Showing posts with label Monolog. Show all posts
Showing posts with label Monolog. Show all posts

January 20, 2010

Bertumpuk Berantak

"Kenapa ini ada disini, bukankah seharusnya di tempat lain?", seorang pemimpi bertanya kepada penjaga.
"Itu sudah satu minggu di situ, dan kenapa kamu baru bertanya sekarang?", penjaga menjawab.
"Karena aku baru lihat sekarang, bukankah seharusnya kamu beritahu saya kalo ini dipindahkan kesini?", sang pemimpi kembali bertanya.
"Kamu kan seminggu ini di rumah terus, saya sudah kasih tau kamu sejak hari pertama ini dipindahkan, lagian kenapa baru liat sekarang?", dijawab sang penjaga.
"Karena aku baru butuhnya sekarang, makanya aku baru mencarinya", sang pemimpi kali ini hanya menjawab tidak balik bertanya.
"Ya...kamu baru melihat setelah kamu butuh melihat", kata sang penjaga.
"Lagian..kamu kan yang menjaga, harusnya setiap kali ini dipindahkan, kamu kasih tau saya?", sang pemimpi malah menyalahkan.
"Ya...beberapa detik lalu saya sudah bilang, tapi kamu memang tidak pernah belajar mendengar", sang penjaga menjawab.
"Maklumlah...kamu kan tau sendiri saya sibuk", sang pemimpi bersikeras
"Ya...sibuk bermimpi...sampai-sampai saking sibuknya.. mendengar dan melihatpun kamu tidak sempat", sang penjaga menjawab.
"Sudah...lakukan tugasmu...yang penting kamu jaga...boleh kamu pindahkan...tapi jangan sampai hilang", sang pemimpi memerintah...seperti biasa.
Sang penjaga berbisik dalam hati...
'Ya...aku lakukan tugas-ku....meski kamu terlalu sibuk untuk melihat..juga untuk mendengar...tahukah kamu kalau seorang penjaga pun pernah bermimpi? Ya...aku bermimpi suatu saat kamu berterima kasih karena aku telah menjaga mimpi-mimpi mu'..

(Dari Satu Hari Saja: Bukalah matamu dan melihatlah, tajamkan telingamu dan dengarkanlah,,,berterimakasihlah atas apa yang kita lihat...atas apa yang kita dengar...juga atas apa yang tidak kita lihat dan tidak kita dengar...atas kita merasa butuh..atas seringnya kita lupa berterimakasih)

January 14, 2010

Brand New Crossroads

Kemaren gw sibuk sama kerjaan. Hari ini, seminggu yang lalu juga sama. Bahkan empat taun ke belakang kalo di pikir-pikir juga sama, sibuk sama kerjaan. Sekarang? Seharusnya gw sibuk sama kerjaan (tapi lagi males...jd ngeblog sajah lah). Kerjaan yang numpuk, gaji yang gak cukup, pengen kerjaan yang sesuai ama background kuliah, pengen tempat kerja yang gak usah pake merantau jauh dari keluarga. Gw kok kedengerannya kayak yang gak bahagia? Padahal di luar sana banyak yang gak punya kerjaan :)

Pas tangan gw luka dan berdarah gara-gara hal sepele, kerasa sakit. Perih kalo kena air, sampai kadang mengutuk perih pas wudhu (hehe..mengutuk lagi beribadah kok klise ya). Baru kerasa kalo badan ini bisa sakit juga. Padahal itu saat dimana gw lagi gak sibuk sama kerjaan. Saat libur dari kesibukan. Niatnya mau maen squash gak bisa, makan juga kudu miris-miris, hehe..lagi-lagi kedengerannya gak bahagia ya? Padahal di luar sana banyak yang sakit bertahun-tahun bahkan lebih parah.

Kayaknya gak harus selalu jadi CEO biar bahagia. Gak harus pHD biar bahagia. Gak harus punya satu butik ZARA biar bahagia. Gak harus se-pandai layaknya Ustad yang hapal Al Quran di luar kepala biar bisa bahagia. Gak harus punya LEGO Brickbeards Bounty biar bisa bahagia. Gak harus selalu punya BMW atau Honda Jazz atau HONDA City biar bisa bahagia. Karena terlalu banyak aspek hidup ini yang kita kita pengen. Betul Gak? Ya gak nolak juga kalo tiba-tba dikasih BMW atau dikasih satu butik ZARA..hehehe..

Sederhana-sederhana saja kali ya. Yang penting seimbang, dan harmonis, semuanya jalan. Percuma jadi CEO kalo punya istri selingkuh. Percuma punya satu butik ZARA kalo sakit migrain mulu. Percuma hapal smua Al Quran kalo gak pernah di amalin :) ini maksa kayaknya. Percuma pHD kalo gak bisa ngasilin duit (ini maksa juga). Sederhana, yang penting ada perubahan dan tujuan jangka panjang nya. Nggak ada orang yang tiba-tiba jadi presiden, ada proses yang panjang, dan kadang proses nya itu detail dan rumit seperti detail dan rumitnya hidup kita sekarang. Kita? (lo ama kucing kali). Hehe..Sok bijak ya gw. Yang penting ada niat jadi sok bijak. Jadi intinya, perubahan dan tujuan jangka panjang. Seberapa panjang? Sampai pensiun, sampai mati, sampai life after death? Hehe...it's a choice, enjoy this little kind of freedom. But be responsible :) Have a simple life!! (kayak judul acaranya Paris Hilton hehe...That's hot..love it!!).

November 22, 2009

Pasir Sampaikan Salamku Padanya

Aku berpuisi lagi! teriaku dalam hati. Ah kapan memang kamu tidak berpuisi.

Aku menari lagi! teriaku dalam hati. Ah kapan memang kamu tidak menari.

Aku berlarian lagi! teriaku dalam hati. Ah kapan memang kamu tidak berlarian...sssttt..sudahlah..jangan teriak-teriak, sudah malam ini..diamlah!

Bukankah malam seharunya gelap? Kenapa tiba-tiba malam terang sekali. Mmm..Apakah menurutmu aku sekarang buta? Ah kapan memang kamu tidak buta.

Aku tidak bisa tidur kalo terang seperti ini. Mm...meredup sedikiiit saja.. biar aku bisa tidur..please...(menarik napas panjang)

Kamu memang tidak bisa melihatku berpuisi, menari dan berlarian. Tapi kamu bisa mendengarku.

Benarkah aku bisa mendengarmu? Tenang saja, nanti kubisikkan pelan-pelan kalo akhirnya kita bertemu...

”menarilah dalam puisi-ku...biar jiwaku tak berhenti berlari”

September 8, 2009

Tak ada yang abadi


Terdiam. Mungkin itu lebih tepat. Meratap. Mungkin juga lebih tepat. Raga ini melaju cepat seiring cepatnya waktu berlalu, tapi entah kenapa raga ini terasa benar-benar hampa.

Raga ini seolah memutuskan untuk berhenti hidup hanya karena jiwa tidak sepenuhnya hadir di situ, sebagian jiwa tertinggal jauh dari raga, di suatu tempat dimana sudut-sudut kusam dan kumal menjadi indah, di suatu tempat bernama tanah air, karena memang disitulah raga dan jiwa hadir dalam wujud utuh. Di negeri itu jiwa terbiasa melihat, dan disitu pula raga terbiasa bernapas, menyatu dengan debu-debu. Bermain, bercengkrama, dan mengenal cinta dengan jiwa-jiwa di sekelilingnya.
Kini jiwa-jiwa itu satu per satu menjabat tanganku dan mengucapkan salam perpisahan.

jiwa tiba-tiba memberontak, dan teriak, bersikeras tak ingin ikut bersama raga, jiwa ingin tinggal di tanah yang sudah lama di kenalnya, “jiwa ingin tinggal....jiwa ingin tinggal, jiwa tidak mau pergi”, dia berkali-kali meneriakkan itu. Tapi raga tak bisa berbuat apa-apa, raga hanya bisa terdiam, tertunduk tak berdaya, tak mampu berkata-kata, tak mampu menjawab keinginan jiwa. Jiwa semakin menangis, raga semakin tertunduk.
Raga yang hampa seolah lupa bernapas, seolah enggan belajar bernapas, dada ini menjadi sesak, dan sempit, pelan ku hanya bisa berbisik “..meski kami bukanlah siapa-siapa bagi kalian..ingatlah kami..jangan secepat itu terlupakan..”

