March 30, 2009

Undeniable nightmare


Knife in the plane? Shocking..

Pisau di pesawat. Gw bingung, tulis nggak?..tulis atau nggak. Gw ambil resiko saja, apa pun yang akan terjadi. Akhirnya gw beranikan diri tulis topik ini di blog, meski jujur sampai saat ini gw masih stress dan bingung alias deg-degan sendiri menghadapi kenyataan aneh.
Mari kita mulai dengan, seberapa reliable sebenarnya air security khususnya dari terorisisme? Jawaban saya antara "tidak reliable" atau "entah", yang jelas saya tidak punya keyakinan cukup untuk bilang "Iya, sangat reliable". Meski mungkin nggak pernah (based on my limited knowledge) kejadian ada plane hijacking tapi tetap sebagai pengguna, keraguan dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul karena memang menyangkut keselamatan kita sendiri.
Dan tiba-tiba keraguan gw seolah terjawab, dengan jawaban yang sangat nggak gw harapkan.
Last week, gw pulang dari Balikpapan untuk long weekend ke jakarta. Dan accidentally, setelah gw nyampai rumah, gw baru nyadar kalo di tas gw ada pisau dan garpu, yang berarti itu pisau dan garpu berhasil nge-lewatin security scan/metal detector di airport Balikpapan. Wow..gw kaget, shock sekaligus amazed dan setengah gak percaya gw melakukan kebodohan yang super aneh.
Okaylah, gw gak peduli dengan garpu, toh memang itu garpu makan. Tapi pisau? Memang itu bukan butcher knife atau jedi sword-nya Star War Skywalker, just a cooking knife. Tapi somehow itu super tajam dan biasa gw pakai untuk men-slice barbeque atau meat steak dengan mudah, which means bisa dipakai buat threating orang, tapi yang jelas sekali lagi, pisau itu berhasil ngelewatin security di airport balikpapan. Nah kalo gw bawa pisau dan lolos security, bukan nggak mungkin orang lain juga!? Errgghh..gw g mau ngebayangin.
Jujur, gw sama sekali nggak bermaksud bawa itu pisau, tapi itu pisau minggu-minggu terakhir sering ada di tas gw, gara-gara gw sering order/take away steak dan di kantor gak ada pisau makan sama sekali. Dan gw emang kalo terbang balik selalu langsung dari kantor dengan hand carry hanya tas kantor gw itu. Strange..tapi juga horrifying.
What should I do? Can I sue my own government for being so incapable and moronly negligence? and stupidly endanger their own citizen? Ada yang tau dimana gw bisa complain dan ngasih feedback ke orang airport balikpapan?

March 22, 2009

Tramping plan to Milford



I always thrilled by the idea of backpacking, but at the same time always not sure If I ever gonna make it. It's not only because the amount of money that gonna be spent (i'm poor and my income is still kinda average or below average), moreover the schedule that are seem impossible to go away from office for too long. I don't know, If I really want to make it true than i have to plan it well ahead while I'm still fit/young. Okay, I'm still young (even most of friends insisted me to settle down at this age..or at least that what common people here does)....now while i'm still free for my own earning..I really want to make it happen. To be honest, this idea was trigged yesterday when I watched a program in discovery-travel&living TV-channel about "milford" in New Zealand. The view there are just so beautiful, amazing reminds me to Lord of The Ring movie kind of views, and all of the sudden I start to think again about backpacking idea. Well, I know I need to start saving for the trip, and of course getting fit; need to exercise, tramping in a cold weather need a serious level of fitness. Will I ever make it? Not sure, at least by that time, (hopefully) i will be a GFE already (means; earn more)...yeah, I have to finish this GFE business as soon as possible.

I remember my tourist trip couple years ago to Canada; around Edmonton, Jasper and Rocky Mountain. The view was breathtaking and was amazing, not to mention the fresh and unpolluted air. I really want to have that kind of experience again.







Back to the backpacking idea; New Zealand, I'm thinking the southern island part, Ford national park; Milford and some other hike spots. When? People said best time to go is november-april. So maybe early 2010. A month away from the hectic lifestyle here. Anybody care to join?
I did my own research; cost, more info about milford, more info about new zealand in general.

March 10, 2009

Tak lagi berpijak


Monday, 09 March, 2009

Hanya kau yang dekat sekarang
Berkatmu, kaki ini berpijak tidak lagi di bumi, tapi di atas awan-awan
Jiwa ini gusar, seolah melonjak-lonjak dalam ketakberdayaan
Jiwa ini ingin keluar bertemu, meraihmu
Menyadari bahwa kau sangat dekat
Seerat napas yang membungkus pasrah, tak berirama dalam dingin
Ijinkan aku kembali berpijak dalam sadar
Meski aku memang merindumu


Hanya dua jam saja, bahkan tak penuh dua jam, tepatnya satu jam empat puluh delapan menit. Tapi entah kenapa, di saat seperti ini waktu terasa bergerak lebih lambat dari seharusnya. Apakah ini yang disebut relativitas waktu? Entahlah, derap jantung terasa lebih cepat, tak lagi berkompromi dengan detik jarum jam di tangan. Oh ya, ujung-ujung jari tangan juga terasa sangat dingin. Meski jaket sudah dikenakan, entah kenapa perasaan dingin tetap menyelimuti, membuat segalanya tak nyaman. Kutambahkan selimut, yang sebenarnya tak menutupi apa pun selain menambah satu lapis tipis diatas jaket. Haus, dalam dingin, takut dan semakin takut. Mungkinkah karena rasa lapar? nampaknya tidak, sudah lebih dari cukup perut ini diisi. Majalah yang berisi gambar-gambar dengan seribu satu skenario photography yang harusnya tampak indah, sama sekali tak menarik saat ini. Saat dimana takut dan panik seolah tak bisa dibedakan. Buku cerpen yang berisi kumpulan cerita-cerita tak jelas Seno Gumira, juga tak menarik. Padahal cerita-cerita ini yang selalu melengkapi secangkir kopi pahit di gerimis senja atau panasnya siang bolong jakarta. Memaksa membacanya, seolah membuktikan kalau otak ini memang membeku, enggan melanglang ke negeri imajinasi mana pun, seolah terjebak dalam mimpi buruk, dalam panik yang berkepanjangan dan terasa terlalu nyata untuk dikalahkan imajinasi manapun. Mata ini seolah lelah, tapi tak mampu terpejam meski sudah dipaksakan, tentu tidak dengan adrenalin terpacu tinggi seperti ini, terpacu dan membuat napasku seolah berburu dengan laju pesawat ini. Laju pesawat yang tak nyaman dalam awan musim hujan, dalam petir, laju pesawat yang berguncang dalam badai. Tuhan, kau terasa begitu dekat.

(in flight GA518, my 41th flight in last 6 months)


March 8, 2009

Anomali Coffee


Gw nemuin ini coffee spot setelah baca majalah Time Out. Mm..itu cukup menjelaskan ke-tidak-gaul-an gw. Whatever, tapi akhirnya dengan berbekal nekat, naik taxi (karena gw udah gak otogenik lagi), akhirnya gw pergi ke nih coffee spot yang di tuh majalah disebut2 tempat nya asik. Namanya Anomali Coffee. Tempatnya lumayan cozy, ada free wi fi nya yang bikin dia emang enak buat nongkrong. Ngopi, sambil browsing2 lumayan enak di sini. Gw nyobain Aceh Gayo sama Papua Wamena, lumayan. Harga? sekitar 30rb an per cup. Tapi dengan free wi fi yang lumayan high speed, ngabisin waktu di sini jadi gak kerasa. Dimana? Senopati 35, Kebayoran Baru. Satu lagi yang gw suka; ada musholla-nya.

Mereka cukup punya banyak jenis coffee; Aceh gayo organic, Bali Kintamani, Lintong Mandailing, Toraja Kalosi, Java Jampit, Papua Wamena.




::Sneak peak, from the most outside spot 1st floor. The 2nd floor is also comfy. No wonder, people spend hours here



:: The non-smoking spot..


:: My view, abis ujan..



:: Gudang beans..

I love him

Friday, 06 March, 2009

Ok. Ini tulisan; fiction. Cerpen? Bukan, terlalu panjang dibilang cerpen. Gw tulis di kereta Cirebon-Gambir, setelah pagi2nya gw liat berita di SCTV(mungkin 4 taun lalu beritanya bakal kerasa lebih shocking dibanding skarang/orang udah terbiasa), terinspirasi ama counselling session-ku, psikolog atau psikiater? dua2-nya pernah gw coba.

