muslim. Memiliki perkataan yang dapat meredakan dendam, memadamkan kedengkian, meredakan keinginan jahat. Tapi meski demikian, saudara yang saleh ini memberikan peringatan “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuhku) dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka. Hal yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim” (Al Maa’idah: 29)

Berikutnya, dalam Al Maa’idah ayat 32, Allah SWT lebih menegaskan tentang hukum kemanusiaan ini.
“Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan, barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Kemudia banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi” (Al Maa’idah:32)

Meski redaksinya ditujukkan kepada Bani Israil (saat itu), tapi tentu nilainya tetap dan berlaku umum. Di sini lebih jelas ditekankan, betapa pembunuhan apa pun, diluar putusan pengadilan (qisas) adalah dosa yang sangat besar. Disini pembunuhan yang dimaksud (bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi) adalah pembunuhan selain qisas (keputusan pengadilan qisasa atas kasus pembunuhan atau qisas sebagai akibat berbuat kerusakan). Dimana membunuh satu jiwa, sama dengan membunuh manusia seluruhnya. Kenapa? Karena hak hidup itu adalah hak semua manusia, hak bersama yang dimiliki semua orang, maka pembunuhan berarti pelanggaran terhadap hak hidup itu sendiri. Membunuh satu orang, sama saja dengan membunuh seluruh manusia.

Dari ayat ini, dapat dilihat tidak ada yang sangat menghormati nyawa manusia selain orang islam. Maka tidak dibenarkan orang melakukan tindakan terorisme (memakai bom di tubuhnya untuk membunuh orang lain dengan alasan apa pun).
Begitu juga sebaliknya, « Dan siapa yang menghidupkan/menyelamatkan satu jiwa/kerusakan (seperti green peace act, menolong orang-orang tak mampu dll) maka seakan-akan menyelamatkan manusia seluruhnya. »
Disini dikatakan kalo menyelamatkan nyawa satu orang, pahala nya sama dengan menyelamatkan orang seluruhnya, apa alasannya?
Karena agama datang benar-benar untuk menyelamatkan manusia, tidak datang untuk saling mendendam, saling menyakiti. Agama datang untuk menghilangkan itu semuanya, makanya disini benar-benar tegas ditekankan bahwa membunuh satu orang sama dengan membunuh semuanya, dan menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan semuanya. Kenapa demikian?

Lihat Al Baqoroh 213 ; kaanannasu ummatan wahidatan karena manusia itu adalah umat yang satu, yang berbeda-beda itu hanya namanya saja, tapi hakekat kemanusiaan adalah satu. Dan karena umat yang satu, Allah membangkitkan nabi-nabi untuk mempertahankan kesatuan itu. Jadi agama islam itu memang agama kedamaian.

Kalau ada kelompok (yang mengaku islam) yang kerjaannya memfitnah, membunuh, mengajak orang menghancurkan orang lain, dan lantas mengatasnamakan islam, itu jelas-jelas bukan islam.

Lebih lanjut di jelaskan « ..Allah kemudian membangkitkan nabi-nabi pemberi kabar gembira (kalo bersatu dan berbuat kebaikan), peringatan (kalo berpecah belah dan berbuat kerusakan; neraka) maka kemudian allah menurunkan kepada manusia kitab suci yang berisi kebenaran supaya dijadikan hukum untuk menegakkan keadilan di tengah2 manusia atas apa yang diperselisihkan... »

Untuk apa perlu ada hukum? biar tidak saling fitnah. Kalau ada hukum, ada keragu-raguan akan tindakan tidak adil, sebaiknya dilaporkan saja ke pengadilan dan biarkan di selesaikan di pengadilan, jangan lantas bermain hakim sendiri, merusak dengan berdemo sambil membakar kantor-kantor dan merusak rumah-rumah. Tindakan demikian, jelas-jelas bertentangan dengan apa yang Allah SWT telah turunkan dalam Al Qur’an.

Sekali lagi, dari ayat di atas kita bisa simpulkan, betapa islam itu adalah pembawa kedamaian, dan sangat menentang tindakan-tindakan pengrusakan, baik itu pengrusakan alam ataupun pengurasakan terhadap hak-hak hakekat kemanusian.

Marilah kita, senantiasa lebih rajin lagi mempelajari Al Quran. Karena sungguh, nilai-nilainya berbicara, dan terbukti dengan sendirinya saat ini, padahal ia diturunkan lebih dari 1400 taun yang lalu. Adalah kerugian, jika kita tidak mempelajarinya, karena hanya dengan berpegang kepada Al Quran lah kita akan mampu mendapatkan kemenangan di dunia dan juga di akhirat.

Selamat mengisi puasa anda. Selamat berusaha menjadi pribadi yang super. Pribadi yang taqwa.
Jika ada kesalahan, kemungkinan besar datangnya dari saya, yang merangkum. Semoga bermanfaat....


Sumber
1. Muhammad Rusli Malik, Rekaman Pengajian LaTahzan, Jakarta, 27 May 2009
2. Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an Jilid 3 (Surah An-Nisaa’71-Pengantar Surah Al An’aam), Gema Insani, Jakarta, 2002

Salam, Elin

May 8, 2008

SEPUTAR FALSAFAH KENABIAN

(dirangkum dari Kajian Rhaudah, Ustad Bagir, 04/05/2008)

Apa sih hakikat wahyu yang diturunkan kepada Nabi?
Apakah hakikat wahyu? Wahyu berasal dari Tuhan yang diturunkan kepada Nabi berisi tentang hakikat-hakikat ke-Tuhan-an (devine realities / al haqoik illahiyyah) dan hal-hal yang mengutuhkan eksistensi manusia. Oleh karena itu, kehadiran Nabi di dunia menjadi wajib adanya (the necessity of prophethood), sebagai bentuk ke-maha adilan-Nya. Karena tanpa ada hal ini manusia tidak bisa hidup dan eksis secara total sebagai manusia sesungguhnya (kebutuhan primer manusia).

Bagaimana sih wahyu diturunkan?
Nabi menerima wahyu secara spiritual ke dalam qalbu-nya (wa nazala fihi ruhul amin ‘ala qalbika), sedemikian devine realities ini (hakikat-hakikat illahiyyah) ini dimanifestasikan/di’tajalli’kan dalam level ruhani bukan physical. Oleh karena itu, manusia lain tidak dapat mengetahui atau mendeteksi proses turunnya wahyu tersebut, karena qalbu bersifat sangat pribadi.