"Ya Allah, jagalah mereka dalam diam, gerak dan tidurnya, sayangilah mereka dengan rahman dan rahim Mu, dan dekatkan hati mereka denganMu, agar kami senantiasa ikhlas dan bersyukur kepadaMu, amin"

June 4, 2009

Seikat Kunci Leher



Handphone tiba-tiba bunyi, incoming call dari +62-21… oh pasti ini nomer dari jakarta bukan nomer lokal sini.
…..
Imah, “Udah saya cek rekeningnya, sudah masuk Pak, makasih banyak, kami doakan semoga Bapak senantiasa di karuniai kesehatan dan rejeki yang barokah”
Pak Monyet, “Amin, sama-sama Imah, sampaikan maaf sama anak-anak saya, karena belum sempet bertatap muka”.
Imah, “Baik Pak, nanti saya sampaikan”.
Pak Monyet, “Terima kasih”.
Imah, “Pak jangan dulu ditutup telponnya, saya sekali lagi mau menawarkan supaya bapak jadi anggota komunitas kami saja, komunitas MONYONYET, supaya anggota lain semakin termotivasi”
Pak Monyet, “Tapi Imah, seperti yang kamu tau, untuk sekarang domisili saya jauh, karena kerjaan saya disini, di tengah2 hutan, saya takut tidak bisa bertanggung jawab kalo saya jadi anggota, amanah anggota itu juga tinggi lo, setinggi amanah pemimpin”
Imah, “Hehe..Bapak ini ada2 saja, keanggotaan kita bersifat sukarela kok, kalo bapak emang tidak berkenan juga gak papa, tapi menurut saya, Bapak sudah sangat layak jadi anggota, karena anak-anak asuh Bapak sudah banyak, Bapak sudah lebih dari bertanggung jawab dibandingkan yang lain”.
Pak Monyet, “Ah kamu bisa saja membanding2kan saya dengan yang lain, malu saya, memang persyaratannya untuk jadi anggota apa?”
Imah, “Bapak ini ada2 saja, kan voluntary, jadi tidak ada persyaratan, asalkan manusia aja sudah cukup” (terdengar bercanda)
Pak Monyet, “Wah itu persyaratan yang berat” (nada kecewa)
Imah, “Kok bisa?” (nada heran)
Pak Monyet, “Saya jauh dari layak disebut manusia” (nada kecewa)
Imah, “Maksudnya Pak?” (bingung)
Pak Monyet, “Saya masih belajar jadi manusia, rupa saya memang seperti manusia, dan dibilang kalo saya masuk kelompok hewan yang berpikir, tapi saya sendiri nggak yakin kalo saya sudah berpikir selayaknya manusia” (nada serius)
Imah, “Mm…bapak betul” (tiba-tiba ikutan serius)
Pak Monyet, “Menjadi manusia itu berat Imah, saya masih belajar, belajar mencapai fitrah manusia”
Imah, “Mm..kalo bapak saja merasa belum jadi manusia, apalagi saya, tapi saya insya Allah belajar jadi manusia juga Pak, kalo begitu persyaratan anggotanya saya turunkan, terbuka buat manusia juga buat yang belajar jadi manusia..tentunya seiring dengan nama komunitas sosial kami, komunitas MONYONYET”.
Pak Monyet, “Baik kalo begitu, saya akan coba belajar jadi anggota yang bertanggung jawab”.
Imah, “Baik Pak, makasih banyak, sekiranya Bapak ke Jakarta, tolong kabari saya, banyak anggota lain yang ingin bertemu dan berdiskusi kembali dengan Bapak”
Pak Monyet, “Apakah mereka sudah jadi manusia?”
Imah, “Haha…belum pak, masih monyet semua kok, sama seperti bapak”.
Pak Monyet, “Baiklah, salam buat semua monyet-monyet itu”
Imah, “Haha…baiklah pak, nanti saya sampaikan, terima kasih”.

April 15, 2009

Monolog Tanpa Tanda Tanya


Terlalu banyak hal di kepala gw yang bikin gw pusing. Please, jangan tanya kenapa atau gara-gara apa atau apa pun itu. gw ngelarang lu nanya, bukan karena gw lagi gak mau mikir atau males mikir makanya (please, jangan bilang gw lemot, gw hanya sedikit lambat dalam berpikir..hehe..ya gitulah..) tapi karena hampir pasti kalopun ada yang nanya(ge-er banget), gw bakalan gak tau jawabannya. Gw pernah coba mikir zaman dulu (kala) pas lagi gak kepikiran, tapi dari gak kepikiran malah jadi kepikiran dan mumet dan malah sampe sekarang gak tau jawabannya. Jadi biar gak mumet, biar hemat energi, biar gak cape mikir, gw mo bikin shorcut aja, jangan nanya sekalian. Karena sebenarnya nanya pun ngabisin energi yang gak sedikit. Jadi alih-alih ngebuang-buang energi (apalagi emang energi gw lagi gak banyak) mending kita hemat energi saja, jangan nanya apa-apa.

Kalo ada yang protes gak setuju, boleh-boleh saja tentunya. Gw menjunjung tinggi hak protes, karena gw sendiri paling jago protes. Hampir tiap hari gw protes, bahkan hampir tiap saat gw protes. Hehe, mengeluh juga salah satu bentuk dari protes, jadi kalo emang lu sering ngeluh (atau pernah ngeluh) gw yakin lu juga bakalan setuju ama gw untuk ngediriin club pecinta protes. Kalo lu nggak pernah ngeluh, gw salut tentunya. Tapi gw gak peduli juga, karena kalo pun lu ngediriin club kebal/anti protes, pastinya nih (gw yakin banget) anggota nya bakalan sedikit, jadi club (gw) pecinta protes gak akan ngerasa tersaingin sama sekali. Cuma ya itu aja, protes juga ngabisin energi. Jadi alih-alih ngebuang-buang energi (apalagi kalo protes nya sering) dan gw juga gak yakin kalo protes lu bakalan ngehasilin sesuatu yang lebih (keren), jadi mending jangan protes sekalian.

Kalo lo yakin protes bakalan ngasilin sesuatu yang keren, boleh-boleh saja tentunya. Toh yang mau hemat energi juga gw, jadi lo gak musti ikutan hemat-hemat energi. Silahkan protes, asalkan sekali lagi, protes lu gak hanya ngabisin energi (cuma-cuma) tapi ngasilin sesuatu yang keren, karena gw akuin, gw juga menjungjung tinggi dan mencintai ke-keren-an (hal-hal keren). Meski emang hal-hal keren itu gak gw banget, alias gw gak keren. Makanya gw juga pengen bikin club pecinta ke-keren-an, simple karena gw gak keren dan gw pengen jadi keren. Hallah…jangan ketawa dulu lu. Jangan bilang gw narcist ya.. Baca mbah kakung Wikipedia deh, narcisisme itu harus ada unsure self-image dan ego. Kalo gw murni karena emang gw gak keren dan gw pengen keren, jadi gak ada self-image atau ego, justru gw mengakui kalo gw gak keren. Ah gw tau sekarang, kenapa gw pusing. Karena gw gak keren. Gw pengen keren. Itu yang bikin gw pusing. Pengen keren.

Keren menurut gw:
1. Bisa nyelesain GFE+LMS project by (bbrapa bulan ke depan); ini urusan kerjaan, intinya pengen dapet promosi, naek gaji, bayar pajak makin gede ke Negara, bayar zakat makin banyak
2. Bisa bikin perusahaan gw (di kampung) tetep jalan padahal gara-gara krisis (salahin aja krisis terus!!!) net revenue makin marginal (mendekati nol) alias impas (yang penting pegawai gw bisa makan, punya kerjaan tetap, anak istri mereka bisa makan juga)
3. Bisa ngelanjutin program belajar gw yang tertinggal, ini mulai dari program ko-kurikuler (per-bahasa-an, per-agama-an) sama program formal pengen S2 (meski murni karena pengen dapet gelar doang)
4. Bisa segera men-sakinahkan kelajangan (halah-halah bahasa gw)
5. Bisa ketemu keluarga sesering mungkin, tetep mensupport keluarga, pandai ngebagi waktu libur yang beberapa hari, demi silaturahmi dan demi menyelamatkan naluri manusia sosial pecinta keluarga gw
6. Bisa bla..bla..bla……..hehe….panjang itu list-nya…ada keren jangka panjang, ada keren jangka pendek…hallah lebay.

Gw yakin elo-elo punya kriteria keren yang beda dan mungkin pernah punya monolog tanpa tanda tanya (kyak gw). Gw pikir wajar kita pengen berubah jadi keren. Wajar kita pusing. Asalkan emang tujuannya emang biar kita keren. Hallah ke situ-situ juga..gile berapa kali gw bilang kata karen. Intinya, bagus selama tujuannya pengen keren. Pasang target. Bikin action item (maksudnya apa aja langkah-langkah buat nyampe target). dan tinggal kita jalanin. Karena hanya dengan itu justru arah hidup kita jadi jelas. Jadi kalo ada yang nanya (hehe…hampir lupa, gak boleh nanya). Jadi tujuan hidup gw adalah pengen keren. hidup keren....Huehehehehe….narcist gak tuh….