First week of July 2008
"Mata kamu masih merah, kamu terlihat lelah. Masih belum bisa tidur?", tanya Lestari
"Masih", jawabku
"Apakah obat yang aku berikan membantu?", tanya Lestari
"Tidak", jawabku
"Ini udah ke-2 kali, apakah kamu masih tidak ingin bicara soal keluarga mu?", tanya Lestari
"Tidak", jawabku
"Baiklah, bagaimana kalo kita bicara soal kamu lagi", kata Lestari
"Aku siap", jawabku
"Apakah kamu bahagia?", tanya Lestari.
"Aku bahagia, aku bersyukur, lihatlah aku sekarang, hampir semua yang aku cita-citakan tercapai, seharusnya aku bahagia, tapi kamu tahu sendiri aku tidak mungkin datang kesini kalo aku tidak punya masalah, yang berarti aku sekarang tidak bahagia, entahlah aku selalu pikir aku bisa menyelesaikan masalah ini sendiri, seperti layaknya biasa aku lakukan dari kecil, aku kali ini juga datang ke kamu tidak untuk mencari solusi, karena kupikir hanya Tuhan dan usaha kita sendiri yang bisa memberikan solusi, aku pekerja keras, aku berorientasi ke depan, aku pandai membuat rencana dan mengikuti rencana secara matang, aku selalu bisa mencapai target, makanya aku sebenarnya harusnya bahagia, tapi entah kenapa kali ini aku sedikit di belakang target, mungkin karena itulah aku datang ke kamu?", kataku.
"Kamu bilang kamu introvert, tapi kamu seperti tidak kesusahan untuk terbuka sama aku", tanya Lestari.
"Iya, menurutku personality itu universal, ketika kita sudah memahami diri kita sendiri, kita bisa menyesuaikan karakter diri kita sesuai dengan yang lingkungan butuhkan, entahlah, itu juga salah satu kelebihan aku, aku selalu mampu menempatkan diri dengan baik, menjadi pendengar yang baik, tapi sekaligus juga pembicara yang tidak jelek, mampu menjadi teman yang menyenangkan, aku selalu bisa flexible dengan lingkungan dimana aku berada, apakah itu yang disebut kematangan emosional?", tanyaku.
"Betul, itu salah satu bentuk kematangan emosional, seseorang yang sudah tau tentang diri nya sendiri dengan baik dan mampu mencitrakan dirinya ke luar dalam image yang baik pula berarti punya self awareness yang matang, apakah kamu merasa terpaksa ketika menjadi pribadi yang menyenangkan buat teman-teman kamu, apakah kamu merasa itu sebuah keharusan?", tanya Lestari.
"Kadang-kadang aku merasa terpaksa, tapi aku tidak pernah menunjukkan itu", jawabku. "Seberapa sering kamu merasa terpaksa?", tanya Lestari.
"Sering", jawabku.
"Bagaimana dengan lingkungan keluargamu, apakah kamu juga merasa terpaksa di tengah-tengah keluarga?", tanya Lestari.
"Mmm...mungkin...tapi aku sudah terbiasa", jawabku.
"Kapan sebenarnya kamu merasa terpaksa, maksudnya ketika kondisi kamu seperti apa sebenarnya kamu merasa terpaksa?", tanya Lestari.
"Ketika aku sedang sedih, aku selalu menyembunyikan itu", jawabku.
"Apa yang membuat kamu sedih?", tanya Lestari.
"Kenapa kamu bertanya demikian?", tanyaku balik bertanya.
"Ini akan membantu aku untuk lebih memahami kamu", jawab Lestari.
"Apakah kamu enggan menceritakan kenapa kamu sedih?", tanya Lestari.
"Mungkin belum saatnya", jawabku.
"Aku tidak akan memaksa, tapi bolehkan aku tau, apakah kamu pernah bercerita seperti ini sama seseorang tentang kesedihan kamu?", tanya Lestari.
"Ya, ada beberapa teman dekatku, tapi aku tidak mau merepotkan mereka, semua orang pasti sibuk, aku tidak mau merepotkan siapa pun", jawabku.
"Sejak kapan sebenarnya kamu memaksakan diri kamu dan selalu menyembunyikan perasaan sedih kamu?", tanya Lestari.
"Sejak aku ingat", jawabku.
"Apakah itu maksudnya sejak kecil?", tanya Lestari.
"Betul", jawabku.
"Berarti, kesedihan kamu yang tidak mau kamu ceritakan itu sudah kamu rasakan sejak kecil?", tanya Lestari.
"Iya", jawabku.
"Apakah kamu sekarang sedih dan ingin menangis?", tanya Lestari.
"Iya, tapi aku tidak ingin menangis", jawabku.
"Apakah kamu ingin kita membicarakan topik lain saja?", tanya Lestari.
"Tidak, aku merasa kamu masih belum mengerti, aku harus buat kamu mengerti apa permasalahanku", jawabku.
"Tidak ada yang mengharuskan kamu apa pun, saya tidak akan memaksa kamu, kamu hanya bercerita kalo kamu mau, aku tidak akan memaksa kamu, dan kamu tidak dibebankan untuk membuat aku mengerti, karena aku bisa jadi tidak akan pernah mengerti kamu, tahukah kamu bahwa yang paling tahu itu tetap diri kita sendiri, aku hanya tau teori dan belajar dari pengalaman, mungkin aku bisa memberi kamu saran sesuai dengan pengalamanku, tapi itu kembali ke diri kamu, cuma diri kamu yang paling tau", Lestari menjelaskan.
"Diriku, dan Tuhan. Tuhan maha tau setiap bagian diri kita, aku menangis dalam gelap kepada Tuhan, cuma itu yang bisa aku lakukan", jawabku.
"Apakah kamu merasa lebih baik setelah itu?", tanya Lestari.
"Tentu saja, aku merasa sangat lega, seolah bebanku terangkat dan dadaku lapang", jawabku. "Mmm...boleh aku sedikit jelaskan bagaimana opini ku tentang kamu?", tanya Lestari
"Boleh", jawabku.
"Kamu itu pasti pekerja keras, kamu itu pasti pintar, dan kamu juga pasti berprestasi, meski kamu sendiri tidak suka memebesar-besarkan itu semua, karena kamu itu pribadi yang tidak sombong, secara akademik prestasi kamu juga pasti mengagumkan, yang membawa kamu juga jadi professional yang sukses dalam karir kamu, kamu juga seorang yang religius, kamu menjadikan agama sebagai solusi dalam kehidupan kamu, dan kamu juga sangat sabar, dan sekali lagi kamu pekerja keras", Lestari menjelaskan.
"..atas dasar apa kamu menebak aku seperti itu?", tanyaku.
"Aku hanya menebak, seperti yang aku bilang tadi, dari cara mu berbicara, dan jawaban questioner kamu dan juga dari pengalaman. Coba kasih aku 3 contoh, bberapa hal yang menurut kamu itu pencapaian yang membanggakan?", tanya Lestari
"Aku baru ber-Umroh dengan uangku sendiri, Aku menang di urutan pertama jurnal ilmiah engineering tingkat Asia Pasifik, meski aku gagal di tingkat internasional, dan aku menjadi mahasiswa terbaik di fakultas ku, meski aku gagal bersaing di tingkat universitas, menurut ku biasa-biasa saja, tidak ada yang special dari itu semua, kalo kita memang berorientasi dan merencankan itu semua dengan matang, dan bekerja keras, hasilnya pasti akan tercapai dengan sendirinya", jawabku.
"Betul, dan itu memang betul, tapi tahukan kamu kalo itu tidak mudah bagi sebagian orang?", tanya Lestari.
"Apanya yang tidak mudah, kita tahu apa yang kita mau, kita tahu apa yang kita harus lakukan, tinggal kita lakukan", jawabku.
"Betul, sekali lagi betul, itulah makanya aku bilang kamu pintar, dan berprestasi dan tahu apa yang kamu mau", kata Lestari.
"Ah biasa saja...semua orang bisa seperti saya, kalo mereka mau dan bekerja keras, banyak orang pintar di luar sana, seperti kamu Lestari", jawabku.
"Betul, dan sekali lagi perkataan saya tentang kamu tidak sombong juga betul", kata Lestari. "Ah biasa saja....saya hanya beruntung diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi seperti ini, bolehkan aku minta dosis yang lebih tinggi? Aku masih tidak bisa tidur", kataku.