Bagaimana cara meng-identifikasi Nabi / penerima wahyu?
Salah satu cara untuk membuktikan kenabian seseorang itu adalah mukjizat (fauqul ‘adah). Pertanyaan berikutnya adalah apakah hakikat mukjizat itu? Fauq (diatas/beyond) al ‘adah (kebiasaan). Jadi secara literal mukjizat adalah sesuatu yang diluar kebiasaan. Muncul lagi pertanyaan, apakah yang dimaksud dengan biasa? Bagaimankah konsep diluar kebiasaan ini sebenarnya agar bisa didefinisikan sebagai mukjizat. Nabi Sholeh mukjizatnya ‘unta keluar dari batu’, itu adalah salah satu contoh fauqul ‘adah. Dalam teologi fauqul ‘adah itu:
1- No precedent (sebelumnya tidak ada orang yang pernah melakukan hal itu/ke belakang).
2- No repetition (di masa depan tidak akan ada orang yang melakukan hal yang sama/ tidak terulang).
3- No learning process (tidak ada proses belajar, tidak bisa dipelajari).

Jadi secara singkat, mukjizat adalah hal-hal yang diluar kebiasaan, belum pernah ada yang melakukannya dan tidak akan ada yang mampu mengulangi serta tanpa proses relajar. Contoh mukjizat Nabi Muhammad Saw adalah Al Qur’an, membelah saqul qamar (bulan); bisa dibuktikan bahwa dua-duanya adalah mukjizat. Dua hal tersebut tidak pernah ada yang melakukannya, tidak akan terulang dan tanpa melalui proses belajar.

Lebih jelas lagi tentang mukjizat?
Secara jenis, mukjizat terbagi dua:
1- Mukjizat qauli (transmitif, ilmiah); Contohnya Al Qur’an. Bahasanya yang sangat istimewa. Sebagian ada yang menyebut bahwa yang menyebabkan Al Qur’an dikatakan sebagai mukjizat adalah karena Tuhan berbicara dalam bahasa manusia (pembicaraan Tuhan dalam bahasa manusia). Mukjizat qauli adalah bukti untuk orang-orang intelektual (karena orang intelektual tidak gampang di permainkan dengan hal-hal bersifat luar biasa dari segi perbuatan).
2- Mukjizat fi’li (perbuatan yang dilakukan); seperti mukjizatnya Nabi Sholeh dimana unta keluar dari batu, Nabi Musa dimana lautan terbelah. Nabi Muhammad Saw yang membelah bulan. Ini adalah bukti untuk orang-orang awam. Terjadinya sekali, sekedar untuk membuktikan kenabian beliau. Nabi tidak menginginkan seseorang beriman hanya karena melihat hal yang luar biasa saja.

Bagaimana sikap kita jika ada orang yang mengaku sebagai Nabi?
Jadi jika ada seseorang mengaku sebagai Nabi kita tinggal tanya dia untuk membuktikan mukjizat fi’li dan qauli-nya. Pada zaman Nabi banyak yang mengaku sebagai Nabi. Ada diantaranya seorang yang mengaku sebagai Nabi, kemudian Nabi Muhammad Saw meminta dia untuk menunjukkan mukjizat fi’li nya dengan menaikkan permukaan air sungai. Tapi ternyata dia tidak mampu, yang ada malah permukaan air sungainya turun. Nabi pada saat itu tidak berbuat apa-apa lagi, karena terbukti dengan sendirinya kalau dia bukanlah Nabi. Tapi Nabi tidak pernah menyatakan bahwa “darahnya halal” karena itu, atau rumahnya boleh dirusak (seperti yang dilakukan segelintir orang atau golongan di negeri ini). Nabi tidak pernah mengajarkan kita untuk agresif, karena menentukan kebenaran itu tidak boleh agresif. Karena apa? Karena ada ‘lakum di nukum waliyadin’. Tidak mungkin ada ayat ini jika kita dituntut untuk agresif. Sekali lagi islam itu rahmatan lil’alamin, tidak mengenal sikap agresif dan main hakim sendiri.

April 2, 2008

Kebahagiaan adalah fitrah manusia

[dirangkum dari ceramah-ceramah Ustad Rusli Malik di Mabit-4]
Mari dimulai dengan mengenali kebahagiaan itu sendiri. Yang saya tangkap adalah bukan secara gramatikal atau leksikal, tapi lebih ke makna filosofis dengan perunutan atas essensialitas karakteristik khas dari ”kebahagiaan” itu sendiri. Karena keliatannya hanya dengan pendekatan itulah, kita akan lebih mampu mencapai kesepakatan arti dan kesejajaran pendapat dalam pemahaman kata ”kebahagiaan”.

Kenapa pula kita repot-repot ingin bahagia? Tidak perlu lah bahagia asalkan hidup saja sudah cukup?

Kalo anda setuju atau mendukung jalanya pertanyaan diatas, maka anda termasuk yang perlu waspada. Tapi jika anda menjawab sebaliknya, maka anda normal. Jelas, saya kira tidak bisa dipungkiri, bahwa siapa pun anda, berasal dari mana pun anda, berkulit apa pun anda, tanpa melihat sisi history dan pengaruh budaya apa pun yang melekat ke anda, anda ingin bahagia. Karena apa? Karena itulah yang disebut fitrah. Ada dalam diri manusia dengan sendirinya. Hal paling mendasar yang pasti ada, dan tidak mungkin tidak ada di setiap jiwa yang berakal dan baligh.

Berangkat dari pemahaman kita bahwa kebahagian itu adalah fitrah, maka menjadi sangat mendasar untuk kita (manusia) bila berkeinginan untuk memiliki bentuk kebahagiaan itu. Lantas semudah itukah kita bisa bahagia? Apakah kita bisa memiliki kebahagiaan itu?