March 10, 2009

Tak lagi berpijak


Monday, 09 March, 2009

Hanya kau yang dekat sekarang
Berkatmu, kaki ini berpijak tidak lagi di bumi, tapi di atas awan-awan
Jiwa ini gusar, seolah melonjak-lonjak dalam ketakberdayaan
Jiwa ini ingin keluar bertemu, meraihmu
Menyadari bahwa kau sangat dekat
Seerat napas yang membungkus pasrah, tak berirama dalam dingin
Ijinkan aku kembali berpijak dalam sadar
Meski aku memang merindumu


Hanya dua jam saja, bahkan tak penuh dua jam, tepatnya satu jam empat puluh delapan menit. Tapi entah kenapa, di saat seperti ini waktu terasa bergerak lebih lambat dari seharusnya. Apakah ini yang disebut relativitas waktu? Entahlah, derap jantung terasa lebih cepat, tak lagi berkompromi dengan detik jarum jam di tangan. Oh ya, ujung-ujung jari tangan juga terasa sangat dingin. Meski jaket sudah dikenakan, entah kenapa perasaan dingin tetap menyelimuti, membuat segalanya tak nyaman. Kutambahkan selimut, yang sebenarnya tak menutupi apa pun selain menambah satu lapis tipis diatas jaket. Haus, dalam dingin, takut dan semakin takut. Mungkinkah karena rasa lapar? nampaknya tidak, sudah lebih dari cukup perut ini diisi. Majalah yang berisi gambar-gambar dengan seribu satu skenario photography yang harusnya tampak indah, sama sekali tak menarik saat ini. Saat dimana takut dan panik seolah tak bisa dibedakan. Buku cerpen yang berisi kumpulan cerita-cerita tak jelas Seno Gumira, juga tak menarik. Padahal cerita-cerita ini yang selalu melengkapi secangkir kopi pahit di gerimis senja atau panasnya siang bolong jakarta. Memaksa membacanya, seolah membuktikan kalau otak ini memang membeku, enggan melanglang ke negeri imajinasi mana pun, seolah terjebak dalam mimpi buruk, dalam panik yang berkepanjangan dan terasa terlalu nyata untuk dikalahkan imajinasi manapun. Mata ini seolah lelah, tapi tak mampu terpejam meski sudah dipaksakan, tentu tidak dengan adrenalin terpacu tinggi seperti ini, terpacu dan membuat napasku seolah berburu dengan laju pesawat ini. Laju pesawat yang tak nyaman dalam awan musim hujan, dalam petir, laju pesawat yang berguncang dalam badai. Tuhan, kau terasa begitu dekat.

(in flight GA518, my 41th flight in last 6 months)


February 13, 2009

Home, not so Sweet, not my home



Track ke-5 dari albumnya Michael Bubble yang "It's time" somehow di sini populer banget. Disini? maksudnya ya di Balikpapan sini. How come?

Beberapa hari lalu, gw balik dari base ke rumah (dinas), dan sharing satu mobil dengan bebrapa kru yang baru balik dari offshore. Sore-sore, sekitar jam-5an. Gw cuma bilang langit lagi cerah, siluet sunset juga seolah semerbak karena emang balikpapan lebih ke daerah pantai yang datar.
Emang sih, gw gak terlalu banyak yang kenal sama orang2 satu mobil, gw nebak kru-kru itu pasti abis dari satu shift yang sama, keliatan dari akrab-nya becandaan mereka, meski tetep raut lelah di wajah mereka g bisa disembunyiin...pastilah cape, setidaknya mereka ngabisin beberapa minggu di tengah2 laut...somehow, tiba-tiba aja radio di mobil muterin tuh lagu-nya Michael Bubble yang "Home". Entah kenapa..begitu lagu itu mulai...semua orang yang tadinya pada bcanda-bcanda tiba-tiba ngedadak diem...ngenikmatin suara dalam-nya Michael Bubble...dan seolah kebius ama lyricnya...yang entah kenapa kerasa jujur. Jujur kalo kita sama-sama rindu rumah. jujur kalo kita sama2 lelah, penat. Dan gak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah (rumah yang bener-bener rumah, dmana tempat orang2 yang kita sayangin tinggal).
Satu-satu nya yang koment cuman tmen gw Asil (yang bsoknya mau balik ke Algeir jemput istrinya dan balik KSA (kingdom-of-Saudi-Arabia) ktemu keluarganya), dia cuma bilang "Good song...i feel i wanna cry"
yang diikutin ama gumaman semua orang..."ya.."...atau "agree..", sambil pandangan masing-masing menerawang...sibuk dengan angan-angan masing-masing...seolah nikmatin sunset di perjalanan pulang ke rumah (dinas)..home but not so called home, but not so sweet home, as this is not our real home, just a nice cabin to sleep, and to pretend that we still have a real life and act like what real human normally does...
That's it...comment yang pendek2.
..anyhow in the end, we're bunch of guys, and we've been doing it for quite awhile...no room to be too sentimental..we're tough (trying to be tough man) ...for the poeple we love...for the future we hope...for the life we will have..

Sesampainya di rumah (dinas) gw di KBC-23. Gw sedikit jalan2 di sekitar rumah (cuma buat nikmatin sunset di belakang rumah)...with my buddy-who-is-lucky-enough-by-now since he managed to get to his (real) home this weekend a.k.a having days off....see the sneak peak of my neighborhood..the trees..the beaches, I admit it's not that bad, but still, it's not my real home. I miss my home..please let me go home...


February 1, 2009

Ada yang beda dari hujan kali ini

Ada yang beda dari hujan kali ini. Entah apa yang bikin beda, yang jelas gw ampe terbangun dari tidur lelah gw. Jam gw tepat nunjukkin jam 12 malam. Suara hujan malam ini bahkan ngalahin berisiknya desing mesin pesawat yang lalu lalang landing dan take off dari bandara yang jaraknya gak nyampe 10 menit dari rumah. Dulu gw selalu komplain gara-gara berisik-nya bikin gw sering terbangun dari tidur, apalagi kalo weekend, berisik suara pesawat yang nganter orang keluar masuk dari Balikpapan seolah tak berjeda. Tapi kali ini bukan berisik pesawat yang bikin gw bangun, tapi justru hujan. Hmm…apa mungkin gw udah betah tinggal di sini. Entahlah, tapi terbiasa mungkin iya. Ya iyalah…gw terbiasa, tujuh bulan sudah gw tinggal di rumah ini. Rumah besar dengan full kitchen set dan TV yang lebih panjang dari panjang badan gw, dengan beranda yang luas, sofa, empat ruang tidur. Sigh!! Kamuflage..semua-nya bukan milik gw, milik perusahaan tempat gw kerja. Kerja yang entah kenapa hari tadi bikin gw cape banget, ampe pas gw nyampe ni rumah gw ketiduran dan sekarang kebangun tengah malam buta.

Dan kenapa ni rumah gelap banget? Gw baru nyadar gelap pas gw coba melek dan nge-raba-raba meja nyari minum. Klise!! Balikpapan, kota MIGAS dengan problem listrik yang parah. Yups, malam-malam, hujan, mati lampu dan gw haus. What a perfect combination. Did I mention that I live alone in this big house? Oh ya…alone in this spooky big house. Gw mengutuk-ngutuk diri gw sendiri, nyadar kalo gw mau gak mau harus jalan ke dapur buat ngambil minum gelap-gelapan. Handphone. Gw langsung inget ama handphone. Nyala handphone bisa gw pake. What?!! HP gw mati. Gw pijit-pijit power key, yang ada HP gw bergetar-getar menggelepar (marah), ngasih tau gw kalo dia (about to die) alias abis batere. Di saat seperti ini, kenapa lu mesti abis batere!! Handphone gw emang paling tau gmn cara ngecewain gw.

Akhirnya gw paksain ngikutin insting gw, jalan dalam gelap. Hmm…gw tau rumah ini gede, tapi dalam gelap, entah kenapa jarak dari kamar gw ke ruang tengah seolah lebih jauh dari seharusnya. Belum ke dapur-nya. Hmm…demi segelas air putih, yang bisa bikin tenggorokan gw segar (dan gw bisa tidur lagi setelah itu), gw ngeraba-raba ampe ke dapur. Tiba..tiba…..bulu kuduk gw berdiri. Entah kenapa tiba-tiba kaki gw berasa dingin. Gw masih ngeraba-raba hampir masuk ke dapur. Gw bukan penakut (dalam hati), sambil refleks tiba-tiba gw jg baca-baca surat2 pendek yang gw tau, dari al ikhlas sampe an Naas diulang-ulang. Gemuruh hujan di luar masih kenceng, sesekali angin yang ngebawa hujan seolah ngehentak-hentak ngebikin genteng atap seolah pada pecah. Dan gw udah tinggal di rumah ini 7 bulan, gak ada apa-apa di rumah ini. Tapi kenapa bulu kuduk gw berdiri. Gw mulai keringat dingin. Panik mulai melanda. What?! Tiba-tiba gw ngliat sekelebat cahaya. Whala….lampu nyala.

Untung gw bukan penakut. Ya iya lah, kalo gw penakut, mana gw tahan tinggal di rumah segede itu sendirian, 7 bulan pula. Tapi kalo aja lampu tuh nggak nyala, mungkin gw bakalan tidur di sofa dapur sambil nyalain kompor dan masak indomie am bikin teh angat. Sambil nikmatin suara hujan. Jangan salah, moment pas lagi hujan buat gw moment yang pas buat menerawang. Ngenikmatin larutnya kebisingan sama suara gemericik air plus gemuruh angin. Seolah alam ber-orchestra dalam symphony megah yang jelas. Hmm…hujan. Kabar apa yang kau bawa kesini? Meski gw hanya butuh segelas air untuk bikin tenggorokan ini sejuk sebangun tidur, tentu bumi ini butuh lebih banyak air untuk kesejukan beragam penghuni-nya. Tuhan, terima kasih atas hujan malam ini, atas gelap dan terang yang kau berikan.