Second week of July 2008
"Aku senang akhirnya kamu siap untuk berbicara lebih banyak tentang keluargamu, tapi aku semakin kuatir dengan fisik kamu, masih belum bisa tidur?"kata Lestari.
"Belum", kataku
"Baiklah, aku akan mulai bertanya tentang keluarga mu, kalo kamu keberatan dan dirasa terlalu jauh, kita bisa berhenti...Apakah kamu dekat dengan keluarga?" tanya Lestari.
"Dekat, tapi ya seperlu nya saja, aku di rumah biasanya lebih cenderung pendiam dibandingkan dengan aku biasanya sehari-hari di lingkungan kerja"' jawabku.
"Ada alasan khusus kenapa kamu lebih pendiam di rumah?", tanya Lestari.
"Nggak ada. Mungkin ini sisi lain yang aku coba tunjukkin, pada dasarnya aku memang introvert. Meskipun di kantor orang mengenal aku sebagai pribadi yang periang, semangat dan kadang penuh ide-ide gila, tapi itu semua hanya sebuah kulit yang aku coba tunjukkin untuk sandiwara", tanyaku setelah selesai menjawab.
"Apakah kamu sekarang juga sedang bersandiwara?", tanya Lestari.
"Mungkin, tapi kupikir tidak...aku percaya sama kamu Lestari", jawabku.
"Boleh aku tanya kembali soal sandiwara kamu di Rumah?", tanya Lestari.
"Tentu saja boleh, kenapa tidak?", jawabku.
"Apakah kamu bersandiwara di rumah karena kamu ingin menyembungikan sesuatu dari mereka?", tanya Lestari.
"Mmm....aku hanya ingin menjadi anak yang baik dan berbakti kepada kedua orang tua, itu setidaknya dogma yang aku terima sejak kecil dari guru ngaji ku. Tapi setelah aku besar pun aku percaya dengan dogma itu bernilai baik, bukan karena itu diungkapkan dalam Al Qur'an, yang notabene sebuah petunjuk dari Tuhan yang aku percayai, tapi karena itu juga benar adanya, itu lah fitrah, aku tidak tahu kamu mengerti fitrah atau tidak, karena kamu bukan muslim, tapi aku tahu bahwa seorang anak baru akan merasa puas kalo orang tua nya juga bahagia?", jawabku.
"Apakah orang tua mu bangga sama kamu?", tanya Lestari.
"Ibuku iya, ayahku tidak..tapi dia memang seperti itu", jawabku.
"Apa maksudmu dengan kata-kata 'sperti itu' tentang ayahmu", tanya Lestari.
"Mm....dia tidak peduli dengan apa yang aku lakukan. Seingatku dia tidak pernah peduli. Mungkin karena aku tidak pernah menjadi orang yang dia harapkan", jawabku.
"Mm....dari mana kamu tau kalo kamu tidak pernah menjadi orang yang dia harapkan?", tanya Lestari.
"Entahlah..itu yang aku rasa, dari kecil aku tidak pernah dekat sama dia", jawabku.
"Kenapa, apakah dia sibuk? sering bepergian di luar kota? atau dia sering berdinas di luar rumah?", tanya Lestari.
"Biasa aja sebenarnya, dia pegawai negeri, dia tidak begitu sering bepergian, dia di dinas pertanian, tapi dia keras, dia tidak pernah bisa basa-basi", jawabku.
"Apakah ayah kamu pemarah?", tanya Lestari.
"Mm...iya", jawabku.
"Apakah dia pernah marah sama kamu?", tanya Lestari.
"Semasa kecil? sering...dia sering bilang saya nakal", jawabku.
"Apakah kamu merasa kalo kamu nakal?", tanya Lestari.
"Entahlah, padahal aku rajin belajar ngaji setiap hari, aku pergi ke sekolah tidak pernah bolos, aku juga tidak pernah berantem sama anak-anak sekolah, dan nilai ku di sekolah juga bagus, aku ingat...dulu, aku minta ayahku uang untuk beli kuas, karena aku suka melukis, ayahku marah-marah, dia menendang meja di depan ku, aku juga pernah minta uang untuk meminjam buku dan dia marah-marah ....dia mengata-ngatai-ku kalo aku sebaiknya bermain seperti seperti layaknya anak-anak lain, bermain bola, bermain layangan, atau apa pun....dia bilang aku tidak seperti anak-anak lain...sekarang aku sadar, kalo memang keluarga kami miskin dan saya tidak pernah mengerti, makanya seperti yang aku sudah pernah bilang aku bekerja keras untul merubah itu semua...agar keluarg kami tidak lagi miskin", jawabku.
"Kenapa kamu tidak suka bermain dengan anak-anak lain?", tanya Lestari.
"Entahlah...aku lebih suka sendiri, dan membaca, aku tidak pandai bermain bola seperti anak-anak lain", jawabku.
"Apakah ayah kamu pernah mengajak kamu main bola? atau bermain bola bersama kamu?", tanya Lestari.
"..tidak pernah..dia selalu bilang aku lemah..", jawabku.
"Aku tidak melihat kamu lemah, kamu terlihat sangat fit", tanya Lestari.
"Sekarang iya...aku berjuang keras untuk olahraga, aku bekerja keras untuk bisa jago olahraga sejak aku SMP", kataku.
"Kenapa? apa motivasi mu?", tanya Lestari.
"...mungkin sebagian besar karena aku masih ingin membuat ayahku bangga..", kataku.
"Apakah kamu berhasil membuat ayahmu bangga?", tanya Lestari
"Oh...maksudmu sekarang? sekarang saya tidak begitu peduli, saya sudah menyerah..", jawabku.
"Apakah kamu membenci ayah kamu?", tanya Lestari.
"Sebagai seorang anak, aku harus berbakti, aku tidak boleh membenci ayahku, aku harus mencintai dia", jawabku.
"Apakah kamu mencintai dia?", tanya Lestari.
"Entahlah, sebenarnya mencintai dia ...tapi juga membenci dia, tapi aku merasa bersalah, aku menangis kepada Tuhan...entah kenapa aku tidak pernah bisa menjadi anak yang dia harapkan", jawabku.
"Mmm...menarik", kata Lestari.
"Apa yang menarik?", giliran aku bertanya.
"Apakah kamu orang yang sangat sensitif?", tanya Lestari.
"Betul, aku bahkan juga kadang intuitif, jadi sangat peka dengan perasaan orang di sekitarku", jawabku.
"Apakah ketika kamu berada dekat ayahmu, kamu bisa merasakan bahwa dia membenci kamu, makanya kamu lebih cenderung pendiam dan bersandiwara di depan keluarga mu?", tanya Lestari.
"Mungkin... seperti itu ringkasnya, karena ayahku sangat dominan di keluarga", jawabku.
"Mmm...menarik", kata Lestari.
"Apa nya yang menarik? kamu tadi tidak menjawab pertanyaanku", aku mendesak.
"Aku sedang berusaha menebak, tapi opini ku masih terlalu dini, tentu aku akan kasih tau nanti kalo aku merasa sudah lebih yakin, sekarang aku ingin melanjutkan bertanya", tanya Lestari.
"Baiklah", jawabku.
"Kamu bilang kamu punya saudara perempuan, betul?" tanya Lestari.
"Betul", jawabku.
"Apakah kamu dekat dengan dia?", tanya Lestari.
"Biasa saja, dia dekat sekali dengan ibu, mungkin karena sesama perempuan", jawabku.
"Kamu bagaimana, dekat dengan ibu?", tanya Lestari.
"Biasa saja", jawabku.
"Baiklah, dugaan saya sekarang semakin kuat, saya akan sampaikan pendapat saya tentang apa yang terjadi sama kamu", kata Lestari.
"Aku akan coba dengarkan", jawabku.
"Ayah kamu. Itu adalah sumber kenapa kamu bisa seperti sekarang ini. Kamu tidak punya figur ayah yang kamu harapkan. Kamu punya background agama yang kuat yang kamu jadikan pondasi dalam hidup, itu bagus. Tapi walau bagaimana pun, perkembangan emosi seorang anak tergantung pada kondisi keluarganya. Kamu berusaha mencari figur ayah jelas bukan dari ayahmu, bahkan di kasus kamu ekstrim, ayah kamu tidak peduli dengan kamu, dia bahkan seolah-olah benci sama kamu, atau setidaknya itu yang kamu rasakan, ayah kamu benci sama kamu, oleh karena itu juga kamu berjuang keras, untuk bisa membuat dia bangga, kamu berusaha menjadi pribadi yang ayah kamu harapkan...pribadi yang semua orang harapkan yang membuat kamu mencapai prestasi yang luar biasa...tapi ayahmu masih tidak peduli..akhirnya kamu bingung, kamu menjadi tidak fokus dan tidak yakin dengan siapa diri kamu .. Dia tidak pernah mengajak kamu bermain, dia menghardik kamu dengan kata-kata yang sangat tidak positif, dan menjadi dogma yang sangat negatif yang kamu tangkap. Tapi beruntung kamu punya pondasi agama yang kuta, kamu membalikkan energi negatif itu menjadi pembuktian diri, menjadi motivasi untuk berkarya, belajar, berprestasi...tapi masih tetap tidak juga merubah opini ayah kamu.. Akibat dari itu semua, kamu menjadi kehilangan jati diri kamu, kamu kerap bersandiwara, dan kamu kehilangan orientasi pribadi kamu yang sebenarnya. ....Kamu sholat tahajjud.... itu membuat kamu ringan, dan merasa lapang, karena kamu tidak merasa bersalah, tapi itu tidak menjadikan solusi apa pun. Karena ayah kamu sampai detik ini pun masih bersikap sama...asal kamu ketahui, orang tua mana pun di dunia harusnya merasa senang, dan bangga. Tapi ayah kamu sangat egois, bahkan sampai saat ini. Berbeda dengan kakak kamu, dia dekat dengan ibu kamu, makanya dia mungkin bisa berbagi perasaan dengan ibu, dan saya yakin ibu kamu juga mendapatkan tekanan bathin yang sama dengan kamu. Tapi kebetulan kakak dan ibu kamu dekat satu sama lain, mereka setidaknya saling menjadi motivator satu sama lain. Tapi tidak dengan kamu. Kamu menjadi kehilangan jati diri, kamu bingung dengan diri kamu sendiri. Itu juga yang membawa kamu sering mimpi buruk", Lestari menjelaskan.
"Benarkah seperti itu?", kataku.
"Bagaimana menurutmu?", Lestari malah balik bertanya.
"Mungkin", aku hanya bisa merenung. Bingung. Apakah aku harus sedih.
"Bagian mana yang kamu rasa tidak setuju", tanya Lestari.
"Entahlah, jauh di lubuk hatiku, aku menyetujui hampir semua kata-katamu, tapi dia itu ayahku, aku harus mencitai dia", kataku
"Betul, dan dia juga harus mencitai kamu", jawab Lestari.
"Tidak mungkin", jawabku.
"Kenapa tidak mungkin, memang berat, semuanya harus dicoba perlahan-lahan, ayah kamu harus diberi tahu, kalo tidak ini akan terus berakibat buruk sama kamu", kata Lestari.
"Tidak mungkin, ibuku sudah mencoba nya, tapi tidak berhasil. Ayahku adalah anak tunggal dari keluarga terhormat di kampungku, dia adalah orang dengan berpendidikan tertinggi di kampungku, dengan gelar Master, sementara ibuku hanyalah tamatan SMK atau mungkin sekarang disebut SMP, apalah daya ibuku, ayah tidak pernah mau mendengar siapa pun... Hmm....sangat ironi, di luar itu semua, semua orang di kampung ku memandang ayahku semakin terhormat dengan apa yang aku raih sekarang. Dengan prestasi ku sekarang", jawabku.
"Saya akan kasih tau kamu bagaimana caranya, mungkin ibu kamu tidak tahu bagaimana cara menghadapi ayah kamu, kamu harus ceritakan lebih banyak tentang ayah kamu, nanti saya akan kasih tau kamu bagaimana caranya menghadapi ayah kamu, dan merubah ini semua, saya melihat kamu sebagai korban, kamu semakin kehilangan orientasi, jiwa kamu semakin tertimbun, kamu sendiri yang bilang kamu menjadi tidak bisa tidur, kamu semakin tergantung dengan obat tidur, ini bisa dirubah", kata Lestari.
"Tidak mungkin...tidak bisa dirubah", kataku setengah membentak.
"Bisa, kamu sendiri yang bilang Tuhan itu maha segala nya. Kamu masih percaya Tuhan kan? aku tau kamu banyak menangis dan mengadu kepada Tuhan, dan inilah mungkin saatnya untuk berubah, saya memberikan kamu jalan, saya akan kasih tau kamu bagaimana menghadapi ayah kamu", kata Lestari.
"Berarti kamu yakin, bahwa keegeoisan ayahku, keangkuhan ayahku, yang membuat aku menjadi seperti ini", kataku.
"Ya...secara mental, kamu depresi, kamu tertekan, dan saya yakin kamu ingin merubah ini semua, dan kamu tidak bisa tidur...fisik kamu juga sekarang menjadi korban, keadaaan kau menjadi semakin buruk, saya tidak mau kamu menjadi ketergantungan dengan obat tidur yang saya kasih...dan saya tidak mau menaikkan lagi dosis nya meski saya liat kamu semakin parah.... apakah ada kejadian buruk akhir-akhir ini yang membuat kamu semakin depresi?", tanya Lestari.
"Ya...dia sering memukul ibuku....dia memukul keponakan-keponakan ku...", entah kenapa aku tiba-tiba ingin menangis, ya Tuhan...berat sekali cobaan ini.
Muka Lestari tiba-tiba memerah. "Kenapa?", tanya dia.
"Dia menginginkan uang tabunganku yang dipegang ibuku, dia menginginkan itu untuk naik haji...dia sangat terobsesi...seolah ingin dipuji oleh seluruh dunia, oleh semua orang di kampungku, aku tidak mengerti kenapa dia sebegitunya terobsesi, aku yakin dia tidak akan bertemu Tuhan dalam Haji nya", kataku...aku tak berdaya lagi menahan air mata, menyesali ini semua.
"Dengar, ini sudah melampaui batas, kamu harus melaporkan ini ke pihak yang berwajib", kata Lestari.
"Kamu lupa, polisi menghormati dia...", kataku sambil tak bisa menahan air mata yang kini entah kenapa terasa tak bisa lagi kukontrol segimana pun aku tidak ingin menangis.
"Kamu tinggal mengumpulkan bukti, kita adukan ke pengadilan, saya akan bantu kamu, saya kenal pengacara yang bisa bantu kumpulkan bukti, dan saya percaya dia", kata Lestari.