Kebahagiaan vs Kesenangan
Bagi yang menjawab, “ya saya sudah bahagia” maka beruntunglah anda, saya ikut bersyukur, tapi jika kemudian jika ada yang menjawab “kadang bahagia, kadang tidak”, maka kembali harus coba di verifikasi bagaimana anda mendifinisikan kebahagiaan itu, jangan-jangan yang anda rasakan itu adalah “kesenangan”, karakteristik lahiriah yang nyana nya meng-kamuflage kebagahagiaan hakiki. Karena apa? karena ketika anda memiliki sesuatu yang hakiki (kebahagiaan=hakiki), maka itu harus bersifat konsisten. Kembali, karena itu sesuai dengan fitrah anda, maka seharusnya tidak ada unsur “kadang”, dan islam menunjukkan itu. Bagaimana caranya anda mencapai fitrah anda untuk berbahagia.

Lantas apa itu kesenangan? Bagaimana membedakannya dengan kebahagiaan?
1- Kesenengan itu bersifat temporary/insidental (oleh karenanya mungkin anda merasakan ”kadang senang kadang tidak”), karena itu bergantung pada kejadian/hal yang membuat anda senang.
2- Kesenangan itu bersifat lahariah atau materiil; kecenderungan nya dirasakan ketika bersinggungan dengan kemampuan melewati proses lahiriah, atau pencapaian target lahiriah.
3- Kesenganan vs kecewa (jika tidak mendapatkannya).

Merunut dan mengevaluasi kita (manusia) bahwasanya, adanya kita dan eksistensi kita itu yang paling mendasar adalah dengan adanya JIWA. Ingat bahwa jiwa itulah yang nantinya akan dinilai raport baik buruknya oleh sang khalik, maha pencipta, dan kreator sejati jiwa dan pelengkapnya.
1- Dan jiwa itu bersifat immaterial. Karena sifat immaterial nya itu, maka kebahagiaan hakiki itu harus sejalan dengan jiwa itu sendiri. Oleh karenanya, kebagaiaan itu tidak bersifat materiil.
2- Dan seiring dengan jiwa itu sendiri (kekal?) maka jika kita bisa mendapatkan kebahagiaan, maka itu harus bersifat kekal, konsisten.
3- Uniknya karena itu tidak ada lagi itu unsur “kecewa”.

Lebih jauh tentang kebahagiaan
Karena kebahagiaan itu bersifat non materi, maka lantas bagaimana kita mencapai kebagaiaan itu sendiri? Secara logis, maka kita harus bergerak ke arah yang tertinggi dari non-materi itu sendiri, yaitu Allah SWT. Jadi, sesederhana itukah?









March 12, 2008

Pertanyaan tentang Adam

Lagi-lagi, saya bukan akan menjadi penulis tentang manusia sebagai pengelola alam tetapi lebih ke menceritakan kembali sebuah pengalaman. Sebuah diskusi di antara para pemikir yang mungkin tidak akan berujung pada sebuah kesimpulan. Tapi kenapa tidak karena banyak sisi menariknya yang mungkin saying untuk dilewatkan. Menariknya justru karena pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan saya kira cukup mewakili pertanyaan-pertanyaan saya pribadi yang selama ini terpendam dan juga saya kira cukup mewakili pertanyaan-pertanyaan yang acap kali muncul di tengah-tengah masyarakat pada umumnya.

http://www.parapemikir.com/articles/6470/1/Manusia-Pengelola-Alam-Semesta/Page1.html

Jika anda cukup penasaran dengan sumber yang menjadi bahan diskusi, silahkan click link di atas. Sebuah tulisan dan argument yang teralur baik dari seorang teman yang bernama Sugeng. Hmm…sebenarnya saya selalu menghindari penulisan nama-nama asli diblog saya, tapi karena toh ini di publish oleh yang bersangkutan (dan parapemikir.com) dengan nama asli, jadi maafkan saya Sugeng kalo saya ikut mentenarkan nama-mu.

Tulisan sugeng, kalo anda baca mau tidak mau membawa kita ke sebuah diskusi tentang asal usul manusia, yaitu Nabiyullah Adam AS. Dan rujukan kita dalam hal ini adalah Al Qur’an. Diskusi pertama yang muncul setelah sugeng memaparkan tulisan beliau adalah seputar Al Baqarah ayat 30. Yang terjemahan bebasnya kurang lebih seperti ini

“Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat, ‘sesungguhnya Aku hendak menjadikan seoarang khalifah di muka bumi’. Mereka (malaikat) berkata,’Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan engkau?’ Tuhan berfirman,’Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.

Mari sedikit merangkum apa yang dikatakan sugeng. Kenapa manusia di pilih sebagai khalifah? karena manusia memiliki potensi untuk itu. Potensi apakah yang dimiliki manusia sedemikian melebihi potensi malaikat yang ma’sum? Yaitu akal. Manusia pada unsur dasarnya adalah binatang. Tapi ketika ditiupkan ruh Allah ke dalamnya, dia menjadi mulia. Dalam konsep yang sama, karena di dalam diri tiap manusia terdapat ruh Allah itulah seluruh makhluk di perintahkan Allah swt untuk bersujud kepada manusia. Malaikat pun ikut bersujud (ingat bahwa dia adalah makhluk yang patuh), tapi iblis sebagai yang sombong dan takabur mengungkit-ungkit asal usul terbuatnya manusia, dan menganggap bahwa dirinya lebih mulia dibanding unsur dasar manusia, sedemikian iblis tidak mau bersujud kepada manusia. Keengganan dan ketidakmauan iblis ini (atas kesombongannya) membuat mereka melanggar perintah Allah, mereka enggan bersujud kepada manusia, sedemikian dia (iblis) dijanjikan neraka sebagai hakikat tempat nya.

Kembali bahwa manusia memiliki potensi melebihi malaikat dalam tingkatan paling tingginya, sedemikian derajat nya bisa lebih mulia dibandingkan para malaikat. Karena apa, sekali lagi karena akal yang dimilikinya. Akal ini membuatnya mampu berpikir, dan secara transenden dalam ke-tauhid-annya kepada Allah swt dapat mencapai level seperti para Rasul, Nabi, sahabat dan para wali Allah swt, mulia dan suci.
Tapi di lain pihak manusia pun dapat terjerat oleh belenggu hawa nafsu sedemikian derajatnya jatuh ke tempat terendah seperti Firaun dalam ke zalim annya.

Pertanyaan pertama – Bagaimana malaikat bisa tahu, bahwasannya manusia itu akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi? Padahal tidak ada manusia sebelumnya di muka bumi ini.