January 22, 2009

Gw pusing

Gw pusing!!! (Sambil ngeluh)
Kapan sih lu gak pusing. Tiap hari pusing mulu, ngeluh mulu.
Iya sih…tapi kan lu tau, kalo gw sekedar ngeluh doang.
Tapi kalo keseringan ngeluh, orang yang denger akan bosen juga. Belajarlah bersyukur.
Belajar sih sudah, ini juga bersyukur. Mungkin klo gw lupa bersyukur, ngeluh gw lebih parah lagi dari ini.
Iya juga sih. Banyak orang yang lebih gak terkontrol daripada elu. Ngomong-ngomong kenapa sih lu pusing?
Nggak tau juga kenapa.
Musti ada sebabnya, lu nggak mungkin ujug-ujug pusing, pasti ada sebabnya.
Apa ya..beda-beda sih sebabnya.
Cari tau, mungkin beda-beda tapi kalo dirunut asal muasal masalahnya ketauan.
Boleh juga tuh ide…terus kalo gw udah tau nenek moyang masalahnya gw apain?
Ya lu cari solusi-nya.
Nah itu dia…..pusing gw cari solusinya!!! Tuh kan pusing lagi…….sialan……….

January 18, 2009

Anti Social Me


:: ST12 konser persis di belakang rumah
:: Re-run inconvinient truth di HBO, suka musiknya Melissa Etheridge
:: Re-run American idol 2009
:: Baca Paulo Coelho Witch of Portobello sampai nyasar ke blog-nya
:: Bisa juga pake coffee machine-nya

Another short weekend. Meski gw spending di balikpapan, tetep aja target gak kecapai.

Target buat nge-review ulang sekitar 50 sumur ternyata baru selesai minggu sore, padahal target-nya minggu siang udah mulai interpretasi sumur satu lagi. Ya ..ya ..gw ngomongin kerja pas weekend. Bukan karena emang gw sok rajin, tapi emang gak ada lagi yang bisa kerjain di sini. Minggu lalu coba socialize dgn orang2 D&M, nonton di XXI yang lagi happening di Balikpapan (bioskop baru buka dan satu2nya)...eh masuk ke studionya malah ketemu sama semua muka2 oil and gas. Ujung atas kanan, semua orang schlumberger, pojok kiri ampe tengah Halliburton, deretan tengah penuh orang2 TOTAL..jadi males.
Niat mo maen futsal gak jadi, karena tiba2 sabtu sore hujan deras, jd males keluar.
Tambah lagi rumah kosong, si Sujit pulang ke India, Wie Lie balik kampung juga ke China, pengen taun baru-an di sana katanya. Anatolie baru pindah rumah bawa keluarga-nya ke PMC dan gw total sendirian in the big KBC23rd house...Meski samar-samar suara konser ST12 yang persis di luar rumah kedengaran kenceng, sumpah gw kok malas traban-trubun ke sana sendirian..
Yang ada gw nonton re-run American idol (gw berasa jadi orang yang sangat2 gak bersyukur dan kecil pas liat audisi-nya Scott Macintyre, yang blind tapi gigih merjuangin hidupnya dia, punya gelar master dan bisa main musik+nyanyi..
Nonton inconvenient truth dan jatuh cinta sama soundtrack-nya "I need to wake up" Melissa Etheridge, suaranya keren, lirik-nya dalem dan ironi.
Nge-gym seperti biasa, gw lg nge-budayain 45 minutes, 5 times a week setelah kaget dengan artikelnya MH tentang penyakit jantung dan symptoms-nya yang bilang orang Fit aja bisa kena heart attack in long run, dan parahnya kakek gw meninggal kena serangan jantung, dan notabene gw punya symptom2 aneh dgn jantung gw(mungkin jg gw sedikit paranoid)..yah precaution kenapa gak?
Baca paulo coelho, witch of portobello dan googling ke blog-dia, cukup kagum dengan nih orang yg punya seribu bhasa dan filosofis beda ttg gmn mandang hidup.
Baca blog-nya Pidi Baiq, setelah sekian lama gak denger kabar dia.
Dan ini dia...akhirnya gw tau gmn cara pake mesin kopi di kantor, double scoop bikin espresso, black coffee, capucinno...haha..nih mesin kopi yang keren!! (mahal tentunya), dan akhirnya gw bisa nikmatin jg..
Hey..yah 7.03 pm got to go...time to hit the gym...then dinner....hope you all have a better weekend..a productive one...

January 14, 2009

Happy Birthday, 4 Real

Bahkan hari ini dia ulang taun pun, jangan harap dia dapat ucapan selamat dari siapa pun, mm...ada bberapa teman dekat dia yang tau, tapi dia percaya banget kalo orang hanya bakalan ingat kalo diingatkan. So here I go, happy birthday…!! Semoga lo jadi orang baik dan lebih baik lagi….nothin wrong with dreaming…as you knew that future belongs only to those who believe on the beauty of their dreams…Have a good day.
Big thanks buat temen-teman gw yang inget ulang taun gw…...Thanks buat "Smooches"nya..dan susah-susah dkirim ke backwood..…love it!!..Thanks…can’t say more.. thanks…..(haha..gw bingung pas denger ada prayer-nya gitu..haha).



Gw mo bilang “Selamat Ulang Taun” buat yang namanya Elin. Dia menamakan dirinya ke-dalam “birthday hater”. Konon, dia lahir tanggal 14-January. Tahun berapa? Sedihnya dia gak tau sampe sekarang taun berapa dia lahir. Katanya (nya disini akhiran yg gak me-refer siapa pun) zaman dia lahir itu zaman susah (sekarang juga sih). Biaya untuk buat akta lahir mahal untuk keluarga petani kecil dari daerah terpencil dan buta huruf. Makanya, pas taun 1982, pas ada keringanan pembebasan biaya pembuatan akta lahir, barulah bunda-ayah nya buat akta lahir untuk dia, dengan tanggal lahir 18-November-1982, hari yang sama mereka mendatangi kantor catatan sipil. Hmm..bahkan nama dia pun terkesan asal, disamakan dengan nama dokter yang dulu ngebantu ngelahirin dia. Yang tentunya satu-satunya dokter di daerah itu.

Memang ulang taun bukan lah tradisi untuk keluarga kecil dan sederhana seperti dia. Beranjak dari pengalaman itu, dia punya ambisi besar untuk menjadi orang yang tidak buta huruf dan sekolah. Menurut guru ngaji-nya, belajar adalah wajib dan sebagian dari iman. Dogma itu dia jadikan tekad, karena itu pula yang bakal bawa perbaikan hidup (menurut dia).

Ketika dia besar, dia tak begitu peduli dengan tanggal lahir. Tanggal lahir di raport SD-nya, berbeda dengan ijazah SMP-nya. Mungkin pas bunda dan ayahnya mendaftarkan SD, dia tak tau apa yang harus ditulis. Sampai akhirnya dia tau penggalan cerita tadi, tapi kembali, dia gak peduli, toh ulang taun tidak pernah jadi barang istimewa buat dia.

Seiring dengan tekad-nya tentang pendidikan, perjuangan akhirnya membawa dia menemukan sekolah-sekolah yang lebih baik daripada sekolah yang di kampungnya, tepatnya di kota. Dan mulai-lah dia mengenal bahwa bagi kebanyakan orang, ulang taun itu wajib dirayakan, dan diingat. Sedangkan dia punya dua tanggal lahir, 18-Nov dan 14-Jan. Dan ketika dia terpaksa harus merayakan ulang taun dia (terutama ketika dia sedang berada di komunitas baru), akhirnya dia rayakan pas tanggal 18-Nov, yang tertera di kartu identitasnya. Karena toh kalo pun menyangkal, gak ada teman-temannya yang punya waktu mau dengerin cerita panjang tak jelas, dan tanpa bukti. Tapi kadang, kalo emang dia lagi gak mood, dia bakal bilang “gw benci ulang taun, males!!” yang bikin dia bilang sendiri kalo dia “birthday hater”. Apalagi setelah pengalman dia di salah satu ulang taun, ada temen dia yang sok tau dan cerita tentang ini dan itu kalo gw itu SCORPIO banget. Pdahal dia jelas-jelas salah, karena gw CAPRICORN tulen. Aniwei..sejak itu pula dia nggak percaya horoscope dan ramal-ramalan.

.......happy birthday…!! Semoga lo jadi orang baik dan lebih baik lagi….nothin wrong with dreaming…as you knew that future belongs only to those who believe on the beauty of their dreams…Have a good day.
Big thanks buat temen gw yang inget ulang taun gw…

December 9, 2008

Menemukan Tuhan Dalam Patung dan Lukisan

Ketika berbicara tentang sesuatu yang universal, maka itu menjadi tanpa batas(argumen pribadi). Ambil sebagai contoh, sebuah karya rupa. Yang sudah sangat akrab misalnya sebuat patung, atau sebuah lukisan. Memang karya rupa tak mesti selalu terbatas dengan seni. Apa pun itu jenisnya, ketika sebuah karya memang tidak memerlukan bahasa verbal, maka siapa pun bisa menikmati nya (jika persepsi subjektif penikmat berhubungan dengan apa yang ingin perupa sampaikan). Atau mungkin sekedar melihat dan memutuskan untuk melanjutkan melihat atau tidak dalam tataran terendahnya. Secara lebih umum meng-apresiasi. Dalam hal ini, sebuah karya rupa bisa mengeliminasi kebutuhan bahasa verbal. Mereka yang tidak berbicara dengan bahasa yang sama karena terlahir di tempat yang berbeda, dengan budaya yang beda dengan sang perupa, masih bisa mengapresiasi nya. Sedemikian pula, seorang pemahat dari Papua hasil pahatannya diterima dengan baik oleh komunitas pemahat di Canada, yang berbeda benua. Atau secara tidak langsung juga, mengeliminasi dimensi ruang. Lantas bagaimana dengan lukisan Rembrandt yang sudah berumur sekian tahun dan masih digemari dan dikagumi banyak orang, bahkan seorang pelukis zaman kini sekalipun. Ini pun memberikan argumen terleminasinya dimensi waktu.Dalam hal ini sebuah argumen muncul, bahwa sebuah seni rupa bisa mengeliminasi bahasa verbal, dimensi ruang/jarak, dan dimensi waktu. Benarkah?