"Tidak usah...", kataku. Aku merasakan air mataku jatuh, tapi entah kenapa aku merasa bebas, aku ingin tersenyum, aku ingin tertawa tapi aku juga takut...entah kenapa, semua itu terasa dalam waktu bersamaan.
"Apanya yang tidak usah?", kata Lestari. Aku melihat sedikit roman bingung di ekspresi wajahnya. Wajahnya yang selalu dia buat seolah datar tak berekspresi demi kenyamanan semua pasien pasien dia.
"Kamu sudah menyelesaikan semuanya", kataku. Aku tidak lagi merasa sedih. Aku merasa bebas. Ya...aku tidak lagi bingung..Aku merasa sangat bebas. Aku tersenyum dalam sisa isakan-ku. Senyum kemenangan. Lestari tiba-tiba memandangku dalam-dalam. Dia tidak berbicara. Dia memandangku dan dia terdiam.
"Aku sudah menyelesaikan apa?", tanya Lestari.
"Kamu sudah menyelesaikan apa yang baru kamu pahami hari ini", jawabku.
"Ayahmu?", tanya Lestari.
"Ya, ibuku tidak perlu takut sekarang, berkat kamu", kataku.
"Maksudmu?", tanya Lestari, ada roman penyesalan dan ke-ingin tahuan yang besar, dan juga ketakutan.
"Obat tidur yang kamu berikan, aku kumpulkan, dan aku berikan kepada ayahku", kataku dengan penuh kemenangan.
Lestari diam.
"Semuanya?", tanya lestari dalam ketakutan.
Aku menangguk, "sekaligus".
Lestari berusaha menarik napas dalam-dalam...dia menulis dalam sebuah kertas kosong dengan tulisan kapital "KAMU BISA MEMBUNUHNYA"
"Kamu membantuku" kataku.
Lestari kembali terdiam.


Pameran Gaptek


Sunday, 01 March, 2009


Seberapa gaptek gw? Gw boleh bilang...gaptek pisan. Gw masih inget dulu diketawain karena gak tau gmna cara pake itu pensil mekanik (apa pun itu namanya), yang jelas itu pensil gak di raut (gak kyak pinsil yang biasa gw pake nyalin tulisan guru ngaji gw), itu pinsil tipis, katanya lebih sering dipake buat gambar teknik. Dan gw baru tau ada pensil mekanik pas kelas-2 SMA. Yang berarti kelas satu SMA gw masih nge-raut pensil. Yah..mana ada pensil mekanik ke SMP gw yg nun jauh di kaki gunung Sawal. Tau gunung sawal gak? Cari dulu di peta, saking gak terkenalnya atau saking terpencilnya.
Gw juga diketawain pas kelas-2 SMA maen ke rumah temen gw, dan gw takut deket2 piano. Mereka bukan ketawa karena gw gak bisa maen piano, tapi ketawa karena gw takut kesetrum ama piano. Mnurut gw (kelas 2 SMA), piano itu full electrical device.
Udah deh, ngelantur nih mulai. Intinya gw gaptek, dan gw selalu gaptek. Jadi ketika weekend kemaren diajak ke pameran komputer di jakarta, barulah gw tau kalo pameran komputer zaman sekarang berarti pameran laptop berbagai merek, dan juga pameran berbagai jenis printer, ditambah alat-alat fotografi alias per-kamera-an. Jangan tanya soal kamera, ini gw gak hobi (karena g mampu beli kamera SLR), dan ke gak-hobi an gw musti diketawain ama tmen2 gw(baca: kaka Gorgor dan Mba Fit), karena gw ikut2an ngerumunin ngambil foto cewek model yang lagi dijadiin objek jepreten para fotografer yang pake kamera SLR dgn lensa canggih2..smentara gw pake kamera handphone aja...(padahal gw pede karena temen gw bilang kamera handphone gw bagus, udah 3 mega pixel)...
Tapi terus terang, kalo kita gak mau gaptek melulu, atau mau update sedikit perkembangan teknologi, datanglah ke pameran. Itu yang gw lakukan, berikut yang gw bisa sharing ya..(biasalah sharing versi gw):

1. Pameran berarti ada berbagai merek dengan berbagai spec. Jadi kalo mau tau gmna canggih nya netbook BenQ, Acer, Lenovo, Toshiba, MSI, Axioo, DELL, Sony dan lain-lain, tinggal nongkrong aja biar dapat penjelasan detail. Biar lebih seru, sekalian aja tunjukkin selebaran dari competitor..nanti mereka bisa ngejelasin dan ngejelek2in merek lain(terjemahkan sebagai memberi opini/review competitor). Misalnya yg jaga booth di Merek A bakal sungut2 ngejelasin kelebihan produk A dan dengan se enaknya ngejelek2in produk B...kalo mau lebih objektif, tinggal pindah ke booth merek B dan tanya kebalikannya. Tapi harus ingat, jangan ngadu domba-in, apalagi ampe ngasih nama kompetitor, ntar bisa2 ada lempar2an laptop antar booth pameran. Dan kalo mo dpat penjelasan bener2 tanya ama yang keliatan "geeky silicon valley" punya style..kalo ama yang kren2 (SPG cantik2 itu) paling2 di senyumin doang, ditanya ini baterenya berapa cell? pasti dia kelimpungan, lgsung cari back up-an. Tapi ya kalo mau sedikit hiburan boleh2 juga deket2in SPG, tapi tanya-nya simple2 aja..harganya berapa? kalo yang ini warnanya apa aja? garansi gak? pokoknya pertanyaan2 gak penting...seperti gak pentingnya kita nanya2..
2. Pameran berarti banyak orang, kalo kita ketauan melakukan pertanyaan bodoh kita gampang kabur/pergi, dan menyelinap ke kerumunan tanpa diketahui, asal jangan deket-deket pojok yang sama aja. Kayak gw nanya, "Mas ini harddisk-nya berapa GigaHertz ya?", atau "Ini Netbook ada DVD-RW nya kan?", nah kalo pertanyaan2 itu keluar dan mendapat renyutan dahi sambil sunggingan sinis senyum dari yang jaga booth, segeralah kabur karena dia kebingungan gmna ngejawab tanpa nunjukkin betapa bodohnya calon customer nya, dan kalo gak kabur pun "you're busted" as "oot" master. Ngerti kan? Nggak ngerti...coba aja tanyain itu ke temen yang jago komputer...end wellcome to the club.

3. Pameran berarti banyak diskon, jadi kalo suka diskon ini saatnya tawar-menawar berlaku. Satu brand itu bisa dari berbagai retailer, atau wholeseller, kecuali emang mereka udah matok harga pas di selebaran sebagai harga resmi, kadang ada yang ngasih tawaran 100rb atau 200rb lbh murah. Jadi jangan ragu nawar, atau minta tambahan bonus, minta soft case laptop, minta payung atau apapun.

anyway...meski gw pegel2 banget dan kpanasan..pengetahuan gw nambah dikit, dan dengan seribu satu pertimbangan: setelah melakukan direct observation soal spec netbook (yg kurang lebih sama aja), style (sisi artistic itu perlu meski dalam urusan techno...netbook yg terlalu bulky dan gak handy, gak ergo udah gak zaman lagi), budget controlling (duit terbatas), sama sesain ama fungsi alias keperluan kita...dan call a geek-friend (yang ga mau dibilang geek) for some references..akhirnya gw mutusin beli Dell Mini 9...Mudah2an ini bisa sedikit ngurangin gaptek gw soal Netbook atau perkomputer-an.

Texting Munyuk-Munyuk


Friday, 27 February, 2009
Hmm..udah lama gak maen tenis, siapa ya yang kira-kira weekend ini ada di jakarta. Gw cobain si monyet satu ini. "Weekend ke bandung gak? kalo gak, tenis yuk..", sent message, message delivered.
Gak lama kemudian balasan text dia masuk ke inbok gw, "ini siapa ya?"...
ya elah ni anak belagu amat mo ngerjain gw, gw baru bbrapa bulan di Balikpapan aj pake sok2an dilupain
Gw bales: "hanjrit sok iye luh, ini gw yang terkenal itu, ka-el, bujur!!", balasan gw meyakinkan, bujur=pantat/sundanese), gw tebak si monyet mo ngajak main2 ...ya udah gw ladenin (gw pikir).

"Sori gak kenal", jawab si monyet pendek. (sialan kan?)...gw tau ni dia kalo lagi kumat ngerjain.
"Sok iye luh, gwe di lupain", balasan sms gw mulai sungut-sungut.
"Maaf, ga ada nomernya di phonebook", si monyet balik balas.
Aiih alasan klise..seinget gw dia gak hilang handphone akhir2 ini, gak mungkin dia gak punya nomer gw (pe de gw tinggi)..sok2an pake maaf lagi, udah berubah juga ni anak..tumben2an minta maaf...gak bangett....gw gak terima.....
"Najis..munyuk lu NYET..bagong...semut", asli gw mulai keluar...se-isi kebun sayur keluar...
"Oh nyari NYET, ini handphone lagi dipake ama pacarnya, nanti disampaikan ke NYET", jawab orang di ujung handphone si monyet.
mampus gw......kalo iya ini pacarnya dia (gw kan gak kenal2 banget) ..ketauan deh gw klo ngomong munyuk-munyuk....mati gua...bales lagi gak? apa gw telpon aja?...kalo gw telpon terus iya pacarnya si monyet yang ngangkat!! gw bisa mati kutu......bingung gw...
"maaf mbak, saya kira monyet...itu tadi munyuk2 buat monyet bukan buat mbak", message sent...handphone langsung gw matiin(gak tau knapa, gw ngrasa tuh handphone berbahaya saat itu)....gw taro di meja jauh-jauh...sambil gw pelototin tuh handphone...gak percaya ama apa yang gw lakuin....harga diri gw jatuh klo iya itu pacarnya si monyet...dan lebih jatuh lagi kalo ternyata itu si monyet yang ngerjain gw....Sak-umur-umur Kagak Bakalan gw Mo Ngajak si Monyet maen Tenis lagi...
PS: Sorry dengan tata bahasa gw yang jauh di luar kaidah atau e ye de..(jadi inget UMPTN dulu..tapi kok g berbekas gini ya pelajaran Bahasa-nya...mpun deh)


February 24, 2009

Mengkerut


Stupid me!! Yeah..