Pertanyaan kedua – Benarkah Adam adalah manusia pertama di muka bumi? Jika benar, bagaimana mungkin malaikat bertanya seolah-olah dia sudah pernah melihat manusia hidup di muka bumi

Pertanyaan ketiga – Jika Adam bukanlah manusia pertama, mungkinkah ada manusia sebelumnya di muka bumi tetapi belum memiliki tingkat pengetahuan seperti halnya Adam. Singkat kata, apakah konsep EVOLUSI itu berlaku?

Pertanyaan keempat – Jika Adam diciptakan ke bumi sebagai Khalifah, lantas kenapa dalam sejarahnya Adam justru digelincirkan (diturunkan) ke bumi dari syurga (yang hakikatnya lebih tinggi derajatnya dibandingkan bumi)? Kenapa justru yang akan menjadi khalifah itu adalah golongan seperti Adam yang diturunkannya saja dalam keadaan tergelincir ke muka bumi?

Begitualah singkatnya pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari parapemikir yang hadir saat itu. Sebetulnya mungkin lebih banyak pertanyaan-nya tapi saya tidak mampu mengingat dengan jelas satu per satu dari pertanyaan mereka, tapi kurang lebih ada empat pokok yang mejadi alur lanjut pembahasan yang dibawakan oleh Sugeng.

Untuk menjawab pertanyaan itu, sedikitnya ada tiga bagian dari Al Qur’an yang harus kita rujuk.
1- Al Baqoroh (2) ayat 30 dst
2- Al Hijr (15) ayat 28 dst
3- Shaad (38) ayat 72 dst

Mari kita baca dulu chapter2 di atas dan kita cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

February 29, 2008

LaTahzan, Jihad dan Sabar

Ada yang menarik dari pembahasan ustad Rusli Malik di hari Rabu kemarin yang membuat saya mau nggak mau harus merangkum agar kembali teringat apa yang telah diutarakan beliau. Dimulai dengan Ali Imron ayat 139 dimana diingatkan untuk “janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang –orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang beriman”. Ini adalah salah satu ayat yang menginspirasi kenapa nama pengajian kita adalah LaTahzan. Simply karena kita ingin anak-anak pengajian tidak ada yang bersedih, senantiasa selalu termotivasi untuk meningkatkan iman. Dengan gurauan-nya ustad mengingatkan alangkah baiknya jika minimal kita hapal ayat ini sebagai pengingat dan sumber inspirasi agar kita tidak pernah bersedih.

Ali Imron 140. jika kamu mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun mendapat luka. Dan masa (kemenangan dan kekalahan) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang –orang yang zalim.
Ali Imron 141. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.

Di sini diterangkan bahwasannya dalam berperang (Uhud) berlaku hal yang sewajarnya. Bukan hanya para sahabat nabi bahkan Nabi sekalipun dalam perang khandak itu terluka (tanggal gigi depannya) karena saking hebatnya peperangan itu sendiri. Dalam hal ini patut ditarik pelajaran bahwa tak selama nya peperangan yang dipimpin oleh Nabi sekalipun selamanya menang. Ingat lho, perang yang dipimpin oleh Nabi sekalipun, seorang Rasul tak selamanya menang, apalagi kita...mmm jadi berpikir, siapakah kita? sejauh mana perang kita sudah dilakukan dan sejauh mana usaha kita memenangkan perang ini.


Dan secara lebih luas lagi, kepemimpinan di dunia pun silih berganti, dahulu persia, kemudian romawi, kemudian islam, kemudian eropa, kemudian sekarang amerika yang menguasai. Bahwa umat islam tidak bisa berpangku tangan hanya dalam keislamannya agar bisa bangkit dan mendominasi peradaban, tapi di butuhkan usaha, layaknya bangsa-bangsa yang maju pada zaman-zaman nya masing-masing, mereka melakukan usaha-usaha dan penguasaan dalam beberapa bidang termasuk iptek kalo kita lihat dari dominasi Amerika Serikat sekarang ini. Di ayat ini Allah juga menjelaskan bahwa dengan seruah berperang itu, bisa dilihat mereka yang sungguh2 ingin menjadi syuhada dan yang hanya sebatas berbicara saja, karena kenyataannya pada zaman Rasulullah juga banyak kalangan-kalangan yang tidak bisa dipercaya, hanya menguar-nguar janji saja.

Ali Imron 142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.
Ali Imron 143. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya.

Salahsatu kunci surga adalah berjihad dan bersabar. Dua hal yang sepertinya banyak diulang-diulang di lain ayat/kesempatan. Sepertinya mudah tapi pada kenyataannya banyak sekali dari kita yang mudah menyerah dalam bersungguh-sungguh dan kurang bersabar. Tapi sekali lagi, kita patut bersyukur bahwasannya Allah memberikan petunjuk agar kita berjihad dan bersabar. Karena dua hal ini bukan saja kunci surga tapi juga kunci keberhasilan dalam setiap usaha yang kita lakukan, jika kita senantiasa bersungguh-sungguh, berencana dan disiplin (berjihad) dalam komitmen serta sabar maka sangat jarang kita berujung pada kegagalan melainkan keberhasilan. Pada ayat berikutnya di peruntukkan untuk para pemuda yang seperti telah dijelaskan sebelumnya, banyak yang berjanji perang dan ingin syahid membela islam di jalan Allah, mereka benar-benar membaktikan hidupnya untuk kejayaan islam.

Ali Imron 144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. Rasul-rasul sebelumnya telah wafat. Ada yang wafat karena terbunuh ada pula yang karena sakit biasa. Karena itu Nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. Di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. Berita ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada Abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). Sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau Nabi Muhammad itu seorang Nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad). Abu Bakar r.a. mengemukakan ayat ini di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat di hari wafatnya Nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan Nabi itu. (Sahih Bukhari bab Ketakwaan Sahabat).

Perlu diketahui bahwa sannya meski Nabi Muhammad SAW hidup pada zaman itu, banyak sekali yang hanya beriman pada Rasulullah, bukan pada risalah yang di bawa nya. Kita pada zaman sekarang tidak dapat melihat rasulullah tapi percaya akan apa yang beliau ajarkan. Ada juga kelompok2 yang sangat lemah imannya sedemikian ketika mendengar Nabi wafat (padahal tidak benar) mereka langsung berpaling dan yang lebih lemah lagi........mereka kadang banyak yang berpaling meskipun saat itu Nabi hidup di tengah-tengah mereka, dan memberikan pelajaran. Lihatlah apa yang di ungkapkan di surat Al Jumuah ayat 11. (jadi ingat kerumunan pedagang-pedagang di hari jum’at di depan-depan mesjid).


َإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: "Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.

-------DISINI ustad rusli kembali mengingatkan beliau sendiri, bahwa sannya pada zaman itu, Nabi saja seorang Rasul yang kita cintai banyak yang melalaikan dan tidak menghiraukan, maka Ustad Rusli sudah sangat bersyukur jika saja pengajian LaTahzan itu tetap berjalan, berapa pun jumlah orangnya beliau sudah bersyukur masih bisa berjalan. Makanya beliau mengingatkan, bahwa berapa pun calon peserta mabit berikutnya, beliau akan tetap berkomitmen untuk melaksanakannya...hmm...jadi terharu sama niat baik dan kezuhud-an beliau mensupport kita semua. padahal di lain pihak, saya sendiri sering bermalas-malasan untuk datang ke pengajian...sedih.


Ali Imron 145. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Disini kembali diungkapkan bahwa, Allah memberikan kebebasan dalam berusaha. Bagi mereka yang mengharapkan dunia atau akhirat pasti ada jalan dan petunjuk yang diberikan, maka sudah tentu selama mereka mengikuti petunjuk tersebut serta merta apa yang mereka usahakan akan di dapatkan. Dalam ayat lain juga di jelaskan agar mencari dunia dan akhirat secara seimbang karena islam itu menyukai pertengahan, bukan berlebih-lebihan seperti halnya doa yang akan diungkapkan dua ayat berikutnya.

146. Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.

147. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

February 24, 2008

Berkenalan dengan Filsafat

Sesekali Alex berdiri dan menulis di whiteboard beberapa istilah seperti eksistensi dan esensi dan dari situ dia bergerak lagi dengan semangatnya menerangankan berbagai klasifikasi dari eksistensi itu sendiri. Dalam semangat-nya terlihat jelas bahwa Alex adalah pembelajar sejati. Bukan, aku berani bilang kalau dia bukanlah seorang filsuf atau mungkin bisa di bilang belum, dan juga bukan seorang mantiqyun. Tapi dia memang pembelajar sejati. Saya sangat cukup kagum bahwa dari orang seperti dia bisa keluar sebuah argument tentang prolog filsafat. Dia menyuguhkan suatu wacana yang banyak orang tidak mau menyentuhnya. Bukan karena dianggap rumit dan tidak bisa dicapai dengan mudah secara akali tapi stigma dan paradigma orang menganggap bahwa filsafat adalah kuno dan sudah lama ditinggalkan. Lebih terkagum lagi, Alex memberikan wacana tentang pentingnya mengetahui filsafat ini di depan sekitar sekelompok orang seperti kami. Kami yang beragam. Kami yang saat itu berada di dalam satu ruangan hanya berdasarkan atas satu dasar pemikiran teolog yang sama, tapi memiliki pandangan dan tujuan berbeda-beda. Apakah kami teologist atau teolog sejati itu masih harus dibuktikan, tapi yang jelas dimana titik temu tentang teolog dan filsafat agak-agak akan susah diterangkan.

Apakah gelombang air laut itu ada? Itulah yang menjadi topik utama yang awalnya diangkat oleh Alex. Secara logika jawaban dari pertanyaan itu hanya ada dua, ada dan tidak ada. Tapi lantas alasan dan ilmu yang mencukupi lah yang akan mendasari jawaban ada dan tidaknya gelombang air laut itulah yang bakalan di perdebatkan. Alex menanyai kami satu demi satu tentang ada dan tidak nya. Sebagian besar menjawab ada, karena memang toh bisa dilihat dengan mata kepala bahwa gelombang air laut itu terlihat dengan jelas bergulung-gulung dan secara físika pun membuktikan bahwa dia adalah salah satu bentuk energy. Tapi lantas apakah dia selalu ada? Disemua tempat dan di setiap saat? Aku yang sangat-sangat awam dan sudah sangat di jejali oleh ilmu-ilmu dasar físika tanpa pemahaman logika yang kuat, menjawab bahwa gelombang air laut sebagai sebuah energi berarti kekal adanya, energi itu sifatnya hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Tapi pertanyaan berikutnya ketika gelombang itu berubah menjadi bentuk energi lain, lantas kita bisakah kita menyimpulkan bahwa gelombang itu masih ada? Hmm….sulit jira kita berhenti di situ saja. Karena memang ada dimensi lain misalnya waktu, yang juga harus diperhitungkan. Aku menjawab, gelombang laut disatu tempat bisa menjadi ada tapi setelah itu bisa berubah ke bentuk energy lain jika ada penyebab yang membuat dia berubah, misalnya energy angin, gaya tarik bulan, atau energy besar yang menghambat lainnya. Pertanyaan tidak berhenti sampai di dimensi waktu sebagai pembatas, dia bertanya bisakah kita menyebut bahwa gelombang laut itu ada jika ternyata Tuhan tidak menciptakan bumi? Bisakah kita menyembut gelombang laut itu ada jika ternyata Tuhan tidak menciptakan media apa pun (air) untuk gelombang itu merambat? Bisakah kita menyebut gelombang laut itu ada jika misalnya saat itu Belem ada pengetahuan tentang gelombang/fisika sama sekal.

Ternyata memang itulah yang dinginkan Alex, bahwa akan terjadi banyak pertanyaan dan pengklasifikasian atas jawabannya. Berikut aku mengkutif apa yang dia ungkapkan meski tak sepenuhnya aku mengerti. Bahwasan-nya eksistensi itu, atau ke-ada-an suatu objek bisa di bagi ke dalam species seperti seperti realitas objektif vs realitas mental, realitas keniscayaan vs kemungkinan, realitas baru vs lama, realitas yang tetap vs yang berubah, realitas tunggal vs berbilang, realitas potensial vs aktual, dan realitas substansi vs aksiden. Intinya inilah pembahasan filsafat, tentang eksistensi dan esensi suatu hal.