Sangat subjektif memang jawaban atas pertanyaan tadi, tapi setidaknya saya cenderung membenarkan. Terlepas dari pasti banyak juga yang tidak setuju, saya melihat bahwa, sebuah seni rupa baru benar-benar diakui universalitas nya jika bisa diterima oleh banyak orang. Ada karakteristik unik dari seni rupa yang mampu diterima banyak orang. Agar karya seni tersebut bisa diterima tanpa pandang bahasa verbal, tanpa pandang dimana pun orang berada, dan tidak hanya diterima sesaat, maka seni rupa itu setidaknya harus datang asli dari sang perupa. Originalitas karya tersebut harus absolut atau tidak diragukan lagi. Menurut saya, originalitas adalah inti/essence-nya dari subjektivitas yang mampu dimanifestasikan secara fisik ke luar. Secara lebih mudah, originalitas harus berasal dari hati seseorang. Harus datang dari nurani yang terdalam, terpancar ke luar. Dan ketika sang perupa mampu menghidupkan apa yang di dalam hatinya menjadi sebuah bentuk fisik, itu membutuhkan talenta yang luar biasa, membutuhkan kerja keras, membutuhkan pengalaman, yang luar biasa yang kadang hanya sedikit orang mampu melakukannya. Di situlah letak tantangannya. Dan tentu itu semua akan tercirikan dengan sendiri nya, yang membuat orang yang melihat karya sang perupa akan lebih meng-hargai, menikmati, atau meng-apresiasinya.

Pertanyaan berikutnya adalah, originalitas yang seperti apa yang bisa diterima secara universal? Saya tidak punya jawaban pasti. Tapi sedikit tebakan saya, bahwa agar originalitas itu diterima secara universal, dia harus mewakili sebanyak mungkin orang. Tidak memihak siapa pun, tidak memiliki kepentingan apa pun selain kepentingan semua orang, karena dengan itu setidaknya ada unsur persamaan kepentingan, yang akan menimbulkan pemahaman atau bahkan rasa kepemilikan. Seperti apa? Kemanusiaan, kedamaian, keindahan, cinta, atau bentuk negatifnya.

Lantas, jika kita hubungkan dengan argumen awal. Bahwasannya karya seni rupa bisa mengeliminasi dimensi ruang, waktu dan bahasa karena ada originalitas yang universal dari sang perupa. Bisakah kita membalikan causalitas, menjadi; Jika kita mampu mengeluarkan originalitas universal kita terpancar ke luar menjadi sebuah karya fisik, Apakah karya kita mampu melewati dimensi bahasa, ruang dan waktu? Bagi saya ini sangat menarik. Karena ada kekuatan luar biasa yang ditawarkan dari kemampuan bernegosiasi dengan dimensi bahasa, ruang dan waktu

Pertanyaan kembali diulang, dengan berangkat dari pola yang sama, ketika kita tidak lagi berbicara hanya sebuah karya seni rupa. Tapi berbicara tentang kehidupan pribadi kita masing-masing. Dimana setiap hari kita tentunya berkarya, dalam skala nya masing-masing. Maka (menurut saya), apakah jika kita mampu memancarkan apa yang ada di hati kita, nurani terdalam kita ke luar, menjadi bentuk fisik (dalam manifestasinya masing-masing), kita mampu bernegosiasi dengan ruang, waktu dan bahasa? sekecil apa pun karya yang kita buat?

Bagi saya (pribadi) jawabannya adalah iya. Jawaban atas itu semua adalah iya. Sekecil apa pun yang kita kerjakan. Seminimum apa pun yang kita lakukan. Itu bisa melewati ruang, waktu, dan bahasa dengan satu syarat tentunya. Originalitas yang universal haruslah dijadikan tujuan. Keindahan, kebahagiaan, kedamaian, harus mampu kita pancarkan ke luar dalam setiap karya kita. Inilah letak keunikannya. Dimana originalitas universal menjadi tujuan. Dan sebaliknya, karena tujuan juga terletak pada originalitas, di dalam hati nurani manusia. Tujuan dan awal menyatu.

Saya sangat enggan sebenarnya menulis paragraf terakhir ini, karena kembali ini menjadi sangat subjektif. Bagi saya keindahan, kebahagiaan, kedamaian ataupun bentuk negatifnya akan bermuara menjadi satu, dalam zat yang paling representative, yaitu Dia yang satu, Tuhan. Dan ketika pernyataan tadi tentang originalitas menjadi tujuan diulang. Maka otomatis tujuan itu tergantikan menjadi Tuhan. Bukankah Tuhan sangat menghargai niat? Benar, karena di situlah originalitas berada, di dalam hati manusia, layaknya sebuah niat. Dan ketika pernyataan tentang tujuan dan awal menyatu diulang. Maka Tuhan menjadi niat kita, menyatu dalam hati nurani. Dalam kata lain, jika konsep tadi kita terapkan, maka akan terpancar sifat-sifat mulia (illahiyah), sifat-sifat Tuhan dalam diri kita ke luar menjadi bentuk fisik. Dan jika itu dilakukan oleh semakin banyak orang, maka akan semakin banyak terpancar sifat illahiyah.

Mungkinkah melewati dimensi-dimensi tadi? Mungkinkah mengeliminasi dimensi-dimensi itu ? Kembali, jawaban saya mungkin. Karena sekali lagi, Tuhan adalah sumber dimensi, Dia yang menjadi kan dimensi itu ada dan tidak ada. Maka apa yang kita perbuat, apa yang kita lakukan ketika kita mampu memancarkan originalitas universal/sifat-sifat ke-Tuhan-an dalam niat dan tujuan (awal dan akhir, tak terputus, atau berkesinambungan ; istiqomah), maka kita pasti mampu melewati dimensi-dimensi itu. Melewati dimensi ruang dan waktu, melewati semua keterbatasan fisik. Bukankah itu yang disebut kekekalan ?(sebagian dari pejelasan tentang kekekalan menyatakan demikian ; hilangnya dimensi fisik dan waktu). Bukankah itu yang dijanjikan Tuhan pula ? Kekekalan. Dan bukankah itu pula sifat Tuhan ? Maha Kekal. Menyatu dengan Tuhan?

Hanya berbagi pertanyaan. Dari satu hari saja.

[Dalam memperingati Hari Idul Adha, Dimana para manusia mengikuti sunnah Rasul, berkumpul di Arafah, layaknya hari pembalasan, dimana kesanalah kita semua akan kembali...Selamat Idul Adha]

November 9, 2008

My Dazzling Odor

Bukan salah gw kalo tentunya gw looks “dazzling” (kata-kata dazzling sebenernya gw dapat dari novel Stephanie Meyer yg lagi gw baca: vampire saga, katanya lima volume, sejauh gw baca dua volumenya (twilight dan new moon), gw gak kecewa!! Keren lah)…



Tapi bukan berarti gw ngebandingin diri gw ama Edward Cullen di tuh novel ya!! Bisa2 gw disambar petir dan ditimpukin wanita2 penggemar Edward Cullen di seluruh dunia…hehe…jaooh kale….tapi kata-kata “dazzling” itu setidaknya gw pake sebagai pengompor gw, biar pede. Betapa tidak, dua orang temen gw mo nikah, Dicky sama Fani, dua-duanya cowok, (bukan nikah sesama cowok…maksudnya, temen gw yang mo nikah itu dua, Fani dan Dicky, sama pasangannya masing2…ah ribet)…. jadi nikahnya di tempat yang berbeda, tapi yang bikin ngenes, jam resepsinya sama, pukul 11 s.d pukul 13 (haha…gw geli sendiri pake kata “pukul”, pukul arwana kaleee). Jadi sesuai rencana..gw harus membagi kehadiran gw maximal setengah jam di masing-masing tempat resepsi, satu jam di perjalanan antara dua tempat resepsi, satu jam jaga-jaga buat ngaret...(ups itu kan berarti 3 jam, 11 s.d 13 kan 2 jam: gw baru nyadar pas lagi nulis sekarang, kalo gw salah estimasi)


--Edward Cullen yang di tengah...kalo gak salah tokoh "cedric" di Harry Potter juga di peranin sama nih orang, Robert Pattinson. Filmnya mo keluar bentar lagi.

Sebenernya gak “dazzling”2 amat seeh (dazzling: mempesona, ver. Buku Saku Kamus), Cuma pake kemeja putih, dead blue denim jeans, sepatu mengkilat, plus jas light creamy brown gw, ditambah spectacle dorky gw, penegas “keganas-an” gw (kata Balsqi adik gw.. gw ganas). Tapi emang gw jarang-jarang tampil se”mature” itu, jadi teuteup gw kagum dengan penampilan gw hari itu.