This story is all about microwave. Kalo ada guru TK zaman sekarang yang nanya ke anak-anaknya tentang “Siapa yang tahu microwave?”, pasti semua anak-anak TK bakalan ngacung berebutan. Yeah, tell me about it, klo gw berada di tengah2 mereka, gw bakalan sembunyi atau pura2 gak denger..sambil berlagak cool menyembunyikan ke-oon-an gw. Buat gw microwave barang baru. Seumur-umur gw gak pernah punya microwave, kecuali sekarang (punya company itu juga). Bagi gw urusan masak-memasak ya musti konvensional (alias original pake kompor, kalo gak pake tungku, barbeque, atau bakar-bakaran pas camping).

So, ketika skarang di rumah ada microwave, selalu gw cuekin (karena gw ga tau gmn pake-nya), gw takut ama yg namanya barang elektronik tak dikenal yang bisa memancarkan gelombang mikro itu...buat gw horror…mirip kyk invisible woman nya fantastic four yg diperanin Jessica alba ..sexy tapi creepy...atau creepy jd dibikin sexy..anyway no offense ..Jessica..huge fan..love you..

Jadi ketika gw mo ngangetin makanan, gw pake kompor. Ketika gw mo bikin indomie gw pake kompor, mo bikin scramble eggs (keren kan) gw pake kompor. Dan gw nge-claim jago masak layaknya Jamie Olivier yg yahut itu. Aiih…tpi itu semua menjadi bahan pelecehan ke-cool-an gw pas si Bagja meng-invasi rumah. Dia komplen malam2 gw bikin indomie berisik di dapur, atau pagi-pagi masak telor, dia bilang itu semua bisa dilakukan di microwave..dan whuallaa…emang iya. Dia kasih gw contoh itu semau. Hehe..see…I’m getting smart. I know how to use microwave. Dan mulai lah gw pakai microwave dengan rutin. Ampe urusan bikin kopi juga pake microwave..hehe…

Gw gak bilang gw smart ya…tp “getting smart” means ‘not quite yet’. dan ceritanya...kmaren gw nyuruh si Bibi nyuci gloves (baca: kaos tangan) yang biasa gw pake buat nge-gym, hehe…karena emang bau-nya udah beberapa derajat lebih tinggi dari ikan asin bakar (maklum keringat gw mengering dan menyatu padu dengan gaya gesek barbell dan dumbbell itu). Eh ternyata Balikpapan mendung seharian, dan pas sore-nya gw mo nge-gym itu gloves belum kering..masih di gantung ama si Bibi di belakang…

Demi tuntutan professionalitas ..gw dengan canggihnya entah kenapa mencoba “mengeringkan” gloves tersebut dengan microwave hanya untuk 15 detik saja. ..dan betapa kagetnya gw….(Stupid me!!) Yang ada malah mengkerut…Gloves gw yang machoist itu menjadi seukuran lengan/telapak tangan bayi…malu gak sih?!! Norak banget gw….mulai-lah hukum fisika gw jalan (sok2an)…gw celupin ke air, terus gw rebus…kali aja dia mau melar lagi…eh ternyata masih sama aj…pusing gw…akhirnya gw nyerah juga…ya sud…gw taro lagi di jemuran…tiba-tiba pagi-pagi si Bibi keliatan bingung….
Den(panggilan hormat Bibi ke gw=Aden=agan=juragan)…kaos tangan-nya kok rusak ya Den…aduh Bibi gak tau…kemaren Bibi cuci pake sabun…kyknya sabunnya gak cocok Den…jadi rusak gini!?”…dan dia bersungut2 minta maaf dengan muka memelas bersalah... bak.bik.buk.takut dimarahin…dan menjelaskan…

dengan lagak cool gw ngomong…"gak papa Bi…itu emang udah jelek…udah waktunya diganti…buang aja”….hwaahahahaha……….maaf Bibi…gw tak mampu mejelaskan kebodohan gw (gw masih pengen di panggil Aden yg keren hehe)…next time I promise I have to visit this web about how stuff works seblum melakukan kebodohan….

February 13, 2009

Home, not so Sweet, not my home



Track ke-5 dari albumnya Michael Bubble yang "It's time" somehow di sini populer banget. Disini? maksudnya ya di Balikpapan sini. How come?

Beberapa hari lalu, gw balik dari base ke rumah (dinas), dan sharing satu mobil dengan bebrapa kru yang baru balik dari offshore. Sore-sore, sekitar jam-5an. Gw cuma bilang langit lagi cerah, siluet sunset juga seolah semerbak karena emang balikpapan lebih ke daerah pantai yang datar.
Emang sih, gw gak terlalu banyak yang kenal sama orang2 satu mobil, gw nebak kru-kru itu pasti abis dari satu shift yang sama, keliatan dari akrab-nya becandaan mereka, meski tetep raut lelah di wajah mereka g bisa disembunyiin...pastilah cape, setidaknya mereka ngabisin beberapa minggu di tengah2 laut...somehow, tiba-tiba aja radio di mobil muterin tuh lagu-nya Michael Bubble yang "Home". Entah kenapa..begitu lagu itu mulai...semua orang yang tadinya pada bcanda-bcanda tiba-tiba ngedadak diem...ngenikmatin suara dalam-nya Michael Bubble...dan seolah kebius ama lyricnya...yang entah kenapa kerasa jujur. Jujur kalo kita sama-sama rindu rumah. jujur kalo kita sama2 lelah, penat. Dan gak ada tempat yang lebih nyaman selain rumah (rumah yang bener-bener rumah, dmana tempat orang2 yang kita sayangin tinggal).
Satu-satu nya yang koment cuman tmen gw Asil (yang bsoknya mau balik ke Algeir jemput istrinya dan balik KSA (kingdom-of-Saudi-Arabia) ktemu keluarganya), dia cuma bilang "Good song...i feel i wanna cry"
yang diikutin ama gumaman semua orang..."ya.."...atau "agree..", sambil pandangan masing-masing menerawang...sibuk dengan angan-angan masing-masing...seolah nikmatin sunset di perjalanan pulang ke rumah (dinas)..home but not so called home, but not so sweet home, as this is not our real home, just a nice cabin to sleep, and to pretend that we still have a real life and act like what real human normally does...
That's it...comment yang pendek2.
..anyhow in the end, we're bunch of guys, and we've been doing it for quite awhile...no room to be too sentimental..we're tough (trying to be tough man) ...for the poeple we love...for the future we hope...for the life we will have..

Sesampainya di rumah (dinas) gw di KBC-23. Gw sedikit jalan2 di sekitar rumah (cuma buat nikmatin sunset di belakang rumah)...with my buddy-who-is-lucky-enough-by-now since he managed to get to his (real) home this weekend a.k.a having days off....see the sneak peak of my neighborhood..the trees..the beaches, I admit it's not that bad, but still, it's not my real home. I miss my home..please let me go home...


February 10, 2009

So hate it, when come to this

Kemaren tepat-nya, berita-nya dimana-mana, dari detik, ampe kompas. Ada OSPEK IMG (Ikatan Mahasiswa Geodesi) ITB, ada yang meninggal. Kronologis-nya sendiri progressing lg ditangani. Tapi yang pasti, sebagai alumni yang dulu zaman kuliah pernah berkecimpung di komunitas himpunan itb, meski bukan IMG, turut berduka cita yang sedalam-dalamnya buat keluarga almarhum.

Terkait dengan ini semua, gw cuma berharap tidak pernah terulang lagi. Bagaimana pun kronologis kejadian-nya, apa pun hasil penyelidikan dari Polisi, apakah ada tindak pidana atau tidak, kesalahan siapa? yang jelas kejadiannya seperti ini, gw menyesalkan ini terjadi, dan sekali lagi turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.

February 9, 2009

We will not go down


I know this song has been around for awhile, but anytime I have chance to listen, my feeling cant run away sympathize for Gaza. Good song from Michael Heart. I downloaded the mp3 from his site. Thanks Michael Heart.

Here the lyrics
WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
Composed by Michael Heart

A blinding flash of white light
Lit up the sky over?Gaza?tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children?alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

February 1, 2009

Ada yang beda dari hujan kali ini

Ada yang beda dari hujan kali ini. Entah apa yang bikin beda, yang jelas gw ampe terbangun dari tidur lelah gw. Jam gw tepat nunjukkin jam 12 malam. Suara hujan malam ini bahkan ngalahin berisiknya desing mesin pesawat yang lalu lalang landing dan take off dari bandara yang jaraknya gak nyampe 10 menit dari rumah. Dulu gw selalu komplain gara-gara berisik-nya bikin gw sering terbangun dari tidur, apalagi kalo weekend, berisik suara pesawat yang nganter orang keluar masuk dari Balikpapan seolah tak berjeda. Tapi kali ini bukan berisik pesawat yang bikin gw bangun, tapi justru hujan. Hmm…apa mungkin gw udah betah tinggal di sini. Entahlah, tapi terbiasa mungkin iya. Ya iyalah…gw terbiasa, tujuh bulan sudah gw tinggal di rumah ini. Rumah besar dengan full kitchen set dan TV yang lebih panjang dari panjang badan gw, dengan beranda yang luas, sofa, empat ruang tidur. Sigh!! Kamuflage..semua-nya bukan milik gw, milik perusahaan tempat gw kerja. Kerja yang entah kenapa hari tadi bikin gw cape banget, ampe pas gw nyampe ni rumah gw ketiduran dan sekarang kebangun tengah malam buta.

Dan kenapa ni rumah gelap banget? Gw baru nyadar gelap pas gw coba melek dan nge-raba-raba meja nyari minum. Klise!! Balikpapan, kota MIGAS dengan problem listrik yang parah. Yups, malam-malam, hujan, mati lampu dan gw haus. What a perfect combination. Did I mention that I live alone in this big house? Oh ya…alone in this spooky big house. Gw mengutuk-ngutuk diri gw sendiri, nyadar kalo gw mau gak mau harus jalan ke dapur buat ngambil minum gelap-gelapan. Handphone. Gw langsung inget ama handphone. Nyala handphone bisa gw pake. What?!! HP gw mati. Gw pijit-pijit power key, yang ada HP gw bergetar-getar menggelepar (marah), ngasih tau gw kalo dia (about to die) alias abis batere. Di saat seperti ini, kenapa lu mesti abis batere!! Handphone gw emang paling tau gmn cara ngecewain gw.