Ada satu jawaban dari seorang yang cukup membuat-ku juga kagum, sebutlah Nurul. Dia bilang bahwa sebenarnya tidaklah kita susah-susah membagi-bagi dan bertanya-tanya serta merunut secara detail toh semuanya sudah dijelaskan dalam Al Qur’an. Bahwa sanya baik itu gelombang, apa pun itu halnya selama dia adalah bukan Tuhan / Allah berarti dia mahluk. Dan mahluk itu sifatnya FANA karena KEKAL itu hanya sifat wajib TUHAN. Oleh karena itu, keberadaannya atau eskistensi sebuah gelombang jelaslah fana atau tidak ada, karena yang ada itu hanya TUHAN.

mmm…kembali ini, pemikiran logis dari seorang mantiqyun sejati seperti Nurul yang mematahkan perbincangan Alex tentang eksistensialitas sebuah hal. Aku sepenuhnya setuju dengan Nurul, tapi lantas pemikiran2 Alex pun diperlukan di dunia ini, karena inilah sebenarnya batasan ruang lingkup hidup kita. Dimana di dunia kita berkewajiban menjadi seorang khalifah yang mampu memproyeksi berbagai potensi menjadi sebuah realitas ilmu atau rekayasa dan inovasi. Pemikiran-pemikiran Alex tentang eksistensi dan esensi hanya dalam satu jam saja telah mengingatkan-ku kembali akan sebuah ilmu dasar físika. Jika saja hal ini dijadikan kebiasaan, maka bukan tidak mungkin pola pikir kritis akan terbentuk. Inilah kupikir yang diperlukan agar manusia tetap bisa tumbuh dalam potensi-nya, sebuah pola pikir kritis dan kebiasaan mempertanyakan dan mencari jawaban atas berbagai hal.

Terima kasih Alex dan Nurul. Dari satu hari saja..

February 12, 2008

Permasalahan keluarga dan kaitannya dengan puasa

by Ustad Rusli Malik

Permasalahan paling mendasar yang biasanya menjadi sumber ketidak harmonisan keluarga adalah seputar “perut dan di bawah perut”, yang sepertinya sudah menjadi barang jelas tanpa perlu didefinisikan ulang lagi. Meskipun biasanya ada pemicu-pemicu lain, tapi ketika di runut, hal yang paling mendasar yang menjadi inti permasalahan timbulnya ketidak-harmonisan rumah tangga adalah seputar “perut dan dibawah perut”. Apa sih “perut dan dibawah perut” itu? Saya asumsikan anda mengerti.

Sedikit hal dan fakta tentang ke-berkeluarga-an dalam islam

Sebenarnya penjelasan dan fakta yang disampaikan oleh ustad cukup banyak, tapi setidaknya yang terekam dalam kepala saya adalah seperti ini:
Stabilitas keluarga itu penting. Sebagai wadah pendidikan anak, dirasa tidak akan berhasil membentuk pribadi anak yang soleh dan solehah jika tidak ada ketenangan di dalamnya. Satu point juga bahwasannya di dalam Al Qur’an hampir semua riwayat Nabi dan Rasul selalu dilengkapi dengan hal tentang keluarga-keluarga mereka. Nabi Adam a.s dengan Ibu Hawa, Nabi Ibrahim a.s dengan Hajar dst -> supaya tentunya kita bisa mengambil pelajaran dan petunjuk dalam membina keluarga kita. Hal yang perlu diingat bahwa fakta-fakta keluarga para nabi tidak selalu dalam track record bagus, ada juga yang tidak, dan hal ini sesuai dengan polemik yang ada (terlepas dari kurun waktu), oleh karena itu Allah swt banyak sekali memberi petunjuk dalam Al Qur’an melalui sejarah para Nabi dan keluarga nya.

Dan saking pentingnya pula tata cara berkeluarga ini dijelaskan dalam ayat-ayat Al Qur’an sangat detail: dari mulai memilih pasangan (budak islam lebih baik dari pemuda/i merdeka, kaya, berstatus sosial tinggi dan menarik hati), hal tentang menikahnya sendiri, hal tentang warisan, sampai hal tentang talaq dan hal-ikhwal mengatur urusan rumah tangga dalam berbagai kondisi disebutkan dalam Al Qur’an (simak An Nisa: 4, 23, 24, 25, Luqman:14, Al Ahqaf:15, Ali Imran: 14, Al-Hujarat:13, Al Baqarah:187, 221, 223, 236, An Nur: 3, 26 dan seterusnya-seterusnya).
(Padahal jumlah ayat Al Quran yang menjelaskan perihal sholat saja tidak sebanyak yang menjelaskan tentang per-keluarga-an; tanpa bermaksud membandingkan nilai dan makna antara dua hal tersebut). Sebagai informasi, ayat alquran yang menjelaskan tentang sholat dalam prakteknya hanya menjelaskan bahwa itu adalah ibadah yang terdapat di dalamnya berdiri dan sujud, sehingga kita dalam prakteknya mencontoh kepada Rasulullah saw (Al Qur’an tidak dengan detail memberikan referensi tentang ini).

-- Al Isra: 78-79
أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا#
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا#

[78] Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula salat) subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). [79] Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

– Az Zumar: 39
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran).

-- Al Insan: 26
وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا

(Dan pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari).

Nyata-nyatanya petunjuk tentang tata cara berkeluarga ini lebih banyak ditemukan dalam Al Qur’an di bandingkan bahkan dengan petunjuk tentang tata cara sholat sekalipun. Ini sedikitnya memberikan gambaran bahwa berkeluarga itu memerlukan pengetahuan, perencanaan dan betapa Allah swt membekali kita dengan sekian banyak pengetahuan melalui Al Qur’an agar kita berhasil dalam berkeluarga.

Bahwa ber-keluarga itu adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah swt.

Ayat 21 surah Ar Ruum yang biasa dijadikan pembuka di pernikahan.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

(Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir).

Bahwa diciptakannya pasangan atau berpasangan adalah tanda kebesaran allah (ayaatihi). Karena apa? agar jiwa-jiwa itu tenang. Ke-TENANG-an ini adalah kebutuhan fitrah/mendasar manusia, dan dengan ke-maha pengasih-anNya, Allah swt berikan petunjuk bahwa itu akan tercapai melalui berkeluarga. Makanya bagi yang tidak menikah jiwanya tidak akan merasa tenang. Dan tentunya, mereka yang tidak menikah adalah bertentangan dengan kebesaran Allah Swt. Dan tidak dibenarkan dalam islam untuk tidak menikah.