Dazzling minus-1

Gw gak bawa banyak cash hari itu, (atau emang gw g punya duit..hahaha), padahal gw mo kondangan dan kudu ngasih angpau, dengan penampilan “om-om” perlente, sebaiknya dompet gw tebal dengan cash, tapi ternyata tidak. Walhasil ketika gw datang ke kondangan, gw bingung mo ngasih apa, ga mungkin kan gw ngasih amplop kosong seperti di kawinan Danan (ups..maaf mas danan…kesalahan teknis) dan berhubung gw dapet voucher belanja di Carrefour dari hasil family gathering kemaren di tanjung lesung….akhirnya gw kasih tuh voucher sebagai angpau!! Hahaha…Fani+Dewi…Dicky+Nita, if you ever find such voucher…that’s from me…happy shopping.




Dazzling minus-2

Meskipun resepsinya Dicky di gedung, tapi ternyata tema nya lebih ke “conventional” wedding, a.k.a ng-adat (bukan ngadat yang mogok, nge-adat; istilah gw), jadilah penampilan “dazzling” gw malah “overdressed” dan tenggelam di tengah kerumunan batik dan baju adat warna-warni….berasa pakai tuxedo di Hawai…dan orang-orang yang datang rame banget, jadi lah gw kepanasan!! Walhasil kucel yang ada setelah dari kawinan Dicky…niat mo “dazzling”, jas malah dibuka, dan lengan kemeja gw linting…seperti biasa.

Sesampainya di kawinan Fani, gw bingung, ternyata timing gw agak-agak berantakan, gw datang telat, acara udah mo sepi. Gw telpon genk “bocah-bocah” yang udah datang lebih dulu, ternyata mereka dah pada hang out di mall. Tapi kewajiban sosial gw menuntut gw harus teuteup datang ketemu Fani…dan temen2 LaTahzan yg udah lama gw gak ketemu karena kewajiban kapitalis gw...waauw!! beruntung deket pintu masuknya ada Ilan..salah satu senior gw di LaTahzan…langsung gw menyengir dan menyeringai….berharap Ilan melihat kedatangan gw. Tapi dia berbelok ke arah lain….dan jadilah gw di cuekin, dan tampak bodoh dengan aksi nyengir gak jelas di liatin para pager ayu dan pager bagus penjaga tamu.

Anyway ternyata Ilan berbelok ke kerumunan anak-anak LaTahzan; baguslah gw gak usah susah-susah mencari mereka…..senangnya akhirnya gw bisa ketemu mereka…Hehe meski kayaknya mereka gak seantusias gw(mungkin pada behave karena lagi acara resepsi), tapi gw seneng, ketemu orang-orang yg gw kenal setelah satu minggu di tengah2 hutan…. gw sapa satu persatu!! Dan jreng-jreng..ternyata timing gw tepat, pas gw datang pas genk LaTahzan mo photo bareng sama kedua mempelai (semacam tradisi..kalo datang ke kawinan, genk LaTahzan selalu minta jatah di photo, sebagai pelampiasan kalo kita tidak laku di photo mungkin)…”pose…take..pose take”…diambillah gambar kita bergaya se-charming mungkin (meskipun itu tidak mungkin).

Dazzling minus-more!!

Mati gaya. Itu kata-kata gw. Sesudah dari kawinan Fani, anak-anak bubar begitu saja. Dan ”bocah-bocah” gila udah pada di mall, ninggalin gw, karena mereka ga datang ke nikahannya Dicky. Yang gw inget tadi pas gw nelpon ”bocah-bocah”, mereka di Grandi. Jadilah gw meluncur ke sana. Pas gw dah mo nyampe lobby Grandi, gw sms temen gw, dan ternyata dia bukan di Grandi tapi di JACC deket Grandi...dan katanya dah mo cabut pulang ke kost2an. Sementara gw baru aja nyampe. ”Ok-lah”, itu balasan sms gw, sedikit sedih

...padahal dalam hati...”Gw berharap ketemu kalian..buat nunjukkin betapa “mempesona”nya gw hari ini, dan seperti biasa lu-lu pada bakalan gak terima, dan berpura-pura pingsan, dan mengejek-ejek gw (gw udah terbiasa, i can take that)….I miss you guys…not much time left to be spent with you, next weekend I’ll be going to my home town, I wont be able to meet you all, and the week after of course..we’re going to Bukit Tinggi for the Big Day..sedih”…sigh....(lebay mode on: gw tau kalian g akan percaya kalo gw kangen kalian, dan seperti biasa gw mungkin bakalan ditimpukin haha...really, I miss you all....)

Anyway, back to reality, akhirnya gw masuk ke Grand Indonesia. Sholat. Dan makan. (inilah akibatnya kalo datang buru-buru ke dua kawinan, yang ada malah g sempet makan). Dan ngopi. Dan nongkrong. Sendirian. Setelah akhirnya mati gaya juga, gw naik (dari food court yang emang ada di lower ground floor) ke lobby, niat mo cabut. Pas gw nyampe lobby, gw senyum sama ibu-ibu. STOP!! Klarifikasi: senyumnya spontan, bukan senyum mesum, karena ibu-ibu itu dandanannya “So..70’s”, dengan gaya rambut ngembang tinggi di sasak dan tegang (pasti dikasih hairspray), dan full make up..(pasti dia nyalon dulu sebelum ke mall)..Yang bikin gw heran, tuh ibu2 bawaannya banyak banget, nampak abis shopping abis2an..dan seperti biasa otak kreatif gw bilang…nih ibu2 mo party gila-gilaan….(ngebayangin nenek2 dengan gaya rambut seperti itu nge-dance hahaha)….Dan yang pasti dia harusnya ibu-ibu mapan, tapi kok mana pembantu-nya, masa majikan disuruh bawa bawaan segitu banyak.

--Gambar in courtesy of Ernita (Bloggernita)

Gak nyadar, ternyata gw melamun lebay ada kali lebih dari lima detik dengan gaya ngeliatin ibu2 tadi sambil berdiri sikap sempurna. Dan tiba-tiba ibu-ibu itu menatap balik gw, tangannya memberi isyarat gw mendekat, memanggil gw. Gw setengah gak sadar, bingung. “maaf bu” dalam hati, “sudah membayangkan ibu jingkrak-jingkrak…kalo ibu bisa membaca pikiran saya..dan punya ilmu hitam…maafkan pikiran liar saya…jangan rubah saya jadi kodok!! Susah nyari putri cantik yang suka naik gunung sekarang”…gw sadar lagi tapi entah kenapa, ibu-ibu jelas memanggil gw…gw seperti terhipnotis mendekat ke ibu itu.

“Tolong…supir saya bentar lagi datang, anak saya sedang ke toilet…nah tuh dia…supir saya sudah datang”, kata ibu itu dengan intonasi sangat jelas, kayknya ibu2 pejabat.

Dan gw tanpa pikir panjang, langsung bawa bantu tuh belanjaan ke mobilnya, kasian emang udah tua bawa belanjaan kok banyak amat.. sebenernya gak berat….cuma bags-nya macem-macem…dari mulai Guess…Forever 21..Giordano..Seibu…de-el-el…deh…

Tak lama gw selesai masukin barang-barang tuh ke mobil (mobilnya bagus banget…sedan hitam….bagasinya juga rapih dan wangi hahaha…g kayak mobil gw), anaknya si ibu datang…mbak-mbak plus dua anak kecil..plus satu babysiternya (kayaknya).

“Nak…punya receh nggak”, ibu-ibu itu nanya ke anaknya. Dan sontak gw langsung bingung, plus kaget, plus salting…ketika disodirin uang 50-rb an dari mbak-mbak yang ramah dan cantik (artis bukan ya!!), “makasih ya mas”, kata dia..gw cuma nyengir aj.

Dan entah kenapa tangan gw menerima itu uang, dan mereka pun berlalu.

Pas gw balik kanan, gw baru nyadar, hahahaha……….ternyata warna jas gw kurang lebih sama…(kurang lebih persis alias matching pisan) sama seragam sederetan security, door boys yang lagi sibuk di situ. Pasti tuh ibu-ibu nyangka gw salah satu dari mereka. Weks....andai ibu itu tahu kalo gw merasa ”dazzling” pagi ini, dan sebenernya gw abis dari kondangan, gak pernah kerja sampingan di situ. Anyway....at least ada ibu-ibu yang mengakui gw ”dazzling” enough to be a door boy....dan gw dapat 50rb. Hahaha…Makasih Bu, padaahal niat saya cuma bantu kok, tapi saya tau ibu banyak uang, jadi saya tidak merasa bersalah.

Thanks Ibu di Camry, B 23** TI…nomer yang mudah diingat.

Saya beli dua buah kanvas dari 50rb tadi. Dari satu hari saja.

October 27, 2008

Plaza Semanggi Dari Karet Pedurenan

Mata merah dan sedikit perih. Kaki kerasa sedikit pegel-pegel ama sesekali kesemutan. Bau badan sedikit ekstrim karena udah dua hari pola mandi gw gak standard, akibat harus berbagi satu losmen (yang cuma punya satu kamar mandi) dengan 12 orang lainnya di Tanjung Lesung. Yang meng-akibatkan gw memilih tidur di teras di gigitin nyamuk2 pantai selatan banten yang agak2 ganas.