Akhirnya gw paksain ngikutin insting gw, jalan dalam gelap. Hmm…gw tau rumah ini gede, tapi dalam gelap, entah kenapa jarak dari kamar gw ke ruang tengah seolah lebih jauh dari seharusnya. Belum ke dapur-nya. Hmm…demi segelas air putih, yang bisa bikin tenggorokan gw segar (dan gw bisa tidur lagi setelah itu), gw ngeraba-raba ampe ke dapur. Tiba..tiba…..bulu kuduk gw berdiri. Entah kenapa tiba-tiba kaki gw berasa dingin. Gw masih ngeraba-raba hampir masuk ke dapur. Gw bukan penakut (dalam hati), sambil refleks tiba-tiba gw jg baca-baca surat2 pendek yang gw tau, dari al ikhlas sampe an Naas diulang-ulang. Gemuruh hujan di luar masih kenceng, sesekali angin yang ngebawa hujan seolah ngehentak-hentak ngebikin genteng atap seolah pada pecah. Dan gw udah tinggal di rumah ini 7 bulan, gak ada apa-apa di rumah ini. Tapi kenapa bulu kuduk gw berdiri. Gw mulai keringat dingin. Panik mulai melanda. What?! Tiba-tiba gw ngliat sekelebat cahaya. Whala….lampu nyala.

Untung gw bukan penakut. Ya iya lah, kalo gw penakut, mana gw tahan tinggal di rumah segede itu sendirian, 7 bulan pula. Tapi kalo aja lampu tuh nggak nyala, mungkin gw bakalan tidur di sofa dapur sambil nyalain kompor dan masak indomie am bikin teh angat. Sambil nikmatin suara hujan. Jangan salah, moment pas lagi hujan buat gw moment yang pas buat menerawang. Ngenikmatin larutnya kebisingan sama suara gemericik air plus gemuruh angin. Seolah alam ber-orchestra dalam symphony megah yang jelas. Hmm…hujan. Kabar apa yang kau bawa kesini? Meski gw hanya butuh segelas air untuk bikin tenggorokan ini sejuk sebangun tidur, tentu bumi ini butuh lebih banyak air untuk kesejukan beragam penghuni-nya. Tuhan, terima kasih atas hujan malam ini, atas gelap dan terang yang kau berikan.

January 29, 2009

Discovering Nouvelle Vague


Who said that last weekend was all about IMLEK, The Chinese New Year. Buat gw, long weekend berarti escape dari rutinitas. Plus side-nya, gw diboleh-in balik ke Jakarta, yang tentunya "catching up" sama teman-teman gw. Salahsatu-nya adalah trip dinner di Urban Kitchen-nya Pacific Place, yang somehow si Paus bisa ikutan dgn ajaib-nya (dia sih klo makan2 aja ikut hehe..piss tp timing perfect pisan emang...si Paus pas landing dari Bandung pas kita ke Pacific Place)...dilanjut dengan nongkrong di di clearance/salenya AKSARA, membuahkan Megski terngiang-ngiang gak bisa tidur sama Nouvelle Vague.


Sekali denger aja Megski udah jatuh cinta aj ama tuh music yang entah-bisa-dibilang-jazz-atau-bossa-nova-tapi-enakeun-pisan, tp megski gak langsung beli tuh album yang jadinya bikin dia uring-uring-an selama weekend. Dan walhasil gw am Sonski harus nyeret dia malam-malam ke Pacific Place (dengan dandanan Megski yang pake short-original-kotak2-jahitan-asli-nyokapnya-plus-sandal-jepit:pokoknya dia gak pede abez). Meski Kaka Gor-gor ini teriak2 sepanjang jalan, menghujat2, (dia ga bisa kabur berhubung dia gak bawa duit, jd dia kudu ngikut kemana pun gw ama Sonski pergi), tapi pas udah dapet CD-nya, dia nyengir..aj.. Uwiihh..pas banget tuh didengirn sama kopi-illy-buatan-mesin-kopi-nya Sonski. Keren lah tuh music Marc Collin ama Olivier Libaux..Gw suka jg hehe..

Not all about music, weekend ini jg berhasil jalan2 di PI yang lg bernuansa imlek..misi awal si Miaww..mau nge-buktiin blog c**g ngomong itu.. ending nya malah terjebak di midnight sale...(yang ada si Miauw..kalap beli 2 sepatu), dan dilanjut ngopi di Segafredo ESPRESSO-ya FX, ampe jam 2 pagi,,,sesi curhat!! Sumpah, gw absen cuma sebulan si Miauw udah bisa bikin novel aja tuh ceritanya...tapi nyesel jg gw nyobain lungonya, harusnya gw nyobain espresso khasnya. Thanks ya Miaww, you're always fabe of course.....ending-nya yang kurang ngenak-eun karena ternyata gw di spy2 sama tuh anak punya psikopat...Euiww..yaiks..temen lo gak pisan!! Big NO..(sorry).

Kumpul2 ama Norway Girl di acara open-house nya KaSe, di Siaga...Rumahnya keren!! Kita disambut dengan Baso+kelapa muda, aiih mantap KasSe emang!!...dah lama juga kita gak ngumpul2 sama Balchu dan Poik2+(husband tentunya)...Gw jadi pengen beli rumah....tambah lucu pas liat si PoSe-Khay-bayi-4-bulan yang takut ama semua orang dan nangis tiap kali kita ktawa kenceng (ya iya lah...kita ketawanya barbar-ic-nggak-ber-Adab), tapi yang paling nakutin buat Khay...teuteup RaJuTa dgn kacamatanya. Miss..Hamzah, ngomong-ngomong cepet sembuh ye!! kalo sudah sembuh jangan terlalu "kenceng" usaha bikin "itu"nya, ntar sakit lagi..Hehe..

Here we go..gw balik ke balikpapan. Dan tiba-tiba si King-Indihe-Smell-Like-Jacob nge-wellcome gw dengan.."The 3 wells which you suggested with Well Services Team, They agree to do some workover in these wells, we need to discuss in more detail with the Well Services Manager"...hwaaa...gw langsung menyeringai!! Berarti dari project gw ini bisa ngedatangin revenue buat segment lain kalo misalnya ini bener2 jadi,,,ini bisa jadi story plot bagus buat GFE gw..cross my finger for my luck!! Mudah2an bener2 jadi...dan produksi airnya langsung turun dari workover nya......lha kok ngomongin kerjaan...hehe...have a good day semua..

January 22, 2009

Gw pusing

Gw pusing!!! (Sambil ngeluh)
Kapan sih lu gak pusing. Tiap hari pusing mulu, ngeluh mulu.
Iya sih…tapi kan lu tau, kalo gw sekedar ngeluh doang.
Tapi kalo keseringan ngeluh, orang yang denger akan bosen juga. Belajarlah bersyukur.
Belajar sih sudah, ini juga bersyukur. Mungkin klo gw lupa bersyukur, ngeluh gw lebih parah lagi dari ini.
Iya juga sih. Banyak orang yang lebih gak terkontrol daripada elu. Ngomong-ngomong kenapa sih lu pusing?
Nggak tau juga kenapa.
Musti ada sebabnya, lu nggak mungkin ujug-ujug pusing, pasti ada sebabnya.
Apa ya..beda-beda sih sebabnya.
Cari tau, mungkin beda-beda tapi kalo dirunut asal muasal masalahnya ketauan.
Boleh juga tuh ide…terus kalo gw udah tau nenek moyang masalahnya gw apain?
Ya lu cari solusi-nya.
Nah itu dia…..pusing gw cari solusinya!!! Tuh kan pusing lagi…….sialan……….

January 18, 2009

Anti Social Me


:: ST12 konser persis di belakang rumah
:: Re-run inconvinient truth di HBO, suka musiknya Melissa Etheridge
:: Re-run American idol 2009
:: Baca Paulo Coelho Witch of Portobello sampai nyasar ke blog-nya
:: Bisa juga pake coffee machine-nya

Another short weekend. Meski gw spending di balikpapan, tetep aja target gak kecapai.

Target buat nge-review ulang sekitar 50 sumur ternyata baru selesai minggu sore, padahal target-nya minggu siang udah mulai interpretasi sumur satu lagi. Ya ..ya ..gw ngomongin kerja pas weekend. Bukan karena emang gw sok rajin, tapi emang gak ada lagi yang bisa kerjain di sini. Minggu lalu coba socialize dgn orang2 D&M, nonton di XXI yang lagi happening di Balikpapan (bioskop baru buka dan satu2nya)...eh masuk ke studionya malah ketemu sama semua muka2 oil and gas. Ujung atas kanan, semua orang schlumberger, pojok kiri ampe tengah Halliburton, deretan tengah penuh orang2 TOTAL..jadi males.
Niat mo maen futsal gak jadi, karena tiba2 sabtu sore hujan deras, jd males keluar.
Tambah lagi rumah kosong, si Sujit pulang ke India, Wie Lie balik kampung juga ke China, pengen taun baru-an di sana katanya. Anatolie baru pindah rumah bawa keluarga-nya ke PMC dan gw total sendirian in the big KBC23rd house...Meski samar-samar suara konser ST12 yang persis di luar rumah kedengaran kenceng, sumpah gw kok malas traban-trubun ke sana sendirian..
Yang ada gw nonton re-run American idol (gw berasa jadi orang yang sangat2 gak bersyukur dan kecil pas liat audisi-nya Scott Macintyre, yang blind tapi gigih merjuangin hidupnya dia, punya gelar master dan bisa main musik+nyanyi..
Nonton inconvenient truth dan jatuh cinta sama soundtrack-nya "I need to wake up" Melissa Etheridge, suaranya keren, lirik-nya dalem dan ironi.
Nge-gym seperti biasa, gw lg nge-budayain 45 minutes, 5 times a week setelah kaget dengan artikelnya MH tentang penyakit jantung dan symptoms-nya yang bilang orang Fit aja bisa kena heart attack in long run, dan parahnya kakek gw meninggal kena serangan jantung, dan notabene gw punya symptom2 aneh dgn jantung gw(mungkin jg gw sedikit paranoid)..yah precaution kenapa gak?
Baca paulo coelho, witch of portobello dan googling ke blog-dia, cukup kagum dengan nih orang yg punya seribu bhasa dan filosofis beda ttg gmn mandang hidup.
Baca blog-nya Pidi Baiq, setelah sekian lama gak denger kabar dia.
Dan ini dia...akhirnya gw tau gmn cara pake mesin kopi di kantor, double scoop bikin espresso, black coffee, capucinno...haha..nih mesin kopi yang keren!! (mahal tentunya), dan akhirnya gw bisa nikmatin jg..
Hey..yah 7.03 pm got to go...time to hit the gym...then dinner....hope you all have a better weekend..a productive one...