Bagaimana puasa dapat menunjang kita menjadi jiwa yang tenang – mereduksi konflik dalam keluarga?

Bahwa potensi puasa untuk menjadikan kita mencapai nilai harmonis dan mawaddah - tenang dalam keluarga sangat tinggi. Kenapa? Karena ada dua korelasi besar antara puasa dan konflik keluarga. Seperti sudah sedikit di singgung, sebagian besar permasalahan berkeluarga adalah masalah “perut dan di bawah perut”. Sementara pada hal yang paling mendasar dari puasa adalah menahan diri dari segala hal yang berhubungan dengan “perut dan di bawah perut”. Sehingga secara tidak langsung saja sekarang sudah bisa dilihat bagaimana peran puasa itu seharusnya dapat mengontrol segala konflik yang bersumber dari perut dan di bawah perut, yang implikasi nya secara langsung berarti harus dapat meredam bom atau menyelesaikan semua permasalahan keluarga.


Beberapa point penting yang mungkin perlu diperhatikan.

- Bahwasannya puasa itu mengendalikan urusan “perut dan dibawah perut” agar terkontrol. Di ibaratkan bahwa sebenarnya hal “perut dan dibawah perut” ini adalah bom yang mau meledak. Maka dengan puasa harusnya bom ini bisa diredam, dan dipindahkan konsentrasi nya ke “kepala”. Dengan banyaknya berdzikir, dan berpikir tanpa menghiraukan urusan ”perut dan di bawah perut”. Hal tentang berpuasa ini dijelaskan di Al Baqarah: 183-185, 187. Sudah sangat akrab di telinga perihal Al Baqarah: 183 (tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Ustad tidak langsung memberikan hal dan penjelesan berhubungan dengan ayat ini tapi dia memberikan point bahasan baru sebagai berikut.

- Puasa memindahkan konsentrasi hal “perut dan di bawah perut” ke “kepala”.
Perihal aturan main dan hal-hal yang berkenaan dengan praktek dijelaskan juga dalam Al Baqarah: 184 dan 187. Tapi yang sering dilupakan adalah ayat yang sebenarnya menjadi pondasi utama yang menjadi latar belakang kenapa kita di wajibkan berpuasa. Yaitu Al Baqoroh: 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

((Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur).

Satu point penting bahwa Al Qur’an lah yang menjadi latar belakang kita berpuasa di bulan Ramadhan. Untuk menghormati diturunkan nya ayat-ayat Allah, petunjuk dan pembeda yang seyogyanya menjadi rule of conduct dalam hidup kita. NAH jika pada 11 bulan lainnya kita berkutat dalam berbagai hal secara mungkin semrawutan, pada bulan Ramadhan ini, konsentrasi kita dituntut untuk berpindah ke Al Qur’an. Kita dianjurkan tidak saja memperbanyak membacanya tapi juga mempelajari Al Qur’an. Memahami, menghafalkan dan mengamalkan Al Qur’an se-komprehensive mungkin adalah senantiasa menjadi tajuk-nya Ramadhan. Karena pada bulan inilah dia (Al Qur’an) pertama kali diturunkan. Sedemikian konsentrasi kita sebaiknya berpindah ke kepala, menjadi manusia yang berpikir dengan memberikan porsi lebih banyak waktu untuk ber-kencan dengan Al Qur’an, dan tidak lagi mengurus hal-hal duniawi termasuk di dalamnya hal-hal ”perut dan di bawah perut”. Maka serta merta, permasalahan-permasalahan keluarga itu seharusnya TIDAK ADA dan tereduksi sebagai konsekwensi logis atas melakukan puasa. Ustad mengemukakan keheranan beliau karena ternyata secara statistic melihat kenyataan yang ada pada bulan Ramadhan “tingkat perceraian meningkat” dan “kebutuhan makanan juga meningkat”. Setidaknya dapat dengan jelas dilihat bahwa tujuan berpuasa di kebanyakan masyarakat sekarang BELUM BERHASIL memindahkan urusan “perut dan bawah perut” ke kepala.

Dengan memindahkan pusat konsentrasi diharapkan kita memanfaatkan makanan untuk berpikir. Hilangkan konsep {berpikir untuk makan/mengejar dunia dan kekayaan untuk bisa makan}. Tetapi kebalikannya {makan untuk berpikir}. Dan bahwasannya tanpa makan pun harus tetap bisa berpikir.

- Pemindahan konsentrasi tersebut bertujuan akhir TAQWA. Dari sini, ustad mengajak kembali ke Al Baqarah: 183 tentang perintah berpuasa. Bahwasannya ayat ini dimulai dengan يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ
Dan diakhiri dengan لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“….agar kamu sekalian bertaqwa”. Disini sangat straight forward bahwa tujuan berpuasa itu adalah taqwa. Lantas apa itu taqwa? Yang paling gampang marilah kita merujuk ke Al Imran: 133-135

133. وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
134. الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاء وَالضَّرَّاء وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
135. وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ


[133] Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa [134] (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. [135] Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Lihatlah definisi di atas tentang taqwa, serta merta tercapai semua jika kita melaksanakan puasa. Berinfaq, shadaqoh, menjaga amarah dan banyak memohon ampun adalah termasuk bagiaan dari keutamaan PUASA. Maka jelas sekali implikasi akhir dari puasa sebeneranya, jika tadi saya berbicara soal mereduksi permasalahan keluarga, ada tujuan akhir yang lebih tinggi. Hilangnya konflik berkeluarga tersebut tercapai dengan sendiri nya hanya sebagai nilai bawaan proses / hasil samping proses karena sebenernya TAQWA lah yang menjadi tujuan akhirnya. Karena sekali lagi penghargaan tertinggi atas manusia itu tidak didasarkan akan atribut duniawi “perut dan di bawah perut” tapi oleh “isi kepala”nya, oleh tingkat ketaqwaannya. Oleh karena itu jelaslah bahwa berpuasa itu adalah untuk kita sendiri, rugilah mereka yang tidak menjalankan dengan sebaik-baiknya.