Sebenernya bisa aja tumpuk2an kayak ikan asin bareng anak2 lain, tapi ke-katro-an gw yang gak bisa tidur di ruangan ber-AC menuntut gw terpaksa harus tidur di teras, demi kenyamanan bersama, dengan dalih perdamaian “gw tidur di teras ya…gw pengen nge-rasain damai nya suasana pantai..diselimutin suara alam”. Hahaha….padahal sumpah, pagi2 bawaannya pengen kerokan gara-gara masuk angin.

Baiklah, dan sore2 itu juga, gw udah balik lagi ke Jakarta. Kepala gw masih meratap nggak ikhlas, menyadari besok hari gw harus kerja lagi. Dan besoknya lagi gw harus terbang ke Balikpapan, mengabdi kepada republik kapitalis. Dan sekali lagi gw gak ikhlas melewatkan tuh malam dengan tidur, gak pake nyadar..tiba-tiba kaki udah melangkah aja tuh keluar dari “regeclet: republik gank lecet” tempat kost2an mewah gw.
Gw naik taksi. Duduk di depan. Kapucon sweater gw naikin, karena gw gak tahan sama AC-nya taksi (again..I hate AC!!). Supir taksi itu menyapa gw dengan ramah. Namanya Andi. Entah kenapa dia bilang “meski nama saya seperti nama Makasar, tapi saya bukan orang Makasar Mas”. Dia seolah bersikukuh kalo nama Andi itu asli nya dari makasar, gw gak ngerti dari mana dia dapat madhab itu. Karena temen gw juga ada namanya Andi Surandi dari Cikoneng, Andi Dwi Hudya dari Bogor, Andi Setiawan dari Jawa.

Keluar dari jalan karet pedurenan masuk ke casa blanca akhirnya Andi tanya, “Mau ke mana kita mas?”, gw bilang, “Ke Semanggi aja yang deket”. Dan Andi langsung mengerti dan mengambil jalan memutar ke arah semanggi.

“Mau jalan-jalan ya mas?”, nampaknya Andi ini ramah sekali.

“Enggak mas, mo makan”, gw jawab. “Ooh”, dia menimpali.

“Iya, mo makan angin”, tambah gw. Mas Andi itu cuma tersenyum renyah..dipikir2 salah juga mo tambah angin, orang lagi masuk angin, justru butuh buang angin..tapi masa gw bilang "mo buang angin", jauh2 amat buang angin ke semanggi. Akhir nya gw ralat.

“Hehe..mo makan, sekalian beli obat, lagi sakit nih, makanya pake sweater”, tegas gw.

“Aduh...lagi sakit ya mas....sakit apa?”, nampaknya dia sedikit kuatir..entah perhatian ama gw, entah takut tertular.

“Sakit jiwa”, jawab gw. Dan dia pun tertawa. Yang justru bikin gw tambah bingung, harusnya dia takut karena di taksi nya ada orang gila. Dan gw tidak berbohong, karena gw memang sakit jiwa.

Akhirnya taksi belok kiri masuk ke jalan kecil di depan Menara Sampoerna (square).

“Bagus ya mas gedung nya?”, tanya gw..sekaligus statement.

“Iya, bagus banget, yang kerja pasti orang nya kaya-kaya”, jawab Andi.

“Temen saya kerja situ mas!”, timpal gw meyakinkan karena tiba-tiba ingat ama temen satu kost2an dulu di setiabudi, Sofyan, cleaning service ISS.

“Wah keren mas”, timpal Andi.

“Iyah, keren. Tapi temen saya yang gak keren juga kerja di situ lho, sayang....dia sudah lupa nama saya..hehe”,

jawab gw, pas tiba-tiba kata-kata keren-nya Andi mengingatkan gw ke dua orang temen yang lain, yang punya perusahaan minyak di situ, Ari Iskandar dan Yogi, dua diantara sekian banyak eksekutif muda yang sangat dermawan.

“Becanda aja nih mas...”, andi menyangka gw bercanda.

Taksi udah nyampe ke jalan bercabang yang saya lupa namanya, kemudian belok kiri.

“Mas Andi udah punya anak?”, tanya gw.

“Udah, lima”, jawab dia dengan bangga.

Wah gw bener-bener kagum, padahal dia masih sangat keliatan muda, tapi sudah punya anak lima. Anak-anaknya pasti sudah menunggu dia pulang saat ini. Berharap dia bawa uang untuk uang sekolah mereka. Uang sekolah yang sangat mahal itu.

“Alhamdulillah, puji Tuhan, saya seneng Mas udah punya anak lima. Saya nggak bisa punya anak lo Mas, sedih”, ujar saya.

“Aduh..maaf kalo bikin mas tersinggung”, ada raut bersalah di wajah Mas Andi.

“Iya mas, saya belum punya istri”, jawab saya...yang tiba-tiba disambut dengan tawa mas Andi.

Entah kenapa dia ketawa, padahal saya sedih karena saya belum juga punya anak dan istri. Mungkin dia kira saya sedang becanda.

Tak lama setelah itu, Plaza Semanggi keliatan.

“Mau berhenti di lobby bawah atau lobby atas Mas?”, tanya Andi.

“Mas kita ke lobby bawah..terus jalan2 ke lobby atas terus kita muter ke lobby bawah lagi, tolong...saya masih betah di taksi ini”, jawab saya.

“Baiklah”, entah kenapa Mas Andi tiba-tiba nurut saya bilang seperti itu..mungkin sekarang dia mulai percaya kalo saya sakit jiwa..dan takut sama saya.

Dan taksi pun masuk lobby bawah plaza semanggi, berputar melewati pelataran dimana banyak orang orang seliweran dengan dandanan nya masing-masing, berhenti sebentar di lobby atas dan lanjut ke lobby bawah lagi.

Saya bilang makasih ke Mas Andi sambil menyerahkan selembar uang pecahan indonesia yang konon itu pecahan terbesar. Mas Andi bilang, “tidak ada kembalian”, saya bilang “tidak usah dikembaliin, semoga setoran hari ini cepet dapet, jadi Mas Andi bisa ketemu anak-anak Mas Andi lebih awal, makasih atas jalan-jalannya ya Mas...”

Entah apa yang ada di pikiran Mas Andi sesaat setelah saya jabat tangan dan mengucapkan salam, minta pamit untuk masuk ke plaza semanggi...semoga suatu saat saya bisa ketemu anak-anak Mas Andi dan berbuat sesuatu untuk mereka, agar mereka bisa menjadi kapitalis seperti saya.

Dari satu hari saja

October 20, 2008

Paman Kacang Minta Maaf





Gilee..gua tambah tua.

Bener banget, tapi kelakuan masih kaya gini aja...Menjelang detik2 hari kelahiran gw (versi KTP), sedikit banyak mata gw melihat ”tak hanya kulit tapi juga isi kacang” diri gw sendiri. Kayaknya kalo peribahasa tentang kulit kacang itu masih berlaku, kyaknya gw bak tanaman kacang gagal panen, ”kences: sunda” alias gak ada bijinya.

Betapa enggak, melihat ke sekililing...makhluk2 kecil itu bermunculan. Dari mulai ponakan, ponakan nya punya adik, sampai temennya ponakan juga punya adik...sampai ”ponakan setan”...pun akhirnya hadir juga. Sementara aku masih di sini-sini saja.

Dari mulai dipanggil ”paman”...sampai akhirnya ”om”....

Di kesempatan ini (ceritanya masih masa2 lebaran nih), gw mo minta maaf sama kalian semua yang TERPAKSA secara gak sengaja terlahir dan mengenal makhluk seperti gw dan terpaksa harus manggil gw ”Om” atau ”paman”....

”Daffa” ...maaf karena ”mang ain”mu ini sampe sekarang tidak pernah ngasih kamu uang jajan, saking kamu sudah tau ”mang ain” ini gak akan ngasih kamu jajan (apalagi untuk es krim), kamu sama sekali nggak ngeluh minta jajan pas kemarin nganterin mang ain ke bank..padahal disitu banyak yang jualan es krim. Mang ain cuma pengen kamu bisa lebih banyak makan betulan dibanding jajan.

”Daffa”...maaf karena ”mang ain” kmaren tidak kuat menahan ketawa pas kamu salah membaca terjemahan surat Al Falaq, pas mang ain ajarin kamu ngaji... padahal kamu sudah bilang kalo di mesjid cuma belajar baca arabnya saja..tidak dengan artinya. Mang ain cuma pengen kamu mulai sedikit mengenal al qur’an bukan saja hanya membaca...karena kamu kini sudah 6 tahun.

”Zeze Azil”..maaf karena meski kamu belum genap 2 tahun, ”mang ain” tidak pernah belikan kamu mainan, semua oleh-oleh selalu buku dan buku. Mang ain ingin tangan kecilmu itu terbiasa dengan warna, bau dan rasa buku...karena membaca adalah utama bahkan untuk orang paling mulia sekalipun.

”Zeze Azil”...maaf karena ”mang ain” tak suapin kamu, ngebiarin kamu makan berantakan..karena mang ain ingin kamu mulai belajar makan dengan tangan mu sendiri..padahal mang ain tahu kamu lapar sekali.