January 14, 2009

Happy Birthday, 4 Real

Bahkan hari ini dia ulang taun pun, jangan harap dia dapat ucapan selamat dari siapa pun, mm...ada bberapa teman dekat dia yang tau, tapi dia percaya banget kalo orang hanya bakalan ingat kalo diingatkan. So here I go, happy birthday…!! Semoga lo jadi orang baik dan lebih baik lagi….nothin wrong with dreaming…as you knew that future belongs only to those who believe on the beauty of their dreams…Have a good day.
Big thanks buat temen-teman gw yang inget ulang taun gw…...Thanks buat "Smooches"nya..dan susah-susah dkirim ke backwood..…love it!!..Thanks…can’t say more.. thanks…..(haha..gw bingung pas denger ada prayer-nya gitu..haha).



Gw mo bilang “Selamat Ulang Taun” buat yang namanya Elin. Dia menamakan dirinya ke-dalam “birthday hater”. Konon, dia lahir tanggal 14-January. Tahun berapa? Sedihnya dia gak tau sampe sekarang taun berapa dia lahir. Katanya (nya disini akhiran yg gak me-refer siapa pun) zaman dia lahir itu zaman susah (sekarang juga sih). Biaya untuk buat akta lahir mahal untuk keluarga petani kecil dari daerah terpencil dan buta huruf. Makanya, pas taun 1982, pas ada keringanan pembebasan biaya pembuatan akta lahir, barulah bunda-ayah nya buat akta lahir untuk dia, dengan tanggal lahir 18-November-1982, hari yang sama mereka mendatangi kantor catatan sipil. Hmm..bahkan nama dia pun terkesan asal, disamakan dengan nama dokter yang dulu ngebantu ngelahirin dia. Yang tentunya satu-satunya dokter di daerah itu.

Memang ulang taun bukan lah tradisi untuk keluarga kecil dan sederhana seperti dia. Beranjak dari pengalaman itu, dia punya ambisi besar untuk menjadi orang yang tidak buta huruf dan sekolah. Menurut guru ngaji-nya, belajar adalah wajib dan sebagian dari iman. Dogma itu dia jadikan tekad, karena itu pula yang bakal bawa perbaikan hidup (menurut dia).

Ketika dia besar, dia tak begitu peduli dengan tanggal lahir. Tanggal lahir di raport SD-nya, berbeda dengan ijazah SMP-nya. Mungkin pas bunda dan ayahnya mendaftarkan SD, dia tak tau apa yang harus ditulis. Sampai akhirnya dia tau penggalan cerita tadi, tapi kembali, dia gak peduli, toh ulang taun tidak pernah jadi barang istimewa buat dia.

Seiring dengan tekad-nya tentang pendidikan, perjuangan akhirnya membawa dia menemukan sekolah-sekolah yang lebih baik daripada sekolah yang di kampungnya, tepatnya di kota. Dan mulai-lah dia mengenal bahwa bagi kebanyakan orang, ulang taun itu wajib dirayakan, dan diingat. Sedangkan dia punya dua tanggal lahir, 18-Nov dan 14-Jan. Dan ketika dia terpaksa harus merayakan ulang taun dia (terutama ketika dia sedang berada di komunitas baru), akhirnya dia rayakan pas tanggal 18-Nov, yang tertera di kartu identitasnya. Karena toh kalo pun menyangkal, gak ada teman-temannya yang punya waktu mau dengerin cerita panjang tak jelas, dan tanpa bukti. Tapi kadang, kalo emang dia lagi gak mood, dia bakal bilang “gw benci ulang taun, males!!” yang bikin dia bilang sendiri kalo dia “birthday hater”. Apalagi setelah pengalman dia di salah satu ulang taun, ada temen dia yang sok tau dan cerita tentang ini dan itu kalo gw itu SCORPIO banget. Pdahal dia jelas-jelas salah, karena gw CAPRICORN tulen. Aniwei..sejak itu pula dia nggak percaya horoscope dan ramal-ramalan.

.......happy birthday…!! Semoga lo jadi orang baik dan lebih baik lagi….nothin wrong with dreaming…as you knew that future belongs only to those who believe on the beauty of their dreams…Have a good day.
Big thanks buat temen gw yang inget ulang taun gw…

January 11, 2009

Jason Mraz in Java Jazz Jakarta March 2009


MRAZnation!! Finally, Jason Mraz is coming to Jakarta for the Java Jazz.. I'm so excited...even it still in upcoming 3 months ... Well at least It confirmed in his official website. Check here! I found his website is hilarious, find what I mean by hillarious, and try to turn ON your audio when you go to the website, especially in the TOUR part and you'll see what I mean...He sings!! I bet he is a funny kind of singer (no offense..in a good way of course..hey not to forget I am his big fan...I have all of his albums; and listen to his music almost all the time)...and OF COURSE We will not miss this rare chance to see him LIVE in concert. We bought the ticket already, so happy!! we got it discounted (yea..yea...I know I haven't pay..Mba Fit tunggu gajian dulu ya!! so glad that I have friends (Miauw, Gorilla, Paus, Mb Fit, Vaivai, Sonson who have same taste on Jason Mraz...MRAZNATION...yea..and willing to share credit card (gigle).
Check Jason Mraz Website
Check Java Jazz Website

hehe..as for my own credit..I just re-fresh my blog to make it more personal. Infamous Wall of my narcisisme (gigle), so many of my faces from around the world.
Sebenernya sih biasa banget. Gw gap-tek pisan sama HTML. Tapi gw baca-baca di bberapa blog orang, jadi pake template yang standard, terus kita bikin background yang kita mau, kalo gak..bisa cari ide juga di blogskin terus upload ke server photobucket, ambil URL nya dan masuk2in ke HTML, jadi deh. Hehe..maklum amatiran, jd cuma bisa ganti background, layout nya msh standard bgt...dan ini jg background size nya masih berantankan. kalo ada yang tau gmn bikin background nya itu biar sizenya pas, ksh tau ya, thanks.

January 10, 2009

2009 New Year Eve Lebay

Sorry blog. Lama gak update. Sang empu baru balik dari liburan. Natal-Tahun Baru all together jadi satu paket. Rute nya gak kira-kira, Balikpapan-Jakarta-Cirebon-Ciamis-Cirebon-Jakarta dan sekarang udah di Balikpapan lagi. Padhal kalo diitung-itung libur nya gak nyampe seminggu..tambah kjepit jadi pas dua minggu.
Apa pasal gw harus ke Cirebon, tentu karena gw kangen ama ponakan-ponakan yang bandel itu, daffa dan azril.. plus ketemu temen2 SMA di Cirebon…lama jg gak berisik bareng toa-toa mesjid itu...haha.....tapi acara re-unian terpaksa cuma setengah jalan…karena gw ngedadak kudu nge-lawat ke Ciamis, adik dari nenek gw meninggal (sifat kakek)..ya iyalah nge-dadak..masa iya meninggal direncanakan…it’s a terrible lost…dia udah kyak kakek buat gw (sedih)…tapi sakitnya emang parah.....bulak-belok Cirebon-Ciamis di hantam pulang pergi dalam dua hari, lumayan mengobati kangen ama mobil gw hehe…belum perjalanan kereta balik Cirebon-Jakarta yang terpaksa bumel-bumel duduk di gerbong barang tak ber-AC tak berlampu..akibat tiket pada abis semua..(ya iyalah libur panjang... Sigh)…tapi gw bela-bela-in kudu ke Jakarta…pengen kumpul-kumpul ama anak-anak gila...temen-temen gw...



:: Barbeque-an di belakang kost lengkap dengan panggangan dan musik (Jason Mraz)
:: Midnight a.k.a Tahun baru-an di jalan Thamrin (bukan bunderan HI ya...karena kita g nyampe)
:: Ngopi di black canyon..dan ngopi lagi (3 kali dlm seminggu ke black canyon...sigh)
:: Nongkrong di Wiwid..maklum pas malam taun baru tempat ngopi pada nutup (ya iyalah kita nyari tempat ngopi jam 2 pagi)


Anak-anak tak punya identitas (mnurut gw) yang menamakan diri macem-macem....nama bisa berganti sesuai kondisi…kalo lagi mau curhat-curhat-an..bisa jadi genk LDR (Long Distance Relationship)..meski itu gak berlaku buat gw. ..atau kalo sekedar pengen mengutuk-ngutuk kerjaan yang numpuk, yang ngebosenin ...(tapi teuteup dijalanin jg berhubung kita chicken semoa) kita bilang Club Pemberontak…atau kalo sekedar pengen mencak-mencak orang yang nyebelin, client yang mrah-mrah, bos yang reseh, kita bilang Club Pendosa…atau kalo lagi kumpul-kumpul di kamar kost-2an Genteng Ijo Residence sekedar buat nonton TV bareng atau pesen makan bareng kita bilang Genk Genteng Ijo…Genk DCS Residence atau Genk Regeclet (Republik Gank Lecet – karena arah ke kost2an kita yang sempit abez bikin mobil pada baret)…apa pun itu…mereka adalah temen-temen gw…yang bikin gw bela-bela-in ..musti.. kudu.. alias harus taun baru-an di Jakarta..
Bukan taun baru yang gw raya-in..cuma moment libur nya aja kita pake buat kumpul-kumpul...berhubung gw udah kelamaan di backwood...jd jarang ketemu ni mahluk2 gila.. Kalo si mauw aja bela-belain naek bis 18 jam dari putusibau balik ke Jakarta…gw jabanin jg jubel2an di kereta tak ber-AC (sigh..manja).

Barbeque. Itu judul-nya.
Peralatan = NIL
Pengalaman panggang-memanggang= NIL
Laper = IYA
Enak atau gak = gak peduli


Inget ya.... gak ada sponsor resmi!! Jadi..tolong jangan lupa bayar tagihan credit card gw..