Satu hal yang dijadikan point sindiran di sini oleh ustad. Bahwa puasa itu tidak terbatas pada urusan perut, tapi juga menyangkut mengontrol emosi. Dan ingat sekali lagi tujuan akhir nya adalah taqwa, sedemikian ketika kita berbuka puasa, bukan berarti selesai sudah tujuan akhir. Taqwa tetap harus ada dalam kepala. Bukan berarti ketika magrib datang lantas semena-mena kita mengumbar bicara, bergosip dan tidak menjaga hati. Datangnya berbuka hanya menandakan diperbolehkannya perihal “makan dan syahwat” tapi itu tetep harus dibatasi. Banyak berdzikir, membaca Al Qur’an dan meminta ampun senantiasa terus disempurnakan. Makanya ada amalan-amalan qiyamul lail – witir bahkan i’tikaf dianjurkan untuk diperbanyak di bulan Ramadhan.

- Puasa meninggalkan yang halal. Seperti sudah dijelaskan tadi tentang tujuan akhir puasa adalah TAQWA. Nah dalam runut prosesnya ada hal-hal yang dikontrol dari segi akhlak seperti dijelaskan dalan Ali Imron 133-134 yang juga diamalkan selama bulan ramadhan, dan seperti telah di jelaskan dalam uraian di atas. Lantas dalam hal lahiriyah, yaitu puasa tidak makan dan minum dengan batas-batas waktu sesuai Al Baqarah:187. Tentunya hal yang diperintahkan oleh Allah swt dalam korelasinya harus benar satu sama lain. Dalam hal ini, menahan tidak makan dan tidak minum berarti juga harus mempunyai tujuan sama, yaitu Taqwa. Lantas bagaimana prosesnya?
Kenapa menahan makan dan minum bisa meningkatkan derajat sampai ke level taqwa?
Bagi yang islam awam maka, mereka didefinisikan secara kasar sebagai islam hanya dengan bersaksi atas ketauhidan Allah SWT sebagi Rab-nya dan tak mempersekutukanNya serta atas Muhammad Saw sebagai utusan Allah Swt. Mereka yang islam awam akan senantiasa menghindarkan diri dari hal-hal yang HARAM. Nah jika meningkat satu level derajat ke imanannya, dia tidak hanya menghindarkan diri dari yang haram tapi juga menghindarkan dari hal-hal yang SYUBHAT. Nah pada tingkatan lebih tinggi nya lagi bukan saja yang syubhat tapi juga dari yang HALAL (makan-minum-berhubungan suami istri). Lihatlah bahwa makan, minum dan berhubungan suami istri itu adalah halal, tapi ketika berpuasa pada bulan ramadhan, hal-hal tadi tidak dilakukan. Maka tidak salah lagi bagi yang BENAR-BENAR berpuasa pada bulan Ramadhan, konsentrasi nya hampir seluruhnya terpindah ke kepala, banyak berdizikir, memohon ampun, belajar, ber-amal dan beribadah maka akan meningkat akan meningkatlah derajatnya.

September 19, 2007

Bulan ini TUHAN masuk TV

Bulan ini TUHAN masuk TV - Ramadhan 2007 hari ke-8.

Pernyataan temen gw yang setengah berbisik tentang "bulan ini Tuhan masuk TV" adalah benar. Bukan kausalitas sufisme tentang ke-mahluk-an TV (yang pada hakikatnya memang diciptakan Tuhan) yang coba dijadikan point disini, itu mah..jauh dari level gw menulis, tapi lebih ke ke-ironi-an atas realitasnya.

Bulan ini "Tuhan" menjadi komoditi utama di hampir semua channel TV. Setidaknya untuk negeri ini. Maklum, bangsa ini masih bangsa yang 'angin-angin'an. Ramadhan menjadi moment "nyadar"nya umat islam untuk sedikit menunjukan atribut ke-islam-an nya. Semua channel TV berlomba-lomba menjual berbagai produk ke-Tuhan-an dalam berbagai paket dan bingkisan. Lucu nya 'saking' ngebet nya menjadi penjual unggul produk ke-Tuhan-an, persaingan berada di level 'mengemas' tanpa memperhatikan isi. "Bungkus kado" dari acara diutamakan dan di beri pernak pernik yang kadang "sangat berlebihan", tanpa memperhaitikan isi kado yang dijual. Dimana letak sumber ke-aneh-an ini. Artis-artis nya menjadi sangat brutal dalam menjual nilai diri nya? Pembuat skenario? Pemilik stasiun TV? Pemerintah? situasi masyarakat yang menuntut (kondisi pasar=kita)? Ulama? Bagaikan polemik ayam dan telor.

Tapi tenang saja, masyarakat juga tak sepenuh nya homogen. Mereka yang khusuk dan sangat khusuk mengisi Ramadhan dengan atribut 'seharusnya' bahkan tidak menyadari fenomena ini, entah karena tidak pernah menonton TV, tidak peduli atau terlalu sibuk dengan 'exciting'nya mengejar setoran dan menumpuk stok 'pahala' dan me-release dosa.

Mereka yang sadar akan ke-aneh-an ini juga banyak. Komunitas islam priyayi keliatannya yang ada di tataran ini. Eksekutif, pekerja yang masih sempet mengaji dan lain-lain, tapi daripada capek-capek mendingan 'pilih-pilih' channel saja.

Oh ya, masih ada beberapa channel yang menyuguhkan paket 'lumayan' baik kertas pembukus maupun isi kadonya.

Lantas ada komunitas yang menjadi korban. Siapa? Mereka ada dan tak perlu dipertanyakan siapa dan dimana. Tapi kalau dari segi jumlah, justru di sinilah mayoritas itu ada. Ingat loh..ada anak-anak kecil, ada orang-orang yang pendidikannya tak begitu tinggi.

Jika saja mereka yang sangat khusuk terlalu khusuk, yang sadar dan pintar memilih untuk sadar dan pintar sendiri, maka mental dan pola pikir 'picisan' akan semakin mewarnai keterpurukan sejarah dan kedudukan 'islam' di negeri ini. Semangat 'angin-angin'an akan tetap eksis dan kembali "Tuhan" akan menjadi komoditi masuk TV tahun depan. Anyway, ini hanya sebuah tulisan. Mari kita biarkan ini menguap begitu saja seiring berlalu nya 'angin' komoditi ini.

[tanpa menyinggung mereka yang berseberangan........peace..ini hanya sebuah tulisan. Terinspirasi ketika mau beli cendol buat berbuka kemaren -- fahdi; lu emang panutan].