”Ose...Yeyen...Ayang...De Nana..De Iki..Ujan...Ofan”, maaf karena mang ain sering melarang ini dan itu...menyuruh kalian selalu gosok gigi sbelum tidur...memaksa kalian makan....dan memberi syarat menyelesaikan makan sebelum bisa main.....padahal mang ain sendiri jarang main bersama kalian...karena mang ain terlalu kaget dengan betapa cepat besarnya kalian...padahal serasa kemarin kalian semua serasa sebesar ”Zeze Azil”.

Ini yang terakhir...”Dede Khayra”..maaf kalo aku panggil ”PoSe”, kamu sama sekali tidak pantas di panggil itu. ...”Dede Khayra Nareswari Tabina", maaf kalo tiba-tiba orang asing ini membisikan beberapa ayat di tidur nyenyakmu...hanya karena "om" yang mamy-mu panggil "Ase=Adik setan" ini mengenal mamy dan abah mu dengan baik.....bisikan dengan suara yang jauh dari merdu...itu adalah fitrahmu...fitrah kita semua....semoga kamu selalu dilindungi oleh yang menciptamu..sehat selalu dan tumbuh menjadi anak yang shalehah layaknya khadijah..layaknya fathimah...layaknya aisyah...layaknya asia...layaknya maryam...

Yah..semoga kalian semua tumbuh tidak seperti "paman" atau "om" kalian ini...kalian menjadi tanaman kacang berisi ..yang isi nya kemudian menjadi bibit untuk musim tanam berikut nya...dan berikutnya lagi...

Dari Satu Hari Saja


April 25, 2008

Move off

Move on…gw harus ‘move on’. Berlari di tempat itu adalah pilihan Ka El, mesti di ingat itu. Cuma kita sendiri yang bisa memutuskan untuk tetap berlari di tempat atau tidak. Tapi kok rasa-rasanya semuanya bergerak, bukankah aku juga ikut bergerak bersama? Sudah lelah rasanya kaki ini, tapi kok aku masih saja di sini. Tak ada batas yang terlihat di depan, tak ada garis pula yang menandakan aku telah melewati sekian jauh perjalanan. Kenapa semuanya seolah-olah mengangguk setuju, mengiyakan. Tidak, jangan kau hakimi dulu perjalanan panjang ini, aku masih ter-engah-engah kehabisan napas, aku tetap berusaha berlari. Tidak, jangan kau jawab dulu pertanyaan ini, karena aku belum pasti sanggup terbelalak dengan semua kenyataan. Tapi kenapa semuanya seolah-olah mengangguk setuju, mengiyakan. Benarkah aku selama ini hanya berlari di tempat?

March 22, 2008

Mahalkah cinta itu?


Seberapa mahal? Yang jelas kocek yang dirogoh untuk sebuah kata cinta (cinta yang mana?) bisa lumayan terbilang tidak sedikit di zaman sekarang, apalagi di kota metropolitan seperti Jakarta. Dua orang yang mengaku berpacaran harus setidaknya punya modal untuk romantisme weekend dengan sekedar jalan-jalan di mall, nongkrong di café atau pergi ke bisokop. Jangan di bilang kalo soal check in (yang ini masih bisa dikategorikan pacaran atau sudah lebih menjurus ke gaya gaul yang lebih bebas? Silahkan jelaskan sendiri), jelas dipungkiri atau tidak, banyak waktu dan biaya yang terpakai untuk itu semua.

Gw bukan orang yang anti pacaran, go head dengan pilihan masing-masing. Tapi jika anda nyasar dan kebetulan mampir di sini (kesannya banyak aja yang baca blog gw), maka yang dimaksud pacaran di sini bergantung ke konteks siapa yang menjadi subjek dan siapa yang menjadi objek berpacara, jangan diartikan secara umum dan praktis dulu, bagi kaum suluk (suluk apaan sih?), mereka pun punya kekasih, dan sah-sah saja kalo saya bilang di sini bahwa mereka pun berpacaran. Siapa kekasih mereka? Bagaimana mereka berpacaran? Itulah nanti mungkin yang akan membawa ke jawaban sebenarnya cinta itu mahal nggak sih?

Keliatannya saya tidak akan menjawab secara langsung pertanyaan-pertanyaan di atas. Karena toh bisa di jawab setelah mengenal apa itu cinta yang sebenarnya ingin saya ungkapkan.
Cinta yang hakiki. Itulah yang ingin saya ungkapkan di sini.
Lho kok, jadi mereka dua orang remaja yang berpacaran sebelum menikah itu tidak memiliki cinta yang hakiki? Mmm…saya takut sekali kalo sampai salah menggunakan kata-kata karena toh saya sendiri belum ahli dalam hal cinta ini. Bagi saya, ingat bagi saya lho, bagi anda mungkin berbeda. Cinta yang hakiki adalah cinta yang sebenarnya. Cinta yang tak bisa lekang oleh waktu, tak terukur oleh dimensi, tak tertandingi oleh yang lain atau hal apa pun.

Bukan dalam artian nanti aku mendikotomikan cinta itu sendiri sedemikian cinta seolah terkotak-kota dan terbagi-bagi, tapi agar lebih terkesan damai dan tidak menyudutkan siapa pun, maka aku akan memakai pengelompokkan subjek dan penjelasan objek dalam menjelaskan cinta ini.

TAK LEKANG OLEH WAKTU.
Karena apa, karena waktu itu sendiri adalah ukuran atas berlalu nya suatu cakupan dan suatu satuan waktu. Adakah waktu itu? Siapakah yang menciptakan waktu itu? Apakah waktu itu kekal? Waktu itu ada, bergerak ke depan secara pasti (depan – masa depan) dan tercipta seiring dengan tercipta dimensi ruang itu sendiri yang juga bergerak ke depan dan meluruh, tapi apakah waktu bersifat kekal? Yang kekal itu hanya satu, yaitu Tuhan. Orang Madang mendifinisikan waktu yang kekal sebagai waktu yang sangat-sangat lama dan tak terhingga. Tapi apakah sebenarnya yang tak terhingga itu? Yang tak terhingga itu adalah Tuhan. Tak ada objek yang kekal selain Allah. Maka cinta kepada objek yang kekal (dan tiada dua-nya) adalah cinta yang hakiki.

TAK TERUKUR OLEH DIMENSI
Manusia mencintai manusia. Manusia adalah mahluk, dan mahluk itu sendiri fana. Tidak ada mahluk yang kekal. Semua mahluk itu diciptakan oleh Tuhan. Jadi tidak ada mahluk yang kekal. Dimana letaknya manusia atau dimensi manusia? Secara jasad dia terletak di bumi. Apakah bumi itu kekal? Tidak. Bumi diciptakan oleh Tuhan jadi otomatis bumi itu tidak kekal. Dan jikalau bumi ini hancur, manusia pun akan hancur (kiamat misalnya), maka tidak ada keberadaan manusia itu sendiri yang kekal. Karena yang kekal itu hanyalah Tuhan. Jadi hanya cinta kepada Tuhan lah yang tak terukur oleh dimensi. Ingat dimensi itu sendiri, diciptakan oleh Tuhan.

TAK TERTANDINGI OLEH YANG LAIN
Karena yang lain selain Tuhan itu adalah fana. Maka tak sepantasnya kita mencitai sesuatu yang fana. Hanya cinta kepada Allah lah yang hakiki. Cinta seperti inilah yang kekal, tak akan hilang dalam dimensi waktu, dan tak boleh tertandingi oleh hal yang lain. Karena apa? Karena ternyata, hanya Allah swt lah objek yang paling layak di cinta. Objek satu-satu nya yang paling haq untuk di cinta. Dia itu kekal, Dia itu tunggal, Dia itu tidak fana.


Lantas ketika merujuk kepada satu predikat mahalkah mencintai-Nya? Mahalkah ketika kita merindukan sang kekasih dan ingin bertemu dengan Nya (sang kekasih). Mahalkah ketika kita ingin menatap wajah-Nya yang Agung. Mahalkah ketika ke rindu-an itu semakin mendalam dan kita tidak bisa membendung. Bagaimana kita bisa bertemu dengan-Nya? Bagaimana kita bisa menyatu dengan-Nya? Bagaimana agar kita bisa senantiasa tetap menatap wajah-Nya? Wajah sang kekasih yang di idamkan.

Lalu bagaimana dengan cinta kepada orang tua, cinta kepada suami dari seorang istri, cinta orang tua kepada anak-nya, cinta seorang hamba kepada imam dan Nabi serta Rasul. Itu semua jangan di dikotomikan, karena toh itu sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia. Islam tidak menuntut pengikutnya untuk melupakan itu semua, justru marah merengkuhnya, karena toh islam itu sendiri berarti fitrah, sejalan dengan fitrah manusia. Adalah tidak adil jikalau islam melarang manusia untuk mencapai dan bergerak dalam fitrahnya sendiri. justru islam haruslah adil dalam konteks ini. Satu-satunya penjelasan yang bisa saya ungkapkan adalah cinta kepada selain Allah yang masih merupakan fitrah manusia haruslah dijadikan turunan atas cinta kepada Allah swt. jadi tetap cinta yang melandasi itu semua adalah cinta dalam ridha, ikhlas dan khusyuk kepada sang kekasih Allah swt. Dimana sebagai turunan tentunya tidak pernah melebihi cinta kita kepada Allah tapi tetap secara esensi dia hadir sebagai fitrah manusia.

[demikian, dari satu hari saja, di tulis ulang setelah mendengar dan membaca beberapa sumber].