Haha..niat emang..halaman parkir kita sulap jadi tempat barbeque. Thanks to Carrefour yang nyediain lengkap dari mulai panggangan, arang, ampe ke kembang api...Vivi yang seharusnya ikut misa malam..malah kabur ikut barbeque-an...Sonnya yang seharusnya nongkrong di Masjid Sunda Kelapa..entah kenapa gak kuat iman jg malah join kita (gw tebak pas taun baru Muharram dia udah i’tikaf sekarang taun baru masehi lain cerita)...Fahdut, tentu bela-belain datang ...(sok2an pake plan acara sleep over tp g jadi..malah kabur jam-3 pagi)...dia udah koar-koar seminggu sebelumnya, dengan bawaannya yang panik aja ngeliat jumlah makanan yang selalu terlihat "kurang" padahal jelas2 berlebih. Mba Fit tentu eksis..dengan supply buah Mengkudu-nya dan se-random ide2 gilanya... Si Miauw yang dah jauh-jauh datang dari Putusibau malah gak jelas..(gw maklum) karena dia lagi krisis gencatan senjata sama babi-nya....Megsqiew..tentu di garda paling depan...belanja, ngerakit panggangan ampe nyalain arang.... Puiihh...yang kita gak tau ternyata kalo bikin nyala arang itu susah..satu jam sendiri kita bikin bara arang...padahal arangnya ramah lingkungan..(dasar skill nya aja emang yg ga ada)...tapi sumpah berasa enak aja tuh daging panggang...maklum hasil kerja keras sendiri, tambah jagung bakar, brownis dari Vivi, tambah kembang api+petasan dari tetangga (lumayan gratisan..numpang liat)...tambah kembang api punya kita jg (yg g bs terbang tapi nyeremin) tambah diiringi sama Jason Mraz.

Gw gak ngerti knapa mba Fit bisa punya ide jalan kaki ke bunderan HI dari kost2an yang nyata2 di karet..tuh jauh (ada kali 5 km)...apalagi dengan perut kenyang ama daging panggang...Tapi untung mobil si lia available..dan pas banget kita nyampe jalan Thamrin midnight...(FYI. Kita ga berhasil nyampe bunderan HI karena emg kita g mau kena macet)...dan jujur buat gw yang belum pernah ngerayain Tahun baru, pengalaman kemaren lumayan unik..pas tepat jam 12 ngedadak aja lalu lintas berhenti dan semua orang keluar dari mobil...ngeliat fireworks..beda banget...wiih..jakarta-jakarta...and now..2009...Happy new year..halah-halah telat.

December 9, 2008

Menemukan Tuhan Dalam Patung dan Lukisan

Ketika berbicara tentang sesuatu yang universal, maka itu menjadi tanpa batas(argumen pribadi). Ambil sebagai contoh, sebuah karya rupa. Yang sudah sangat akrab misalnya sebuat patung, atau sebuah lukisan. Memang karya rupa tak mesti selalu terbatas dengan seni. Apa pun itu jenisnya, ketika sebuah karya memang tidak memerlukan bahasa verbal, maka siapa pun bisa menikmati nya (jika persepsi subjektif penikmat berhubungan dengan apa yang ingin perupa sampaikan). Atau mungkin sekedar melihat dan memutuskan untuk melanjutkan melihat atau tidak dalam tataran terendahnya. Secara lebih umum meng-apresiasi. Dalam hal ini, sebuah karya rupa bisa mengeliminasi kebutuhan bahasa verbal. Mereka yang tidak berbicara dengan bahasa yang sama karena terlahir di tempat yang berbeda, dengan budaya yang beda dengan sang perupa, masih bisa mengapresiasi nya. Sedemikian pula, seorang pemahat dari Papua hasil pahatannya diterima dengan baik oleh komunitas pemahat di Canada, yang berbeda benua. Atau secara tidak langsung juga, mengeliminasi dimensi ruang. Lantas bagaimana dengan lukisan Rembrandt yang sudah berumur sekian tahun dan masih digemari dan dikagumi banyak orang, bahkan seorang pelukis zaman kini sekalipun. Ini pun memberikan argumen terleminasinya dimensi waktu.Dalam hal ini sebuah argumen muncul, bahwa sebuah seni rupa bisa mengeliminasi bahasa verbal, dimensi ruang/jarak, dan dimensi waktu. Benarkah?

Sangat subjektif memang jawaban atas pertanyaan tadi, tapi setidaknya saya cenderung membenarkan. Terlepas dari pasti banyak juga yang tidak setuju, saya melihat bahwa, sebuah seni rupa baru benar-benar diakui universalitas nya jika bisa diterima oleh banyak orang. Ada karakteristik unik dari seni rupa yang mampu diterima banyak orang. Agar karya seni tersebut bisa diterima tanpa pandang bahasa verbal, tanpa pandang dimana pun orang berada, dan tidak hanya diterima sesaat, maka seni rupa itu setidaknya harus datang asli dari sang perupa. Originalitas karya tersebut harus absolut atau tidak diragukan lagi. Menurut saya, originalitas adalah inti/essence-nya dari subjektivitas yang mampu dimanifestasikan secara fisik ke luar. Secara lebih mudah, originalitas harus berasal dari hati seseorang. Harus datang dari nurani yang terdalam, terpancar ke luar. Dan ketika sang perupa mampu menghidupkan apa yang di dalam hatinya menjadi sebuah bentuk fisik, itu membutuhkan talenta yang luar biasa, membutuhkan kerja keras, membutuhkan pengalaman, yang luar biasa yang kadang hanya sedikit orang mampu melakukannya. Di situlah letak tantangannya. Dan tentu itu semua akan tercirikan dengan sendiri nya, yang membuat orang yang melihat karya sang perupa akan lebih meng-hargai, menikmati, atau meng-apresiasinya.

Pertanyaan berikutnya adalah, originalitas yang seperti apa yang bisa diterima secara universal? Saya tidak punya jawaban pasti. Tapi sedikit tebakan saya, bahwa agar originalitas itu diterima secara universal, dia harus mewakili sebanyak mungkin orang. Tidak memihak siapa pun, tidak memiliki kepentingan apa pun selain kepentingan semua orang, karena dengan itu setidaknya ada unsur persamaan kepentingan, yang akan menimbulkan pemahaman atau bahkan rasa kepemilikan. Seperti apa? Kemanusiaan, kedamaian, keindahan, cinta, atau bentuk negatifnya.

Lantas, jika kita hubungkan dengan argumen awal. Bahwasannya karya seni rupa bisa mengeliminasi dimensi ruang, waktu dan bahasa karena ada originalitas yang universal dari sang perupa. Bisakah kita membalikan causalitas, menjadi; Jika kita mampu mengeluarkan originalitas universal kita terpancar ke luar menjadi sebuah karya fisik, Apakah karya kita mampu melewati dimensi bahasa, ruang dan waktu? Bagi saya ini sangat menarik. Karena ada kekuatan luar biasa yang ditawarkan dari kemampuan bernegosiasi dengan dimensi bahasa, ruang dan waktu

Pertanyaan kembali diulang, dengan berangkat dari pola yang sama, ketika kita tidak lagi berbicara hanya sebuah karya seni rupa. Tapi berbicara tentang kehidupan pribadi kita masing-masing. Dimana setiap hari kita tentunya berkarya, dalam skala nya masing-masing. Maka (menurut saya), apakah jika kita mampu memancarkan apa yang ada di hati kita, nurani terdalam kita ke luar, menjadi bentuk fisik (dalam manifestasinya masing-masing), kita mampu bernegosiasi dengan ruang, waktu dan bahasa? sekecil apa pun karya yang kita buat?

Bagi saya (pribadi) jawabannya adalah iya. Jawaban atas itu semua adalah iya. Sekecil apa pun yang kita kerjakan. Seminimum apa pun yang kita lakukan. Itu bisa melewati ruang, waktu, dan bahasa dengan satu syarat tentunya. Originalitas yang universal haruslah dijadikan tujuan. Keindahan, kebahagiaan, kedamaian, harus mampu kita pancarkan ke luar dalam setiap karya kita. Inilah letak keunikannya. Dimana originalitas universal menjadi tujuan. Dan sebaliknya, karena tujuan juga terletak pada originalitas, di dalam hati nurani manusia. Tujuan dan awal menyatu.

Saya sangat enggan sebenarnya menulis paragraf terakhir ini, karena kembali ini menjadi sangat subjektif. Bagi saya keindahan, kebahagiaan, kedamaian ataupun bentuk negatifnya akan bermuara menjadi satu, dalam zat yang paling representative, yaitu Dia yang satu, Tuhan. Dan ketika pernyataan tadi tentang originalitas menjadi tujuan diulang. Maka otomatis tujuan itu tergantikan menjadi Tuhan. Bukankah Tuhan sangat menghargai niat? Benar, karena di situlah originalitas berada, di dalam hati manusia, layaknya sebuah niat. Dan ketika pernyataan tentang tujuan dan awal menyatu diulang. Maka Tuhan menjadi niat kita, menyatu dalam hati nurani. Dalam kata lain, jika konsep tadi kita terapkan, maka akan terpancar sifat-sifat mulia (illahiyah), sifat-sifat Tuhan dalam diri kita ke luar menjadi bentuk fisik. Dan jika itu dilakukan oleh semakin banyak orang, maka akan semakin banyak terpancar sifat illahiyah.

Mungkinkah melewati dimensi-dimensi tadi? Mungkinkah mengeliminasi dimensi-dimensi itu ? Kembali, jawaban saya mungkin. Karena sekali lagi, Tuhan adalah sumber dimensi, Dia yang menjadi kan dimensi itu ada dan tidak ada. Maka apa yang kita perbuat, apa yang kita lakukan ketika kita mampu memancarkan originalitas universal/sifat-sifat ke-Tuhan-an dalam niat dan tujuan (awal dan akhir, tak terputus, atau berkesinambungan ; istiqomah), maka kita pasti mampu melewati dimensi-dimensi itu. Melewati dimensi ruang dan waktu, melewati semua keterbatasan fisik. Bukankah itu yang disebut kekekalan ?(sebagian dari pejelasan tentang kekekalan menyatakan demikian ; hilangnya dimensi fisik dan waktu). Bukankah itu yang dijanjikan Tuhan pula ? Kekekalan. Dan bukankah itu pula sifat Tuhan ? Maha Kekal. Menyatu dengan Tuhan?

Hanya berbagi pertanyaan. Dari satu hari saja.

[Dalam memperingati Hari Idul Adha, Dimana para manusia mengikuti sunnah Rasul, berkumpul di Arafah, layaknya hari pembalasan, dimana kesanalah kita semua akan kembali...Selamat Idul Adha]